Bagi para dosen yang menantikan program hibah penelitian bergengsi dengan pendanaan berskala besar. Maka selain menantikan pembukaan hibah dari Kemdiktisaintek. Juga bisa menantikan pembukaan hibah dari BRIN. Namun, pastikan mengecek luaran hibah BRIN 2026.
Kenapa? Sebab penentuan luaran harus sudah dilakukan sejak pengajuan proposal usulan. Mengecek apa saja ketentuan luaran dalam hibah BRIN di tahun 2026 tentu penting sebagai persiapan. Sehingga bisa memilih luaran yang tepat dan bisa dicapai agar sukses meraih hibah bergengsi tersebut. Berikut informasinya.
Mengenal Program Hibah Riset dari BRIN dan Jenis-Jenisnya
Membahas luaran hibah BRIN 2026, bisa diawali dengan membahas hibah yang diselenggarakan di tahun 2026. BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) memiliki salah satu tugas menjalankan fungsinya menyediakan fasilitas penelitian di Indonesia.
Secara rutin, BRIN menggelar program hibah dan beberapa skema bisa diakses peneliti eksternal. Yakni peneliti selain yang dinaungi BRIN itu sendiri. Mengutip dari website resmi BRIN, hibah yang diselenggarakan di tahun 2026 terbagi dalam 2 kategori atau jenis utama.
Yakni skema RIIM (Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju) dan skema Rumah Program. Pada skema RIIM, pihak BRIN hanya menetapkan fokus bidang penelitian yang didanai. Sementara untuk topik fleksibel, menyesuaikan kepakaran masing-masing pengusul.
Sedangkan pada skema Rumah Program, setiap hibah di dalamnya sudah ditetapkan topik penelitian yang didanai oleh BRIN. Sehingga pengusul harus menyesuaikan dengan topik tersebut. Jadi, para pengusul harus mengecek ada tidaknya topik yang relevan dengan kepakaran yang dimiliki sebelum mengajukan proposal usulan.
Kedua skema tersebut, terbagi lagi menjadi beberapa subkategori. Beberapa subkategori hanya ditujukan untuk peneliti internal BRIN. Beberapa subkategori lagi bisa diakses peneliti eksternal. Baik itu dosen di perguruan tinggi Indonesia, peneliti dari lembaga penelitian yang dikelola pemerintah maupun swasta, dll.
Sekilas Tentang Hibah BRIN pada Skema RIIM Kompetisi
Salah satu subkategori dalam skema RIIM adalah RIIM Kompetisi. Para dosen di Indonesia mayoritas menantikan program hibah pada subkategori ini. Pasalnya di tahun 2025, BRIN membuka skema ini dalam beberapa kategori lagi dan dua diantaranya bisa diakses kalangan dosen.
RIIM Kompetisi adalah program pendanaan penelitian dari BRIN yang ditujukan kepada peneliti dari berbagai lembaga dan institusi di Indonesia dalam menemukan novelty (kebaruan) sehingga bisa mendorong invensi dan inovasi.
RIIM Kompetisi ideal diperjuangkan para dosen di Indonesia. Sebab dosen menjadi salah satu sasaran dalam program hibah ini. Selain itu, RIIM Kompetisi mendukung penelitian multi tahun dengan durasi maksimal 3 tahun.
Disusul dengan pendanaan maksimal mencapai Rp500 juta per proposal. Pendanaan diberikan atau proses pencairan terbagi dalam 2 periode sesuai ketentuan dari BRIN dan dijelaskan rinci pada buku panduan RIIM Kompetisi 2026.
Jenis dan Ketentuan Luaran dalam Hibah RIIM Kompetisi Tahun 2026
Bagi para dosen yang di tahun ini tertarik meraih RIIM Kompetisi. Maka tentu bisa segera mempersiapkan diri dengan membaca buku panduan. Disusul dengan penyusunan proposal usulan sesuai ketentuan. Terlebih, di tahun 2026 skema RIIM Kompetisi dibuka pendaftarannya dalam beberapa batch atau gelombang.
Lalu, apa saja luaran hibah BRIN 2026 pada skema ini? Secara garis besar, target luaran terbagi menjadi 2 jenis. Yaitu luaran utama (luaran wajib) dan luaran tambahan. Berikut detail penjelasannya:
1. Luaran Utama RIIM Kompetisi 2026
Luaran wajib atau luaran utama terbagi dalam 2 jenis dan bisa dipilih oleh para pengusul. Yaitu:
1. Karya Tulis Ilmiah (KTI)
Luaran wajib yang pertama adalah, pengusul menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi dengan peringkat Q3. Jika pengusul mengajukan penelitian multi tahun.
Maka setiap tahunnya wajib menghasilkan publikasi jurnal baru dengan status publikasi sesuai ketentuan BRIN. Berikut detail ketentuannya:
- Tahun pertama: publikasi 1 artikel pada jurnal internasional bereputasi peringkat Q3 dengan status minimal under review;
- Tahun kedua: publikasi 1 artikel pada jurnal internasional bereputasi peringkat Q3 dengan status minimal accepted (tahun pertama), dan 1 artikel ilmiah baru dengan status minimal under review;
- Tahun ketiga: publikasi 1 artikel pada jurnal internasional bereputasi peringkat Q3 dengan status minimal published (artikel tahun pertama), 1 artikel ilmiah dengan status minimal accepted (tahun kedua), dan 1 artikel ilmiah baru dengan status minimal under review.
2. Kekayaan Intelektual (KI)
Luaran hibah BRIN 2026 kedua dalam kategori luaran utama di RIIM Kompetisi adalah Kekayaan Intelektual (KI). Luaran utama kedua ini bisa menggantikan luaran dalam bentuk KTI. Maupun melengkapi luaran berbentuk KTI, sehingga menghasilkan KTI dan KI sekaligus.
KI yang dicapai pengusul bisa pada kategori paten atau paten sederhana atau Perlindungan Varietas Tanaman (PVT). Kemudian minimal dengan status “Terdaftar” di DJKI.
2. Luaran Tambahan RIIM Kompetisi 2026
Jenis luaran hibah BRIN 2026 yang kedua adalah luaran tambahan. Pada skema RIIM Kompetisi tahun 2026, luaran tambahan terdiri dari beberapa pilihan. Yaitu:
1. Kekayaan Intelektual (KI)
Luaran tambahan yang pertama yang bisa dicapai pengusul adalah KI. Namun, jenis KI lain selain dari KI sebagai luaran utama. Jadi, selain dari paten, paten sederhana, dan PVT.
Jadi, bagi para dosen yang bisa mengurus KI pada kategori Hak Kekayaan Industri selain 3 KI untuk luaran wajib tersebut. Maka bisa mencantumkan KI sebagai luaran tambahan. Seperti Merek, Rahasia Dagang, dan jenis lainnya.
2. Purwarupa
Luaran tambahan kedua dalam RIIM Kompetisi 226 adalah purwarupa, bisa juga disebut dengan istilah prototipe. Purwarupa dipahami sebagai hasil penelitian dalam bentuk produk awal. Produk awal ini bisa menjadi bukti bahwa konsep, teknologi, atau metode berfungsi sesuai tujuan atau harapan.
Sehingga hasil penelitian jenis ini masih perlu dikembangkan, dilakukan uji coba, baru kemudian bisa diimplementasikan sampai dikomersialkan. Bagi dosen yang penelitiannya bisa menghasilkan purwarupa, maka bisa menambahkannya sebagai luaran tambahan.
3. Model
Luaran tambahan yang ketiga dalam RIIM Kompetisi 2026 adalah model. Dalam konteks luaran hibah BRIN 2026, luaran model adalah hasil penelitian hasil penelitian yang berbentuk kerangka, sistem, metode, strategi, atau konsep.
Luaran dalam bentuk model, bisa berupa kerangka atau rancangan produk. Bisa juga dalam bentuk bukan produk. Misalnya model bisnis, model pembelajaran, sistem informasi, strategi bisnis, strategi pelayanan publik, dan lain sebagainya.
4. Implementasi Hasil Riset yang Memiliki Kebermanfaatan
Jenis atau bentuk luaran hibah BRIN 2026 pada skema RIIM Kompetisi selanjutnya adalah implementasi dari hasil penelitian yang didanai BRIN itu sendiri.
Dalam luaran tambahan jenis ini, peneliti atau penerima program hibah harus benar-benar memastikan hasil penelitiannya sudah diterapkan. Baik di industri, pemerintah daerah, lembaga pemerintahan, dan sebagainya. Sesuai dengan karakteristik dan bentuk pemanfaatan hasil penelitian tersebut.
Misalnya, hasil penelitian dosen berupa sistem informasi pendaftaran mahasiswa baru yang efisien. Maka hasil penelitian ini sudah diterapkan suatu perguruan tinggi dan bisa dibuktikan. Misalnya mengirimkan foto atau bukti lain yang relevan.
Contoh lain, peneliti menghasilkan sistem irigasi yang efektif di daerah kering. Sistem ini kemudian sudah diterapkan para petani di sebuah desa. Sehingga sudah terimplementasikan dan wajib bisa dibuktikan sesuai ketentuan BRIN.
Melalui beberapa jenis dan bentuk luaran RIIM Kompetisi 2026 tersebut, tentunya perlu segera ditentukan. Sebab target luaran utama sampai luaran tambahan perlu dicantumkan pada proposal usulan. Pastikan menentukan dengan seksama, agar tepat sesuai topik dan jenis penelitian. Sekaligus realistis, sesuai kompetensi seluruh tim peneliti.
Pentingnya Optimasi Luaran Hibah BRIN 2026
Hal penting lainnya dalam mengoptimalkan program hibah penelitian seperti RIIM Kompetisi dari BRIN adalah mengoptimalkan capaian luaran. Yakni berusaha untuk meraih luaran utama (luaran wajib) sekaligus luaran tambahan.
Seberapa penting mencapai luaran tambahan selain luaran utama dalam hibah BRIN? Jawabannya adalah sangat penting, dan ada banyak alasan yang membuat pencapaian ini penting. Seperti:
1. Mengoptimalkan Pendanaan Riset dari BRIN
BRIN dalam program hibah penelitian yang diselenggarakan tidak menutup kesempatan para penerima hibah mencapai luaran tambahan. Biaya untuk mencapai luaran tersebut, tentunya tercakup dalam dana hibah yang diberikan ke peneliti. Jadi, kesempatan ini perlu dimanfaatkan sebaik mungkin.
2. Memperluas Visibilitas dan Dampak Hasil Penelitian
Arti penting menghasilkan luaran tambahan selain luaran utama dalam hibah BRIN, salah satunya adalah memperluas visibilitas. Artinya, hasil penelitian dosen bisa disebarluaskan dalam skala lebih luas lewat langka tersebut.
Luaran penelitian tidak hanya berupa publikasi di jurnal internasional bereputasi. Akan tetapi diperluas lagi menjadi KI dengan menerbitkan buku ber-Hak Cipta, prototipe dengan paten atau paten sederhana, dan sebagainya. Hasil penelitian bisa diketahui lebih banyak orang dan bisa segera dimanfaatkan.
3. Meningkatkan Kinerja Akademik Dosen
Mencapai luaran hibah BRIN 2026 secara optimal, juga berdampak positif pada kinerja akademik dosen. Sebab seluruh luaran penelitian adalah bukti kinerja penelitian dosen.
Semakin beragam luaran yang dicapai, maka semakin optimal kinerja penelitian yang dilaksanakan. Dosen bisa mengklaim seluruh luaran tersebut dalam BKD sehingga bisa segera memenuhi target. Selain itu, bisa masuk ke penilaian AK Prestasi untuk kenaikan jabatan akademik.
Baca juga: Angka Kredit Prestasi Dosen: Pengertian, Sumber, dan Cara Optimasinya
4. Menguatkan Reputasi Dosen dan Institusi
Arti penting mencapai luaran yang beragam dalam hibah BRIN berikutnya adalah untuk menguatkan reputasi akademik. Baik reputasi dosen sebagai pendidik dan ilmuwan, maupun reputasi perguruan tinggi yang menaungi. Sebab luaran penelitian yang beragam adalah juga kinerja akademik perguruan tinggi.
Mencapai luaran tambahan selain luaran utama, memang bukan hal yang mudah. Namun, kabar baiknya dari BRIN sendiri pada skema RIIM Kompetisi mengizinkan penerima hibah mengajukan perpanjangan waktu.
Jadi, jika dirasa masih butuh tambahan waktu untuk menyelesaikan penelitian. Sekaligus untuk mencapai luaran tambahan. Maka bisa mengajukan permohonan, sehingga tidak dikenakan sanksi. Sekaligus bisa mencapai luaran tambahan.
Salah satu strategi mengoptimalkan luaran hibah BRIN 2026 adalah dengan konversi KTI. KTI pada luaran wajib bisa dikonversi menjadi buku referensi maupun buku monograf. Sehingga buku tersebut bisa didaftarkan Hak Cipta dan menjadi KI sebagai luaran tambahan.
Jika terlalu sibuk sehingga tidak memiliki waktu memadai untuk mengonversi KTI jurnal menjadi buku siap terbit. Maka bisa menggunakan layanan Konversi KTI dari Penerbit Deepublish. Hasil penelitian yang disebarluaskan dalam bentuk buku bisa dibaca lebih banyak orang. Sehingga potensi implementasi hingga kolaborasi lebih tinggi.
Baca juga: Cara Mengubah Hasil Hibah Penelitian Menjadi Buku dalam 6 Langkah
FAQ (Frequently Asked Questions)
Luaran hibah BRIN 2026 adalah target hasil penelitian yang ditetapkan sejak pengajuan proposal, terbagi menjadi luaran wajib dan luaran tambahan untuk dosen.
Luaran wajib bisa berupa publikasi ilmiah di jurnal internasional peringkat Q3 atau HKI berupa paten, paten sederhana, atau Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) yang terdaftar di DJKI.
Luaran tambahan meliputi HKI selain kategori wajib, purwarupa/prototipe, model seperti kerangka, sistem, metode, strategi, konsep, atau implementasi hasil riset yang bermanfaat.
Luaran tambahan meningkatkan visibilitas penelitian, mendukung pemenuhan BKD, mempercepat kenaikan jabatan, memperkuat reputasi dosen dan institusi, serta membuka peluang royalti jika berupa buku.
Dosen dapat memaksimalkan hasil penelitian dengan strategi konversi KTI: artikel ilmiah dapat dikembangkan menjadi buku monograf atau referensi untuk dijadikan luaran tambahan.
Seluruh luaran penelitian dapat diklaim dalam BKD dan AK Kumulatif, mendukung kenaikan jabatan, memperluas publikasi ilmiah, dan meningkatkan reputasi akademik dosen.
Referensi:
- Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2026). Keputusan Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional Nomor 69/II.7/HK/2026 tentang Pedoman Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju Kompetisi. https://miniox.brin.go.id/cfp-brin/juknises/6a27968b63623.pdf
- Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2026). Slide Presentasi Sosialisasi Pedoman RIIM Kompetisi 2026 Nomor 69/II.7/HK/2026. Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi. https://research.ui.ac.id/wp-content/uploads/sites/58/2026/06/20260605-Sosialisasi-Pedoman-RIIM-Kompetisi-2026-UI.pdf
- Siregar, R. A. (2025). Purwarupa. Diakses pada 22 Juli 2026 dari https://rakhmadarief.blog.uma.ac.id/2025/01/27/purwarupa/#:~:text=Purwarupa%20atau%20bisa%20juga%20disebut,penyempurnaan%20(Testing%20and%20Refinement).
- Nisa, K. (2026). Satu Riset Banyak Luaran Penelitian, Apakah Bisa dan Boleh Dicapai Dosen? Ini Penjelasannya. Diakses pada 22 Juli 2026 dari https://penerbitdeepublish.com/penelitian-ilmiah/satu-riset-banyak-luaran-penelitian-apakah-bisa-dan-boleh-dicapai-dosen/








