Buku monograf adalah buku ilmiah berisi hasil penelitian yang dilaksanakan oleh dosen dan fokus membahas satu topik secara mendalam. Buku ilmiah jenis ini bisa menjadi media penyebarluasan hasil penelitian dosen selain dipublikasikan lewat jurnal maupun prosiding.
Buku monograf juga menjadi sumber angka kredit dan masuk dalam penilaian AK Prestasi. Sesuai kebijakan terbaru, poin angka kreditnya sebesar 40 poin. Menyusun naskah buku monograf tentu tidak selalu mudah, maka dibutuhkan strategi agar naskah cepat selesai dan tidak terbengkalai. Berikut informasinya.
Kriteria Buku Monograf yang Mendapat Angka Kredit
Buku monograf tidak hanya wajib ditulis oleh dosen, akan tetapi juga wajib diterbitkan secara nasional. Dalam Kepmendiktisaintek No. 39/M/Kep/2026 menetapkan kriteria yang harus dipenuhi buku monograf tersebut agar diakui dalam penilaian AK Prestasi. Yaitu:
1. Sesuai Bidang Keilmuan Dosen
Kriteria yang pertama, buku monograf berisi topik yang sesuai dengan bidang keilmuan dosen. Secara umum, kriteria ini menjadi kriteria yang berlaku menyeluruh untuk semua publikasi ilmiah dosen.
Jika dosen ingin publikasi ilmiah tersebut diakui dalam penilaian AK Prestasi. Maka wajib memenuhi kriteria pertama ini dan kriteria lainnya. Jadi, pastikan dosen meneliti topik-topik yang sesuai bidang keilmuan. Sehingga buku monograf dan publikasi hasil penelitian lainnya juga sesuai.
2. Substansi Satu Topik dan Dibahas Mendalam
Kriteria kedua, buku monograf yang disusun oleh dosen memenuhi ketentuan substansi. Yakni substansi sesuai bidang keilmuan dosen dan fokus membahas satu topik secara mendalam.
Ketentuan substansi ini wajib dipenuhi, sehingga isi dari buku monograf berbeda dengan buku referensi. Hal ini akan memudahkan penyusunan naskah oleh dosen. Sekaligus proses penilaian monograf tersebut dalam AK Prestasi.
3. Terbit dengan ISBN
Kriteria ketiga, buku monograf bisa masuk penilaian AK Prestasi jika terbit dengan ISBN. Sebab buku monograf tersebut harus bisa diakses masyarakat luas. Sekaligus bisa ditelusuri tim penilai AK Prestasi dalam proses verifikasi laporan capaian kegiatan penelitian.
4. Terbit dalam Format UNESCO
Kriteria yang keempat, buku monograf yang ditulis oleh dosen dicetak dalam format ukuran UNESCO. Jadi, dosen perlu memastikan penerbit yang dipilih bisa membantu menggunakan format ukuran ini agar diakui dalam penilaian AK Prestasi.
5. Jumlah Halaman Minimal 125
Kriteria lainnya, buku monograf yang ditulis dan diterbitkan oleh dosen memenuhi jumlah halaman minimal. Sesuai kebijakan terbaru, jumlah halaman paling tidak 125 halaman. Hal ini juga berlaku untuk buku referensi.
Sebagai catatan tambahan, memahami bahwa Kepmendiktisaintek No. 39/M/Kep/2026 merupakan kebijakan baru. Maka ketentuan lebih rinci mengenai kriteria buku monograf dan detail lainnya, disarankan untuk dikonsultasikan lebih lanjut dengan Tim PAK di perguruan tinggi yang menaungi dosen.
Baca juga: Buku Monograf: Pengertian, Karektiristik, Isi, Contoh
Kesulitan yang Dihadapi Dosen dalam Menulis Buku Monograf
Menyusun strategi dalam menulis naskah buku monograf tentu bukan sekedar rutinitas. Sebab ada alasan dibalik penyusunan strategi tersebut. Salah satunya, ada banyak kesulitan yang dihadapi dosen dalam menyusun buku monograf. Diantaranya adalah:
1. Mengubah Format Hasil Penelitian Menjadi Buku Monograf
Menulis buku monograf biasanya dari proses konversi hasil penelitian. Hal ini umum dipilih oleh dosen agar tidak menulis naskah dari nol. Sebab bisa memanfaatkan data dari hasil penelitian yang telah disusun dan dipublikasikan.
Hasil penelitian yang dimaksdu disini bisa dari laporan penelitian, luaran dalam bentuk artikel prosiding, maupun artikel jurnal. Hanya saja konversi hasil penelitian menjadi monograf bukan hal yang mudah.
Tidak sedikit dosen yang kesulitan mengubah format atau strukturnya. Sebab laporan penelitian yang hanya terdiri dari beberapa lembar harus dikembangkan menjadi setidaknya 125 lembar atau halaman.
2. Skor Similarity Indeks Masih Tinggi
Kesulitan kedua dalam menyusun buku monograf dari hasil penelitian adalah skor similarity indeks yang tinggi. Setiap perguruan tinggi memiliki kebijakan terkait penetapan batas aman skor similarity indeks.
Rata-rata antara 25% sampai 35%, tergantung kebijakan internal masing-masing institusi. Dosen di bawah naungannya tentu perlu memastikan skor batas aman ini tercapai.
Sayangnya, saat mengecek di Turnitin sering mendapati skornya masih tinggi. Dosen pun kesulitan untuk menurunkan skor similarity indeks tersebut dan bisa berdampak pada naskah yang terbengkalai.
3. Sulit Konsisten dalam Menulis
Agenda akademik yang padat menciptakan kesulitan untuk konsisten menulis. Sehingga naskah buku monograf tidak kunjung selesai. Apalagi jika dosen kesulitan dalam manajemen waktu dan pekerjaan. Maka waktu yang dibutuhkan sampai naskah selesai disusun tentunya lebih lama lagi.
4. Kesulitan Memenuhi Jumlah Minimal Halaman
Kesulitan berikutnya dalam menulis buku monograf adalah memenuhi ketentuan jumlah minimal halaman. Sesuai penjelasan sebelumnya, buku monograf agar masuk penilaian AK Prestasi harus terdiri dari 125 halaman.
Jumlah ini tentunya tidak sedikit, mengembangkan hasil penelitian menjadi ratusan halaman menjadi tantangan tersendiri. Apalagi jika dosen belum terbiasa melakukan konversi KTI dan keterampilan menulis buku juga belum optimal.
5. Kesulitan dalam Menentukan Penerbit
Kesulitan lainnya adalah dalam menentukan penerbit. Penerbit di Indonesia tentunya banyak. Namun, tidak semua penerbit bisa atau menerima buku ilmiah seperti buku monograf.
Selain itu, minimnya pengalaman dosen dalam menerbitkan buku hasil penelitian semakin menyulitkan menentukan pilihan. Resiko salah pilih penerbit yang tidak berpengalaman lebih tinggi. Dampaknya, buku monograf terbit tidak sesuai standar Kemdiktisaintek.
Baca juga: Perbedaan Buku Monograf, Buku Ajar, Buku Referensi
Strategi Menyusun Buku Monograf dari Penelitian
Memahami ada banyak sekali kesulitan yang menjadi tantangan dalam menulis buku monograf. Maka dosen perlu menyusun strategi untuk mengatasi berbagai kesulitan tersebut.
Sekaligus bisa memastikan proses pengembangan naskah lancar dan cepat selesai. Berikut beberapa strategi menulis buku monograf yang bisa diterapkan:
1. Melakukan Konversi Luaran Penelitian Menjadi Buku Monograf
Menulis buku monograf akan lebih mudah dan proses pengerjaan naskah lebih cepat melalui konversi. Jadi, luaran penelitian bisa dikonversi dosen menjadi buku monograf agar tidak menulis substansi naskahnya dari nol.
Luaran penelitian yang bisa dikonversi menjadi buku monograf adalah sama-sama publikasi ilmiah. Mulai dari artikel ilmiah pada prosiding sampai artikel ilmiah pada jurnal ilmiah. Selain itu, laporan hasil penelitian juga bisa dikonversi menjadi buku monograf.
2. Menyusun Kerangka Buku Monograf
Efisiensi penulisan buku monograf bisa lebih optimal jika dosen menyusun kerangka naskah. Kerangka ini menjadi peta jalan yang memandu dosen mengembangkan setiap bab naskah buku monograf.
Menyusun kerangka juga memudahkan dosen dalam mengubah format hasil penelitian menjadi struktur buku monograf. Dosen bisa menentukan bagian dari hasil penelitian yang dikembangkan menjadi beberapa bab, subbab, subsubbab, dan seterusnya.
Sehingga format mengalami perubahan signifikan dan menyesuaikan dengan standar format atau struktur buku monograf. Meskipun menyusun kerangka juga butuh waktu. Setidaknya bisa memberi efisiensi saat penulisan naskah, sehingga tidak menyulitkan dosen mengatur waktu di tengah kesibukan akademik yang padat.
3. Menyusun Jadwal Menulis
Strategi ketiga, dosen bisa mulai menyusun jadwal menulis. Setiap dosen tentu punya kesibukan akademik tinggi. Apalagi jika menerima tugas tambahan memangku jabatan struktural tertentu.
Keterbatasan waktu menjadi situasi yang rentan dialami dosen, sehingga sulit menyediakan waktu untuk menulis buku monograf. Salah satu solusinya adalah menyusun jadwal kegiatan harian.
Kemudian menulis buku masuk di dalamnya. Pastikan mematuhi jadwal yang sudah disusun agar berdampak pada naskah yang terus berkembang, bukan stagnan. Tidak masalah jika hanya ada waktu 30 menit atau 1 jam, selama fokus dan konsisten maka naskah buku bisa segera diselesaikan.
4. Menyiapkan Referensi yang Sesuai
Efisiensi menulis buku monograf akan lebih optimal jika dosen menyiapkan referensi yang dibutuhkan. Jadi, di tengah proses menulis dosen tidak perlu mengalihkan fokus ke pencarian referensi.
Pencarian referensi bisa dilakukan sejalan dengan penyusunan kerangka buku monograf. Sehingga dosen memiliki waktu yang cukup untuk mencari dan memilih referensi yang sesuai dan tentunya kredibel.
5. Menyusun Checklist agar Kriteria Kemdiktisaintek Terpenuhi
Memahami bahwa ada beberapa kriteria dari Kemdiktisaintek yang harus dipenuhi buku monograf. Maka salah satu strategi untuk memastikan kriteria ini terpenuhi adalah menyusun checklist.
Susun daftar kriteria Kemdiktisaintek, setelah naskah diselesaikan dan masuk proses penerbitan bisa memeriksa semua kriteria dalam checklist sudah terpenuhi atau belum. Dosen bisa bekerjasama dengan penerbit untuk memenuhi checklist tersebut, sebab berkaitan erat dengan proses penerbitan.
6. Memastikan Skor Similarity Indeks Rendah
Strategi berikutnya dalam menyusun buku monograf dari hasil penelitian adalah melakukan cek similarity indeks. Pengecekan bisa dilakukan per bab, bisa juga dengan teknik lainnya.
Mengecek secara mandiri sangat penting, sehingga saat skor similarity indeks masih tinggi. Dosen bisa segera mengoreksi isi naskah. Tujuannya agar saat memasuki proses penerbitan, skor similarity indeks sudah aman. Sehingga lancar dan minim kendala.
Butuh bantuan menurunkan similarity indeks? Gunakan layanan Parafrase Similarity Deepublish di sini:
https://penerbitdeepublish.com/jasa-parafrase-turnitin/
7. Menggunakan Aplikasi Manajemen Referensi
Startegi berikutnya, adalh menggunakan teknologi dalam penulisan buku monograf. Salah satunya aplikasi manajemen referensi. Aplikasi jenis ini membantu sitasi dalam kutipan dan membuat halaman daftar pustaka otomatis.
Sehingga membantu menghindari plagiarisme, menggunakan gaya sitasi secara konsisten, dan tentunya mempercepat penyelesaian naskah. Pasalnya, menyusun sitasi dan halaman daftar pustaka dengan gaya sitasi tertentu butuh waktu. Bahkan bisa cukup lama karena ada ketentuan ketat yang menyertainya.
8. Melakukan Editing dan Penyuntingan Mandiri
Strategi selanjutnya, dosen bisa meluangkan waktu untuk melakukan editing dan penyuntingan mandiri. Tujuannya agar bisa meminimalkan kesalahan pada naskah. Baik secara substansi maupun secara teknis penulisan.
Naskah lebih enak dibaca, mudah dipahami, dan juga rapi. Hal ini akan memperbesar peluang naskah diterima penerbit. Sekaligus efisiensi dalam proses penerbitan, sebab meminimalkan revisi dari editor maupun reviewer.
Melalui penjelasan tersebut, maka bisa dipahami terdapat sejumlah kriteria yang harus dipenuhi agar buku monograf diakui dan masuk ke penilaian AK Prestasi. Mulai dari memenuhi kriteria substansi, terbit dengan ISBN, menggunakan format UNESCO, sampai jumlah halaman minimal terpenuhi. Yakni minimal di 125 halaman.
Melakukan konversi hasil penelitian menjadi buku monograf juga menjadi strategi terbaik. Sebab dosen tidak perlu menulis naskah monograf dari nol. Melainkan memanfaatkan data dari hasil penelitian yang sudah dicapai.
Membantu efisiensi dalam proses konversi tersebut, para dosen bisa menggunakan layanan Konversi KTI dari Penerbit Deepublish. Sehingga naskah dikonversi oleh tim berpengalaman dan bersertifikasi. Dosen bisa fokus menjalankan tri dharma lainnya.
Informasi lebih rinci terkait layanan Konversi KTI dari Penerbit Deepublish maupun mendaftar layanannya langsung bisa mengunjungi tautan berikut https://penerbitdeepublish.com/features/layanan-konversi-kti/.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Karena struktur laporan penelitian berbeda dengan struktur buku. Laporan penelitian cenderung singkat dan teknis, sedangkan buku monograf harus dikembangkan menjadi lebih panjang (minimal 125 halaman) dan sistematis dalam bentuk bab.
Dosen dapat memanfaatkan hasil penelitian yang sudah ada, seperti laporan penelitian, artikel jurnal, atau prosiding, lalu mengonversinya menjadi buku monograf. Cara ini jauh lebih efisien dibanding menulis dari awal. Gunakan layanan konversi KTI dari Penerbit Deepublish agar karya ilmiah Anda dapat dikonversi menjadi naskah buku siap cetak dengan cepat.
Dosen perlu melakukan pengecekan similarity secara berkala, lalu memperbaiki bagian yang terlalu mirip dengan sumber lain melalui parafrase, penambahan analisis, atau penulisan ulang dengan sudut pandang sendiri. Anda bisa memanfaatkan layanan paraphrase similarity dari Penerbit Deepublish.
Karena buku monograf memiliki nilai angka kredit tinggi (hingga 40 poin) dan menjadi salah satu strategi efektif untuk mempercepat kenaikan jabatan akademik.
Referensi:
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2026). Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 39/M/Kep/2026 Tentang Petunjuk Teknis Layanan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen. https://lldikti3.kemdiktisaintek.go.id/wp-content/uploads/2026/03/Salinan-Kepmendiktisaintek-39MKEP2026_Juknis-Layanan-Pengembangan-Profesi-dan-Karier-Dosen.pdf
- Ambil Jarak dengan Realitas: Tips Menulis Monograf Prof. Bagong Suyanto. (2022). Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga. Diakses pada 9 April 2026 dari https://s3ilmusosial.fisip.unair.ac.id/ambil-jarak-dengan-realitas-tips-menulis-monograf-prof-bagong-suyanto/
- Zulfikar, R. (2021). Menulis Buku Monograf dan Referensi. UPT Publikasi Uniska MAB Banjarmasin. https://ppj.uniska-bjm.ac.id/wp-content/uploads/2021/11/Materi-Menulis-Buku-Referensi-dan-Monograph_Rizka-Zulfikar.pdf
- 6 Tips Sukses Menulis Buku Monograf yang Wajib Dosen Ketahui. (n.d). Detak Pustaka. Diakses pada 9 April 2026 dari https://detakpustaka.com/tips-menulis-buku-monograf/








