Tahukah Anda, bahwa ada banyak sekali manfaat konversi karya tulis ilmiah (KTI)? Konversi dari satu bentuk atau jenis KTI ke jenis KTI lainnya. Tentunya bukan sekedar mengubah struktur dan gaya penulisan.
Konversi ini bisa membantu memberikan manfaat bagi banyak pihak. Baik bagi penulis sendiri, maupun masyarakat luas atau pembaca. Bagi dosen, konversi KTI berbentuk nonbuku menjadi buku bisa memberikan manfaat yang lebih kompleks lagi. Apa saja? Berikut informasinya.
Profesi dosen di Indonesia memang dekat dengan kegiatan menulis karya ilmiah. Baik dalam bentuk artikel ilmiah, makalah, proposal penelitian dan PkM (Pengabdian kepada Masyarakat), laporan penelitian, buku ilmiah (buku ajar, monograf, referensi, dan book chapter), dan lain sebagainya.
Sebab seluruh KTI tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan tri dharma. Khususnya menjadi luaran dalam kegiatan penelitian dan PkM. Serta pelaksanaan tugas pendidikan. Sehingga konversi KTI bisa dikatakan sebagai agenda rutin para dosen. Berikut beberapa manfaat konversi karya tulis ilmiah menjadi buku untuk dosen:
Manfaat pertama dari konversi KTI nonbuku menjadi buku bagi dosen adalah meningkatkan capaian luaran kegiatan tri dharma. Dalam tugas penelitian, dosen memiliki kewajiban menyebarluaskan hasilnya.
Mayoritas luaran wajib kegiatan penelitian dosen saat ini adalah publikasi di jurnal ilmiah. Baik di jurnal nasional terakreditasi maupun pada jurnal internasional bereputasi.
Artikel jurnal pada luaran wajib bisa dikonversi menjadi buku monograf atau referensi. Sehingga buku hasil konversi ini merupakan luaran tambahan yang dicapai dosen. Hal ini tentu menjadi capaian bagi dosen. Sehingga hasil penelitian bisa diakses lebih banyak orang.
Jika hasil penelitian dan kegiatan PkM dosen hanya disebarluaskan dalam bentuk jurnal ilmiah atau mungkin prosiding. Maka dampaknya belum optimal. Sebab hasil kegiatan tri dharma tersebut juga bisa diakses masyarakat umum.
Salah satunya dengan dikonversi menjadi buku ilmiah. Sehingga tersedia di berbagai toko buku dan bisa dipinjam atau dibaca di tempat melalui sejumlah perpustakaan umum. Sehingga konversi KTI bermanfaat untuk meningkatkan jumlah pembaca.
Dampaknya, hasil penelitian diketahui lebih banyak orang dan dimanfaatkan secara lebih luas. Publikasi berbentuk buku hasil konversi juga meningkatkan jumlah sitasi. Sehingga bisa membantu dosen mengoptimalkan h-index di Google Scholar atau di Scopus.
Manfaat konversi karya tulis ilmiah berikutnya untuk dosen adalah mempercepat pemenuhan BKD. BKD sendiri menargetkan dosen untuk memenuhi beban kerja minimal 12 SKS per semester. Jika memangku jabatan struktural tertentu, minimal mencapai 3 SKS per semester.
Memenuhi target BKD tersebut kadang tidak selalu mudah bagi dosen. Melakukan konversi KTI nonbuku menjadi buku bisa menjadi salah satu solusinya. Sebab lewat konversi inilah dosen bisa mendapat sumber pemenuhan SKS dari dua KTI.
Misalnya luaran penelitian berbentuk jurnal ilmiah dan buku monograf. Jadi, buku monograf hasil konversi selama masih memenuhi batas kepatutan (jumlah maksimal). Maka bisa diklaim dosen saat pelaporan BKD.
Baca juga: Panduan Pengisian BKD Melalui Aplikasi SISTER bagi Dosen
Sejalan dengan manfaat konversi karya tulis ilmiah di poin sebelumnya. Tidak hanya mempercepat pemenuhan target BKD. Konversi tersebut juga bisa mempercepat kenaikan jenjang jabatan akademik dosen. Sebab memiliki nilai angka kredit.
Dalam Kepmendiktisaintek No. 39/M/Kep/2026, angka kredit publikasi ilmiah berbentuk jurnal, prosiding, buku monograf, dan referensi. Masuk ke penilaian angka kredit prestasi (AK Prestasi).
Melalui konversi, dosen tidak hanya mendapat tambahan poin dari publikasi jurnal ilmiah. Akan tetapi juga dari penerbitan buku ilmiah hasil konversi. Ditambah, angka kredit buku monograf dan referensi saat ini sama. Yakni sebesar 40 poin. Dosen pun bisa lebih mudah memenuhi AK Kumulatif untuk naik jenjang.
Berikutnya yang menjadi manfaat konversi karya tulis ilmiah menjadi buku adalah menguatkan reputasi akademik dosen. Menerbitkan buku hasil konversi menjadi bukti dosen menjalankan kewajiban tri dharma.
Sehingga dosen dikenal secara positif oleh masyarakat karena sudah profesional dan bertanggung jawab. Semakin banyak buku ilmiah diterbitkan dosen semakin kuat citra positif dosen. Sehingga konversi KTI membantu dosen menguatkan reputasi akademik.
Baca juga: Akademik Branding vs Personal Branding: Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Penting bagi Dosen?
Manfaat selanjutnya, konversi KTI menjadi buku membantu dosen memiliki peluang besar melakukan kolaborasi. Hal ini dapat terjadi karena dosen dikenal lebih luas lewat buku-buku yang diterbitkan.
Sehingga dosen juga dikenal punya kepakaran apa di suatu bidang keilmuan. Peluang menarik minat dosen dan peneliti lain menawarkan kolaborasi akan lebih tinggi.
Kolaborasi ini bisa membantu meningkatkan mutu proses dan hasil kegiatan tri dharma dosen. Khususnya pada penelitian, sehingga bisa lebih sering menembus jurnal internasional bereputasi.
Membangun rekam jejak kinerja akademik dosen lewat publikasi ilmiah tidak hanya membantu memenuhi BKD dan mendapat angka kredit. Namun juga meningkatkan peluang meraih hibah penelitian.
Mayoritas asesor hibah penelitian akan menelusuri pengalaman dan kinerja penelitian dosen pengusul. Jika ada banyak publikasi ilmiah, termasuk buku hasil konversi dan bisa ditelusuri daring. Maka peluang lolos seleksi hibah semakin besar.
Manfaat lainnya, tentu saja meningkatkan kesejahteraan dosen. Publikasi ilmiah dalam bentuk buku memberi dosen royalti. Royalti akan diterima selama buku masih terjual.
Jadi, tanpa perlu menulis buku baru sekalipun. Royalti tersebut tetap cair dan diterima oleh dosen. Karakteristik ini tentunya tidak akan dijumpai pada prosiding maupun jurnal. Sebab keduanya tidak ada royalti seperti buku.
Melalui penjelasan di atas, par dosen tentunya termotivasi untuk bisa mendapatkan manfaat konversi karya tulis ilmiah. Menariknya, ada banyak jenis KTI yang bisa dikonversi dosen menjadi buku ilmiah. Apa saja? Berikut beberapa diantaranya:
Jenis karya tulis ilmiah atau KTI pertama yang bisa dikonversi oleh dosen menjadi buku ilmiah adalah modul pembelajaran. Modul pembelajaran yang termasuk bahan ajar bisa dikonversi menjadi buku ajar.
Buku ajar juga termasuk bahan ajar dan menjadi kewajiban dosen mengembangkannya. Bedanya, modul tidak diterbitkan sebab digunakan untuk kalangan terbatas. Misalnya mahasiswa di suatu perguruan tinggi saja.
Sementara buku ajar diterbitkan dengan ISBN sehingga terbit secara nasional. Buku ajar bisa dibaca dan digunakan mahasiswa di seluruh Indonesia untuk dijadikan pegangan mengikuti perkuliahan.
Selain melakukan konversi modul menjadi buku ajar. Para dosen juga bisa mendapatkan manfaat konversi karya tulis ilmiah dengan mengubah artikel jurnal ke buku ilmiah.
Artikel ilmiah yang ditulis dosen untuk dipublikasikan di sebuah jurnal bisa dikonversi menjadi buku monograf atau buku referensi. Buku monograf akan fokus pada satu topik, pembahasan lebih mendalam. Sehingga cocok untuk dosen yang sudah memahami suatu topik.
Sementara buku referensi membahas beberapa topik di suatu bidang keilmuan. Sehingga setiap topik dibahas tidak begitu mendalam. Cocok untuk dosen yang belum memahami topik, tapi sudah memiliki hasil penelitian terkait topik tersebut. Sekaligus ingin menyebarluaskan hasil penelitian tersebut menjadi buku.
Hasil penelitian dosen juga bisa dipublikasikan dengan cara dipresentasikan ke sebuah seminar atau konferensi ilmiah. Penyelenggara konferensi seringkali mengurus publikasi artikel yang sudah dipresentasikan menjadi prosiding.
Artikel ilmiah inilah yang bisa dikonversi dosen menjadi buku. Baik itu buku monograf maupun buku referensi. Sehingga hasil penelitian bisa diketahui masyarakat luas yang memang membaca buku hasil konversi tersebut.
Jenis karya tulis ilmiah selanjutnya yang bisa dikonversi dosen menjadi buku ilmiah adalah artikel jurnal PkM. Kegiatan PkM bisa dipublikasikan atau disebarluaskan dosen dalam bentuk jurnal ilmiah. Yakni pada jurnal khusus kegiatan PkM dosen.
Artikel jurnal PkM tersebut bisa dikonversi menjadi buku monograf maupun buku referensi. Sehingga hasil kegiatan PkM bisa diketahui dan dimanfaatkan lebih banyak orang.
Hanya saja, buku hasil konversi artikel jurnal PkM tidak bisa diklaim ke BKD dan ikut penilaian angka kredit. Sebab sesuai ketentuan, buku monograf dan referensi sudah masuk ke tugas penelitian. Meskipun begitu, konversi menjadi buku bisa menjadi sarana meningkatkan visibilitas dan dampak kegiatan PkM.
Meraih manfaat konversi karya tulis ilmiah juga bisa dengan mengonversi laporan penelitian menjadi buku ilmiah. Laporan penelitian biasanya disusun dosen setelah menyelesaikan kegiatan penelitian.
Laporan ini menjadi bentuk pertanggungjawaban dosen kepada pihak-pihak yang mendukung penelitian tersebut. Baik perguruan tinggi yang menaungi, penyedia pendanaan dalam program hibah, dan sebagainya. Laporan penelitian bisa diubah menjadi buku monograf maupun buku referensi.
Jenis karya tulis ilmiah terakhir yang bisa dikonversi menjadi buku ilmiah adalah tugas akhir. Baik itu skripsi, tesis, maupun disertasi. Selain bisa dikonversi menjadi artikel jurnal ilmiah, juga bisa dikonversi menjadi buku monograf atau referensi.
Para dosen yang memiliki tugas akhir dan belum dikonversi menjadi buku. Maka bisa dipertimbangkan untuk segera dikonversi. Sebab hasil penelitian untuk tugas akhir tersebut bisa jadi dibutuhkanlah masyarakat.
Jika diterbitkan menjadi buku, maka bisa diakses mereka untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah maupun meningkatkan kualitas hidup. Sehingga tugas akhir tidak hanya berakhir sebagai koleksi perpustakaan kampus maupun koleksi pribadi di rumah.
Pada dasarnya tidak semua jenis KTI nonbuku bisa dikonversi menjadi buku. Melalui penjelasan di atas, bisa dipahami bahwa setidaknya ada 6 jenis KTI nonbuku yang bisa dikonversi menjadi buku ilmiah. Jenis mana saja yang dosen miliki? Ada baiknya dipertimbangkan untuk dikonversi menjadi buku.
Proses konversi menjadi buku tentunya tidak bisa copy paste dari naskah aslinya. Perlu ada penyesuaian atau mengubah struktur penulisan sampai gaya bahasa dan detail lainnya. Jadi, konversi pada akhirnya ikut mengasah keterampilan menulis para dosen.
Bagi dosen yang ingin melakukan konversi KTI nonbuku menjadi buku. Namun terbentur dengan waktu yang terbatas karena kesibukan akademik tinggi. Tidak perlu khawatir, karena bisa menggunakan jasa profesional. Salah satunya Layanan Konversi KTI dari Penerbit Deepublish.
Melalui layanan ini, konversi dikerjakan tim ahli dan bersertifikat BNSP. Jadi, para dosen terima beres dan bisa mengerjakan agenda akademik yang sudah menunggu. Informasi lebih rinci dan bagaimana mengakses layanan bisa mengunjungi tautan berikut https://penerbitdeepublish.com/features/layanan-konversi-kti/.
Dosen dapat meningkatkan capaian luaran tri dharma, memperluas dampak penelitian bagi masyarakat, mempercepat pemenuhan BKD, mengakselerasi pengembangan karier akademik, menguatkan reputasi profesional, serta memperoleh tambahan penghasilan pasif berupa royalti
Buku tersebut memiliki nilai angka kredit yang signifikan (misalnya 40 poin untuk monograf dan referensi), yang dapat langsung dihitung ke dalam penilaian angka kredit prestasi sehingga dosen lebih mudah memenuhi persyaratan kumulatif untuk naik jenjang jabatan.
Dosen yang memiliki kesibukan akademik tinggi dapat memanfaatkan jasa profesional seperti Layanan Konversi KTI dari Penerbit Deepublish, di mana naskah dikerjakan oleh tim ahli bersertifikat BNSP sehingga dosen bisa tetap fokus pada agenda akademik lainnya.
Referensi:
Wilayah LLDikti seperti yang diketahui terbagi menjadi 16 wilayah kerja di seluruh Indonesia. Masing-masing LLDikti…
Memiliki side hustle (kegiatan sampingan) online maupun offline, tentunya layak dipertimbangkan. Sebab dengan mengambil langkah…
Dalam menjaga mutu penyelenggaraan layanan pendidikan tinggi, Kemdiktisaintek tentunya tidak bekerja sendiri. Salah satunya adalah…
Sejak tahun 2020, sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Indikator Kinerja Utama (IKU)…
Menjaga maupun meningkatkan produktivitas dosen dalam menerbitkan buku ilmiah. Tentunya bisa mempertimbangkan untuk memiliki mitra…
Semua dosen di Indonesia tentunya memiliki keinginan sampai di puncak tangga karir akademik. Yakni dengan…