Dosen dalam dunia akademik diharapkan memiliki karir yang terus menanjak, dilihat dari jabatan fungsional yang dipangkunya. Meskipun setiap dosen punya kesempatan sama besar memangku jabatan fungsional tertinggi. 

Namun, banyak yang masih kesulitan dan kadang kala tidak bisa mencapai puncak karir menjadi Guru Besar. Mengantisipasi hal tersebut, dosen membutuhkan strategi khusus untuk menunjang pengembangan karirnya di ranah akademik. 

Salah satunya dengan aktif menulis dan mempublikasikan tulisan tersebut ke dalam bentuk buku ilmiah, seperti buku referensi dan monograf. Sebagai bentuk dukungan kepada dosen, penerbit deepublish bekerjasama dengan Puslitpen UIN Jakarta menggelar workshop dengan tema tersebut. 

Workshop Penyusunan Buku Referensi dan Monograf untuk Penunjang Karir Dosen 

Mempublikasikan buku ilmiah membantu dosen untuk mendapatkan KUM atau angka kredit dalam jumlah besar. Pada buku referensi misalnya, dosen berhak mendapatkan tambahan 40 poin angka kredit. 

Jika dosen produktif menulis dan mempublikasikan buku ilmiah maka akan menjadi penunjang karir akademik dosen paling potensial. Memahami fakta ini, penerbit deepublish bekerjasama dengan Puslitpen UIN Jakarta menggelar workshop. 

Workshop hasil kerjasama ini bertajuk Penyusunan Buku Referensi dan Monograf untuk Penunjang Karir Dosen. Workshop diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom dan dilaksanakan pada Jumat, 7 Oktober 2022. 

Sesuai dengan judul workshopnya, workshop kali ini memang mengupas tuntas tips dan trik menyusun buku referensi dan monograf. Adapun narasumbernya adalah Dr. Miguna Astuti.,S.Si.,MM.,MOS.,CPM.,CIRR. 

Dr. Miguna sendiri merupakan salah satu dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta. Selain itu ada narasumber lain dari penerbit deepublish, yakni M. Safah Thalib, S.Kel., yang merupakan salah satu Konsultan Penerbit Deepublish. 

Karir Internal dan Eksternal Dosen 

“Ketika kita membahas mengenai karir dosen, maka ada karir internal yakni karir di dalam lingkungan kampus dan karir eksternal yakni karir di luar kampus. Dosen saat ini diberi kesempatan berkarir di dalam dan di luar kampus.” kata Miguna dalam workshop. 

Menurut Miguna, setiap dosen memiliki harapan yang sama terkait karir akademik. Yakni memangku jabatan fungsional tertinggi dan kemudian mendapatkan gelar Profesor. Mampu memangku jabatan fungsional tertinggi sebagai Guru Besar memang bukan hal mudah. 

Setiap dosen disampaikan Miguna harus melewati jenjang karir akademik dosen. Namun, disampaikan pula bahwa dosen di masa sekarang perlu bersyukur karena di dalam PO PAK terbaru, dinilai olehnya selaku narasumber lebih masuk akal. 

“Alhamdulillah PO PAK terbaru jika bapak ibu melihat, ini sangat memudahkan sekali untuk kita semua karena isinya lebih masuk akal untuk saya..” jelas Miguna. 

Salah satu alasan kenapa PO PAK terbaru dinilai lebih masuk akal adalah karena adanya penyebutan kewajiban bagi dosen Asisten Ahli untuk belajar menulis dan melakukan publikasi. 

Tapi dosen tidak diminta beban terlalu berat, sebagaimana yang ada di PO PAK sebelumnya. Miguna juga menyebutkan, syarat untuk naik jabatan fungsional dari Asisten Ahli menuju jenjang di atasnya semakin mudah. 

Jika dulu Asisten Ahli sebelum menjadi Lektor harus berhadapan dengan momok publikasi Sinta sekian atau satu jurnal internasional. Maka kini tidak ada kewajiban tersebut, sebab dosen diminta fokus menulis dan publikasi sesuai bidang keahliannya. 

Hal ini juga sejalan dengan perubahan syarat untuk naik ke jenjang jabatan fungsional lainnya. Seperti syarat naik dari Lektor ke Kepala Lektor, dan dari Lektor Kepala sampai ke Guru Besar. Sehingga untuk publikasi jurnal internasional tidak lagi harus masuk database Scopus. 

Dengan adanya kemudahan tersebut, semua dosen diharapkan bisa bersyukur dan kemudian bisa memaksimalkan kinerjanya agar bisa meniti karir akademik secara maksimal. Salah satunya dengan aktif menulis dan melakukan publikasi. Baik jurnal maupun buku. 

“Sekarang Kemdikbud ini memberikan keleluasaan untuk kita (dosen) mencari ilmu di luar Jadi kita diperkenankan untuk menjadi entrepreneur, dan justru menjadi rekognisi untuk kampus dan dosen itu sendiri..” jelas Miguna. 

Jika membahas mengenai penunjang karir dosen, saat ini Kemdikbud memang tidak lagi memberi batasan kepada dosen untuk mengembangkan diri secara internal. Yakni tidak hanya dengan menempuh pendidikan tinggi formal dan memangku jabatan fungsional. 

Akan tetapi juga diperbolehkan untuk menunjang karirnya melalui karir eksternal dosen, yaitu karir yang ditekuni dosen di luar dunia akademik. Misalnya menjadi pebisnis atau entrepreneur. Kemudian menjadi konsultan dan bahkan menjadi investor. 

Salah satu upaya seorang dosen bisa merintis karir eksternal adalah dengan publikasi. Sehingga namanya semakin dikenal, kepakarannya diketahui publik, dan sosoknya kemudian dipilih untuk menjadi konsultan maupun investor di sebuah perusahaan. 

Jadi, publikasi baik dalam bentuk jurnal maupun buku tidak hanya membantu dosen mengembangkan karir internal saja. Melainkan juga membantu mengembangkan karir eksternal dosen tersebut, yang saat ini didukung penuh oleh Kemdikbud. 

Tips dan Trik Penulisan Buku Monograf dan Referensi 

Workshop Penyusunan Buku Referensi dan Monograf 2 (1)

Buku monograf dan referensi dijelaskan Miguna merupakan hasil penelitian, jadi isinya tidak beda jauh dengan laporan hasil penelitian. Hanya saja dikembangkan menjadi bentuk buku yang struktur dan gaya bahasanya lebih luwes. 

Dalam menulis buku monograf maupun referensi, dosen harus berusaha untuk mempublikasikannya. Selanjutnya adalah mencoba untuk meningkatkan sitasi dari tulisan yang dipublikasikan tersebut. 

Adapun beberapa tips dan trik yang dijelaskan Miguna agar bisa memaksimalkan penulisan dan publikasi buku monograf dan referensi adalah sebagai berikut: 

  1. Mulai menulis, bagaimanapun hasilnya karena apa yang disampaikan dosen di dalam naskah buku pada dasarnya adalah fakta yang bisa dipertanggungjawabkan. 
  2. Gunakan aturan pengutipan yang baik dengan membuat sintesa atas kalimat/paragraf yang dikutip tujuannya adalah untuk menghindari tindakan plagiarisme sekaligus menghargai karya orang lain yang sudah dijadikan referensi dalam menyusun naskah buku monograf dan referensi. 
  3. Kutip dari publikasi penelitian dan/atau pengabdian dan/atau buku-buku yang sudah disusun oleh para dosen sebelumnya. Proses pengutipan juga disesuaikan dengan aturan dalam sitasi, sehingga tidak dianggap melakukan self plagiarism. 
  4. Cantumkan publikasi para dosen yang telah tercantum pada google scholar dan pastikan dapat tertelusur. 
  5. Dosen perlu mencantumkan publikasi (buku, dll), pada RPS (rencana pembelajaran semester) mata kuliah. 
  6. Jangan lupa agar para dosen juga membagikan Info kepada kolega dan mahasiswa bagaimana mengutip karya Anda yang telah terpublikasi. 

Dengan sejumlah tips dan trik tersebut para dosen bisa menginformasikan karyanya dan kepakarannya kepada publik. Dimulai dari orang terdekat, yakni kolega dan juga mahasiswa sendiri. 

Selanjutnya, langkah tersebut akan membantu dosen untuk meningkatkan sitasi. Yakni suatu kondisi dimana karyanya sering dijadikan referensi dengan disebut di berbagai karya publikasi penulis (peneliti dan dosen) lain.

Hal ini akan meningkatkan h indeks di dalam Google Scholar yang kemudian memaksimalkan akademik branding dosen. Selain itu dengan rutin melakukan publikasi, dosen bisa memaksimalkan karir internal dan eksternalnya. 


Tahukah Anda bahwa salah satu cara untuk meningkatkan poin KUM adalah menerbitkan buku. Aturan ini tertuang dalam PO PAK 2019.

Sayangnya, kesibukan dalam mengajar, membuat dosen lupa dengan kewajiban lainnya yaitu mengembangkan karir. Maka dari itu, Penerbit Deepublish hadir untuk membantu para dosen meningkatkan poin KUM dengan menerbitkan buku.

Kunjungi halaman Daftar Menerbitkan Buku, agar konsultan kami dapat segera menghubungi Anda.

Selain itu, kami juga mempunyai E-book Gratis Panduan Menerbitkan Buku yang bisa membantu Anda dalam menyusun buku. Berikut pilihan E-Book Gratis yang bisa Anda dapatkan: