Setiap dosen di Indonesia tentunya memiliki impian untuk menjadi Guru Besar sebagai pencapaian tertinggi di dunia akademik. Hanya saja, mencapai puncak karir akademik tersebut bukan persoalan mudah dan banyak dosen yang tidak sempat meraihnya. 

Dari hal ini, Dunia Dosen dan Penerbit Deepublish kemudian menggelar Talkshow bertajuk Praktisi Jadi Akademisi, Sukses Raih Profesor. Narasumber dalam talkshow ini merupakan sosok sukses di bidang praktisi yang kemudian beralih ke profesi dosen yang juga sukses menjadi Guru Besar. 

Talkshow Praktisi Jadi Akademisi, Sukses Raih Profesor 

Narasumber dalam talkshow kali ini adalah Prof. Dr. Elza Syarief, S.H., M.H., CIQnR., CIQaR. Dulunya dikenal publik Indonesia sebagai advokat alias pengacara yang membela nama-nama besar di Tanah Air. 

Mulai dari salah satu putra mantan Presiden Ri ke-2, yakni Tommy Soeharto dan disusul nama-nama artis terkemuka di Indonesia. Siapa sangka, advokat satu ini beralih profesi menjadi dosen dan sampai ke puncak karir akademik. 

Namanya tercatat sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Hukum dan Teknologi di Universitas Internasional Batam. Lewat keberaniannya dari praktisi masuk ke dunia akademik sebagai dosen, Dunia Dosen dan Penerbit Deepublish berkesempatan mengundang Prof. Elza menjadi narasumber di talkshow Dunia Dosen yang digelar daring pada Rabu, 6 September 2023 untuk membagikan pengalamannya pada dosen lain. 

Pada awal talkshow, Deslaely Putranti, S.H., M.H. yang merupakan Dosen Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta menjadi moderator acara. Kemudian, menanyakan alasan kenapa Elza Syarief memilih beralih profesi dari praktisi menjadi dosen. 

Siapa sangka, alasan dari keputusan besar ini adalah dari keprihatinannya melihat kesejahteraan guru maupun dosen yang memprihatinkan. Memasuki tahun 2003, dirinya memutuskan untuk memperjuangkan hak pendidik di Indonesia tersebut ke pemerintah. 

“Pertama-tama, cita-cita saya itu sangat sederhana. Udah jadi advokat, udah happy-happy aja, gitu. Tapi kemudian sekitar tahun 2003 atau 2004 saya ketemu guru-guru dan dosen-dosen yang saya merasa mereka ini orang-orang hebat yang membimbing kita semua, tapi kesejahteraannya tidak baik, gitu ya,” kata Elza Syarief menjelaskan. 

Lebih lanjut, mantan advokat ini juga menjelaskan bahwa profesi pendidik di Indonesia dipandang memiliki jam kerja terbatas. Sehingga penetapan gaji dari pemerintah pun menjadi tidak begitu besar. 

“Kemudian dengan teman saya, almarhum Pak Abbas. Berdua kita tergerak untuk memperjuangkan kesejahteraan guru dan dosen ini. Sehingga kita lihat dimana letaknya (kesalahan)? Karena dianggap begini ‘Guru-guru dan dosen ini punya waktu kerjanya tidak full seperti pegawai ASN’,” ungkap Elza. 

“Sehingga dianggap itu kayak honor (honorer), dan itu sangat kecil incomenya per bulan. Sedangkan mereka pendidik tapi bisa tidak (mampu) menyekolahkan anaknya,” tambahnya. 

Perjuangan panjang tersebut ternyata berbuah manis. Sebab berujung pada penetapan anggaran APBN di sektor pendidikan yang dilarikan ke gaji guru dan dosen sebesar 20%. 

“Itu bukan perjuangan yang mudah, karena dari DPR dari Kementerian Hukum dan HAM pada waktu itu sangat menolak. Karena berarti anggarannya banyak ke guru saja,” ungkapnya. 

Kesan Saat Pertama Kali Menjadi Akademisi 

Lebih lanjut, Erza juga menuturkan kesan pribadinya ketika beralih profesi dari advokat menjadi dosen di dunia akademisi. Dunia akademisi memang mengacu pada ilmu teori, sementara praktisi lebih ke penerapan teori di lapangan. 

Secara logika, antara teori dengan penerapan di lapangan adalah sejalan. Namun, berdasarkan pengalamannya ternyata berbeda. Hal ini yang sempat membuatnya merasa teori di dunia pendidikan tinggi sulit untuk diterapkan karena cenderung ada missing link.  

“Setelah masuk dunia akademisi saya semakin tertantang. Tertantangnya apa? Karena ternyata di dunia dosen, di dunia akademisi ini respon praktisi itu kurang begitu positif,” kata Elza. 

“Misalnya masalah jual beli, jual beli enggak ada masalah tapi jual beli tanah itu kan ada dua hal yang mesti dilewati. Terjadinya jual beli, kemudian adanya balik nama. Nah, kalau menurut kita (praktisi) kalau balik nama sifatnya administrasi,” tambahnya memberi contoh. 

Merasa mendapatkan banyak tantangan baru ketika terjun ke dunia akademisi. Hal ini bukan membuatnya mundur melainkan ingin terus maju. Hingga akhirnya sukses meraih gelar Doktor dan menjadi dosen di Universitas Internasional Batam sampai sekarang. 

Tips dan Trik 10 Tahun Menjadi Guru Besar 

Elza Syarief diketahui sudah 13 tahun menekuni profesi dosen dan dalam masa tersebut telah berhasil mencapai Guru Besar. Hal ini tentu menjadi sumber rasa penasaran banyak orang, terutama kalangan dosen mengenai rahasia bisa mencapai puncak karir dalam tempo relatif singkat. 

Terkait hal ini, Elza kemudian menjelaskan bahwa salah satu trik yang dilakukan adalah dengan fokus menjalankan aktivitas Tri Dharma. Khususnya terkait publikasi ilmiah, dimana publikasi ke jurnal internasional bereputasi menjadi syarat pengajuan Guru Besar. 

Berdasarkan pengalaman pribadinya, produktif menulis dan melakukan publikasi membantu sukses menjadi Guru Besar dalam masa satu dekade. 

“Sebetulnya bukan karena kita cepet-cepet, tapi kita mengumpulkan artikel-artikel itu dengan cepat. Menulisnya lebih banyak, rajin gitu, (menulis) buku-bukunya masih rajin,” ungkap Elza. 

Tak hanya itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat atau PkM pun dilaksanakan dengan cerdas dan penuh keberanian. Kegiatan PkM diakuinya dilaksanakan di sebuah LP (Lembaga Pemasyarakatan) yang berada di Jawa Timur. 

Meskipun berada di tengah pandemi Covid-19 di tahun 2020, dirinya tak patah arang tetap melaksanakan PkM tersebut. Bahkan sempat positif Covid-19 akan tetapi PkM tersebut berhasil diselesaikan dan berbuah manis. Yakni membantunya menjadi Guru besar. 

“Terus pengabdian kepada masyarakat, saya cari aja LP (Lembaga Pemasyarakatan) di Jawa Timur itu, saya melakukan pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya. 

Lebih lanjut, Elza juga berbagi cara pribadinya untuk mengatur waktu agar bisa menunaikan kewajiban sebagai advokat sekaligus dosen yang aktif melakukan aktivitas Tri Dharma. meski punya segudang kesibukan di bidang berbeda, ternyata tak menghalanginya untuk sukses sebagai dosen. 

Diakuinya bahwa ada suatu kelebihan yang diberikan Tuhan kepadanya. Kelebihan ini juga yang menurutnya menjadi faktor penting yang mendukung karirnya sebagai advokat sekaligus sebagai dosen profesional. Yaitu kemampuan membaca dan mengingat dengan cepat. 

“Speed reading saya sangat cepat, sekali lihat saja saya sudah ingat. Misalnya mendengar saja saya sudah ingat. Sehingga kalau kemana-mana saya enggak pernah bawa dokumen,” terang Elza. 

Kelebihan ini membantunya untuk mengatur waktu dengan efisien dalam mempelajari setiap ilmu teori dan praktek. Sehingga penerapan ilmu di lapangan menjadi lebih mudah dan bisa memaksimalkan hasilnya. 

Tak hanya itu, support system terutama dari keluarga juga ikut andil dalam kesuksesannya masuk ke dunia akademisi. Salah satunya dibantu menjaga anak-anak selama menunaikan kewajiban oleh orang tua. 

Talkshow Praktisi Jadi Akademisi, Sukses Raih Profesor pun ditutup dengan sesi tanya jawab. Terdapat beberapa peserta yang terlihat antusias mengajukan pertanyaan di kolom chat Zoom dan YouTube. Sekaligus mendapatkan jawaban yang jelas dan mendetail dari Elza Syarief selaku narasumber. 

Tahukah Anda bahwa salah satu cara untuk meningkatkan poin KUM adalah menerbitkan buku. Aturan ini tertuang dalam PO PAK 2019.

Sayangnya, kesibukan dalam mengajar, membuat dosen lupa dengan kewajiban lainnya yaitu mengembangkan karir. Maka dari itu, Penerbit Deepublish hadir untuk membantu para dosen meningkatkan poin KUM dengan menerbitkan buku.

Kunjungi halaman Daftar Menerbitkan Buku, agar konsultan kami dapat segera menghubungi Anda.

Selain itu, kami juga mempunyai E-book Gratis Panduan Menerbitkan Buku yang bisa membantu Anda dalam menyusun buku. Berikut pilihan Ebook Gratis yang bisa Anda dapatkan: