Syarat Jurnal yang Baik Untuk Referensi Buku Ajar

buku ajar

Menulis buku ajar tidak seperti halnya menulis buku pada umumnya. Buku ajar ditulis berdasarkan referensi dan patokan kurikulum yang sudah ada.

Semakin banyak referensi yang berkredibel, semakin memberikan nilai lebih pada yang ditulis. Referensi yang banyak menunjukan kekayaan sumber ilmu yang terkandung di dalamnya. Harapannya pun, dari segi isi juga tidak berbelit-belit dan memang padat informasi.

Berbicara tentang referensi. Referensi paling umum digunakan berbentuk buku. Baik itu jenis buku ajar, ataupun buku umum yang sifatnya tematik. Namun, tidak menutup kemungkinan, referensi yang digunakan berupa jurnal. Dibandingkan panjangnya, jurnal dan buku memang berbeda jauh dari ketebalan isi. Jika dilihat dari sisi lain, jurnal lebih uptudate daripada buku.

Jurnal digunakan sebagai referensi buku ajar karena dari hasil penelitian tersebut akan ditemukan penemuan-penemuan baru. Dari hasil penemuan tersebut dapat digunakan sebagai pembanding antara referensi satu dengan yang lain, sehingga kekayaan berbahasa, kekayaan informasi semakin memperkaya pembaca melihat suatu hal dari banyak sudut pandang. Tidak melulu melihat pada satu sudut pandang.

Kemajuan teknologi dan informasi, proses mendapatkan berbagai bentuk jurnal semakin mudah. teknologi menyediakan akses tidak terbatas, siapa saja bisa mendapatkan dengan cara percuma, asal tahu carannya. Sebagai referensi menulis buku, setidaknya ada beberapa unsur penilaian jurnal. Mengingat kebebasan teknologi juga memberikan dampak terhadap standar jurnal yang belum terindeks dengan baik.

Penilaian ini bertujuan meminimalisir pengelolaan berkala ilmiah yang belum terindeks. Bebasnya jurnal yang tersebar, tidak berarti semua jurnal memiliki kredibilatas dan isi mutu yang bagus. Sehingga muncullah paradigma manajemen pengelolaan jurnal secara elektronik maupun cetak. Penilaian terbitan jurnal secara berkala setidaknya memenuhi mutu minimum. Diharapkan, dari penilaian ini mampu memberikan imbal balik antara peneliti/penulis/akademisi dan masyarakat yang saling menguntungkan, untuk pembangunan Indonesia.

Unsur Penilaian Bobot Jurnal

Sekitar terdapat delapan unsur bobot penilaian yang diperhatikan. Penamaan terbitan 3 bobot, kelembagaan penerbit 4 bobot, penyuntingan dan manajemen pengelolaan 17 bobot. Adapun bobot yang paling besar, sebesar 39 bobot yang melingkuspi substansi artikel. Untuk gaya penulisan, nilainya 8 bobot. Sedangkan untuk keberkalaan hanya 6 bobot, dan 11 bobot untuk penyebarluasan jurnal. Jika di total, jumlah bobot tersebut adalah 100, sebagai nilai sempurna.

Banyaknya jenis jurnal, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Tidak semua jurnal mendapatkan akreditasi. Dikatakan jurnal ilmiah terakreditasi apabila mendapatkan bobot nilai minimum 70, dengan nilai substansi minimum 26. Ketika jurnal memenuhi ke dalam 8 unsur dan mendapatkan nilai lebih dari 70, dengan substansi nilai 26, maka jurnal yang digunakan sebagai referensi buku ajar yang terakreaditasi. Dari sisi isi, penyampaian dan delapan unsur tersebut tidak diragukan lagi.

Syarat Jurnal Yang Terakreditasi

Menggunakan jurnal tidak terakreditasi sebagai referensi buku ajar tidak larang. Dari segi pembahasan dan mutu yang kurang pembaca juga dapat menilai sendir bagaimana kualitas isi. berbicara tentang jurnal yang terakreditasi. Setidaknya memiliki International Standard Serial Number (ISSN). ISSN versi cetak umumnya memiliki kode p-ISSN, sedangkan kode untuk jurnal elektronik e-ISSN. Jika jurnal dalam bentuk elektronik, e-ISSN dapat diperoleh dengan mendaftarkan ke portal khusus. Disinilah kita akan diarahkan pada pendaftaran, dan mengikuti langkah yang diberikan.

Syarat kedua, jurnal mentaati etika publikasi halaman pada website. Jurnal diterbitkan secara berkala. Setahun minimal dua kali terbit, yang terhitung mundur dari tanggal dan bulan yang diajukan untuk akreditasi. Jika jurnal tidak berbentuk monograf, artikel diterbitkan lima kali.

Ketiga, karena jurnal ilmiah bentuk dan sifatnya ilmiah, maka isi yang terkandung di dalamnya adalah data dan informasi. Dimana data-data tersebut diolah, di komparasikan dengan cabang ilmu yang tengah diteliti. Karena jurnal bukanlah tulisan yang terbilang serius, dari judul dan isi judul pun selaras dengan isi.

Syarat ke empat, jurnal ilmiah tercantum di Indonesian Scientific Journal databese (ISJD) sebagai lembaga pengindeks nasional, atau ke portal garuda, Pustaka iptek dan sejenisnya. Masa berlaku jurnal yang terakreditasi dan diterbitkan secara berkala adalah 5 tahun. Ketika masa akreditasi habis, dapat diperpanjang 6 bulan sebelum masa berlaku habis. Sedangkan yang gagal mengajukan akreditasi yang pertama, dapat diajukan kembali dengan rentang waktu paling cepat 1 tahun lamannya.

Itulah beberapa hal yang diperhatikan tentang jurnal yang bisa dijadikan referensi buku ajar yang baik. Jika masih binggung bagaimana mendapatkan dan menerbitkan jurnal, kini dapat dilakukan dengan sistem Open Journals System (OJS) yang dapat dipasang di komputer. Dimana, OJS memang khusus dirancang untuk menyingkat waktu dan tenaga untuk pengindeksan. Berbicara soal sistem, tidak hanya OJS saja, ini hanya salah satu contoh. Ada banyak sistem khusus yang memudahkan kita untuk mendapatkan jurnal ilmiah untuk memperkaya isi buku ajar yang akan ditulis.

 

[Elisa]

Referensi :

Subekti, Agus. 2014. Pedoman Akreditasi terbitan Berkala Ilmiah. Jakarta : Rektorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.



This post has been seen 1713 times.
(Visited 289 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *