Information

Apa Saja yang Menjadi Perbedaan Jurnal, Prosiding, dan Buku Ilmiah?

Memahami apa saja perbedaan jurnal, prosiding, dan buku ilmiah menjadi hal penting bagi dosen. Ketiganya merupakan bentuk publikasi ilmiah yang dilakukan dosen. Khususnya dalam upaya penyebarluasan hasil penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat (PkM). 

Ada kalanya, dosen bingung menentukan jenis publikasi mana yang harus dipilih. Sekaligus masih bingung bisa tidaknya mengkombinasikan beberapa bentuk publikasi ilmiah tersebut. Jadi, seperti apa regulasinya? Berikut informasinya. 

Perbedaan Jurnal, Prosiding, dan Buku Ilmiah

Dalam menjalankan kegiatan tri dharma (pendidikan, penelitian, dan PkM). Para dosen tentunya akan menghasilkan berbagai jenis publikasi ilmiah. Baik itu dalam bentuk prosiding, jurnal, maupun buku ilmiah. 

Lalu, apa perbedaan jurnal, prosiding, dan buku ilmiah tersebut? Memahami perbedaannya membantu dosen menentukan ingin mengurus publikasi yang mana. Berikut detailnya dilihat dari beberapa aspek: 

1. Definisi

    Hal pertama yang membedakan antara jurnal, prosiding, dan juga buku ilmiah tentu saja dari definisi atau pengertiannya. Prosiding adalah media publikasi artikel ilmiah berisi hasil penelitian yang dipresentasikan dalam konferensi ilmiah dan diterbitkan berkala maupun terbit dalam bentuk buku (bunga rampai). 

    Jurnal ilmiah adalah media publikasi artikel ilmiah berisi hasil penelitian yang diterbitkan berkala. Dalam satu kali penerbitan, pengelola jurnal menerbitkan beberapa artikel ilmiah. Sehingga terbitan baru dalam bentuk volume. 

    Sedangkan buku ilmiah adalah salah satu jenis karya ilmiah berbentuk buku yang berisi hasil penelitian dan diterbitkan untuk diakses masyarakat luas. Secara definisi, prosiding dan jurnal masuk kategori media publikasi. 

    Sehingga analoginya, jurnal dan prosiding seperti perusahaan penerbit buku tapi fokus menerbitkan artikel ilmiah. Sementara buku ilmiah adalah jenis karya tulis ilmiah. Buku ilmiah dipublikasikan lewat penerbit, bukan lewat jurnal atau prosiding. 

    Baca juga: Mengenal Proceeding, Mulai Dari Pengertian Hingga Penerbitan ISBN

    2. Cara Publikasi

      Aspek kedua yang menjadi perbedaan jurnal, prosiding, dan buku ilmiah adalah cara publikasinya. Sesuai definisi sebelumnya, publikasi ke prosiding diawali dengan submit artikel ilmiah lalu dipresentasikan di konferensi ilmiah. 

      Jika ada revisi sesuai hasil konferensi, maka akan dikerjakan dulu oleh penulis dan dikirim ulang. Baru kemudian diterbitkan oleh penyelenggara konferensi atau pengelola prosiding. 

      Sementara pada jurnal ilmiah, artikel yang dikirimkan penulis akan melewati proses peer review oleh minimal 2 orang pakar di bidangnya. Hasil peer review bisa memberi catatan revisi. Setelah revisi diselesaikan, barulah artikel ilmiah diterbitkan pengelola jurnal. 

      Sedangkan pada buku ilmiah, dosen menulis naskah buku ilmiah dan dikirimkan ke perusahaan penerbit buku ilmiah. Pada proses ini naskah akan diperiksa dan disunting editor. Kemudian bisa jadi ada tahap revisi sebelum naik ke proses cetak dan distribusi ke berbagai toko buku. 

      3. Lama Proses Publikasi

        Aspek ketiga yang menjadi perbedaan jurnal, prosiding, dan buku ilmiah adalah lama waktu proses publikasi (penerbitan). Secara umum, prosiding memiliki waktu lebih cepat. 

        Sebab setelah dipresentasikan dan direvisi sesuai hasil konferensi, artikel bisa terbit. Baik dalam terbitan berkala berisi kumpulan artikel ilmiah yang dipresentasikan di satu konferensi yang sama. Maupun terbit dalam bentuk bunga rampai. Sedangkan untuk buku, biasanya juga tidak terlalu lama. Terlebih jika kualitas naskah sudah baik. 

        Pada jurnal, lama proses penerbitan tidak tentu sebab dipengaruhi durasi peer review. Ada yang dalam waktu 2-3 bulan peer review sudah selesai dan artikel terbit. Namun, ada juga yang peer review berlangsung beberapa bulan sampai beberapa tahun. 

        4. Target Pembaca

          Aspek lain yang menjadi perbedaan jurnal, prosiding, dan buku ilmiah adalah target pembaca. Prosiding dan jurnal ilmiah sama-sama ditargetkan untuk masyarakat ilmiah. Mencakup dosen, mahasiswa, dan kalangan peneliti profesional. 

          Berbeda dengan buku ilmiah yang ditargetkan untuk masyarakat luas. Baik itu masyarakat ilmiah maupun masyarakat umum yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan. 

          Apakah Bisa Mengkombinasikan antara Jurnal, Prosiding, dan Buku Ilmiah?

          Setelah memahami apa saja perbedaan jurnal, prosiding, dan buku ilmiah. Tentunya akan muncul pertanyaan, bisakah dosen mempublikasikan ketiganya? Jawabannya adalah bisa selama sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 

          Dosen secara umum sangat disarankan untuk memiliki publikasi ilmiah dalam 3 bentuk tersebut. Sebab prosiding selain berfungsi menyebarluaskan hasil penelitian dosen, juga mengasah keterampilan berbicara dosen di hadapan publik. 

          Selain itu, ketiganya sama-sama bisa menjadi luaran kegiatan penelitian maupun PkM. Salah satu menjadi luaran wajib, sementara satu lainnya menjadi luaran tambahan. Misalnya luaran wajib penelitian adalah publikasi di jurnal nasional terakreditasi. Sedangkan luaran tambahannya adalah menerbitkan buku referensi. 

          Jika berencana mencapai 2 luaran dalam 2 bentuk publikasi ilmiah. Maka perlu dilakukan konversi KTI untuk memastikan ada perubahan struktur dan substansi pembahasan. Sebab jika copy paste, tentunya akan menjadi self plagiarisme dan termasuk pelanggaran etika. 

          Dosen juga diperbolehkan memiliki riwayat publikasi di 3 bentuk tersebut. Misalnya penelitian di tahun ini terbit dalam prosiding. Penelitian di tahun depan terbit dalam jurnal internasional. Sementara penelitian di tahun berikutnya menjadi buku monograf atau buku referensi. Sehingga diterbitkan bergantian untuk kegiatan tri dharma yang berbeda. 

          Strategi Mengkombinasikan berbagai Jenis Publikasi Ilmiah

          Melalui penjelasan sebelumnya, dosen memang bisa mengkombinasikan beberapa publikasi sebagai luaran tri dharma. Namun, karena ada perbedaan jurnal, prosiding, dan buku ilmiah. Maka tentunya akan ada perbedaan ketentuan dalam penyusunan sampai penerbitan. Termasuk ketentuan jika ketiganya menjadi luaran tri dharma. 

          Secara umum, ada 2 strategi yang aman dan tidak berpotensi melanggar etika untuk mengkombinasikan ketiganya. Berikut penjelasannya: 

          1. Meraih Luaran Wajib dan Luaran Tambahan Sekaligus

            Strategi yang pertama, dosen menargetkan pencapaian luaran wajib dan luaran tambahan. Yakni pada pelaksanaan kegiatan penelitian maupun kegiatan PkM. Sehingga dalam satu kegiatan pokok dosen mengkombinasikan 2 jenis publikasi ilmiah. 

            Misalnya, luaran wajib publikasi di prosiding. Sedangkan luaran tambahan adalah menerbitkan buku referensi. Sehingga keduanya sama-sama diakui sebagai luaran penelitian atau PkM yang telah dilaksanakan dosen. 

            Sebagai catatan tambahan, mencapai luaran wajib sekaligus luaran tambahan tetap harus memperhatikan ketentuan dari pihak terkait. Misalnya, jika kegiatan penelitian didanai program hibah. Maka target luaran mengikuti kebijakan penyelenggara. 

            Bisakah mencapai 2 jenis luaran sekaligus? Jika bisa, maka biaya publikasi di luaran tambahan apakah masih ditanggung penyelenggara hibah atau dana pribadi dosen? Dua hal ini menjadi perhatian utama saat menargetkan pencapaian 2 luaran sekaligus. 

            2. Mencapai Luaran Bergantian dalam Roadmap Penelitian

              Strategi mengkombinasikan antara jurnal, prosiding, dan buku ilmiah adalah menjadi luaran bertahap dan disusun di dalam roadmap penelitian. Dalam roadmap penelitian, dosen juga mencantumkan target luaran yang akan dicapai. 

              Roadmap tersebut berisi rencana penelitian dalam kurun waktu 5 tahun sampai 25 tahun mendatang. Dosen bisa mengatur luaran  dari berbagai bentuk publikasi ilmiah secara bertahap. Dimulai dari luaran yang paling mudah dicapai, tingkat kesulitan sedang, sampai yang tersulit. 

              Misalnya target luaran di penelitian pertama adalah prosiding. Pada penelitian kedua, naik ke jurnal internasional bereputasi. Kemudian di penelitian ketiga, jurnal internasional bereputasi dan buku referensi. Begitu seterusnya. 

              Jadi, sejalan dengan konsistensi menjalankan penelitian dosen punya riwayat publikasi prosiding jurnal, dan buku ilmiah. Akan tetapi tidak dari satu kegiatan penelitian. Melainkan dari beberapa kegiatan penelitian yang dijalankan dalam kurun waktu tertentu. 

              Strategi ini bisa dipilih untuk meningkatkan jaminan bebas dari self plagiarism dan pelanggaran etika. Sekaligus lebih realistis, sebab mencapai luaran bertahap lebih mudah direalisasikan dibanding yang beberapa sekaligus sejak penelitian pertama. 

              Lakukan Hal Ini Jika Ingin Publikasi Bisa Berdampak Jangka Panjang

              Bagi dosen yang sudah memahami perbedaan jurnal, prosiding, dan buku ilmiah. Kemudian berencana untuk mengurus publikasi di semua jenis tersebut. Maka tentunya perlu meningkatkan potensi publikasi tersebut berdampak dalam jangka panjang. 

              Apa saja yang bisa dilakukan dosen agar dampaknya tidak hanya dirasakan dalam tempo singkat? Berikut beberapa diantaranya: 

              1. Publikasi ke Media Bereputasi Tinggi

                Langkah pertama untuk memperpanjang dampak publikasi ilmiah adalah memilih media bereputasi tinggi. Sebab semakin kredibel media publikasi yang dituju. Maka semakin luas dampaknya dan semakin bertahan lama. 

                Misalnya saja publikasi dalam jurnal internasional bereputasi. Biasanya jurnal tersebut masuk ke berbagai database jurnal. Tidak hanya Scopus dan WoS, tapi juga Google Scholar, SINTA, Garuda, dan lain sebagainya. 

                Masuk ke database besar dan dikenal secara global, membuatnya tersimpan secara online. Akses ke publikasi kredibel tersebut bertahan lebih lama dan bahkan bertahan selamanya (abadi). 

                Ditambah, media publikasi terkemuka menjadi destinasi banyak orang dalam mencari referensi. Sehingga pembacanya selalu tinggi. Selama pengelola bisa menjaga reputasi dan kredibilitas. Maka sejalan dengan hal tersebut, dampak publikasi dosen tetap dirasakan masyarakat luas. 

                2. Melakukan Konversi ke Buku Ilmiah

                  Langkah kedua untuk meningkatkan dan mempertahankan dampak publikasi ilmiah dalam jangka panjang adalah konversi ke buku ilmiah. Menulis dan menerbitkan buku membuat hasil kegiatan tri dharma dosen diakses masyarakat banyak. Bukan hanya masyarakat ilmiah seperti pada prosiding dan jurnal. 

                  Tak hanya itu, buku ilmiah bisa dicetak beberapa kali oleh penerbit sepanjang penjualannya bagus. Ditambah, ada pilihan menerbitkan buku digital (ebook) yang tetap abadi di internet (jejak digital abadi). 

                  Konversi menjadi langkah yang paling dianjurkan, karena bisa mendapatkan bahan yang cukup dan tidak perlu menulis dari nol. Ada banyak KTI bisa dikonversi menjadi buku monograf maupun referensi. Tidak hanya laporan penelitian, tapi juga artikel pada prosiding dan jurnal. Termasuk tugas akhir seperti skripsi sampai disertasi. 

                  3. Menggunakan Layanan Konversi KTI dari Penerbit Deepublish

                    Langkah lain untuk mempertahankan dampak publikasi ilmiah dalam jangka panjang adalah menggunakan layanan Konversi KTI dari Penerbit Deepublish. Melalui layanan ini, proses konversi dikerjakan tim ahli. 

                    Sehingga dosen tidak perlu turun tangan sendiri dan fokus menjalankan kegiatan tri dharma lainnya. Hasil konversi juga dijamin punya kualitas mumpuni dan sesuai standar kelayakan untuk terbit menjadi buku ber-ISBN. 

                    Sehingga dengan buku berkualitas, maka pembacanya akan selalu ada. Hal ini membuat buku bisa bertahan lebih lama di berbagai toko buku. Kemudian dibaca lebih banyak orang, bahkan setelah belasan tahun sejak pertama kali diterbitkan. 

                    Melalui tiga langkah tersebut, dosen bisa lebih mudah mencapai luaran tambahan dalam kegiatan tri dharma. Sekaligus bisa menerbitkan buku ilmiah secara rutin. Sebab buku ilmiah bisa dicetak berulang dan selama masih diminati publik. Maka masih masuk di berbagai toko buku, baik online maupun offline. 

                    FAQ (Frequently Asked Questions)

                    1. Bagaimana cara menentukan harus publikasi di jurnal, prosiding, atau buku ilmiah?

                    Tentukan dari tujuan publikasi. Jika ingin pengakuan akademik tinggi, jurnal lebih tepat. Jika ingin publikasi cepat setelah konferensi, prosiding bisa dipilih. Jika ingin dampak lebih luas ke masyarakat, buku ilmiah menjadi pilihan terbaik.

                    2. Kenapa proses publikasi jurnal sering lebih lama dibanding prosiding?

                    Karena jurnal melalui proses peer review yang ketat oleh pakar, sedangkan prosiding biasanya hanya melalui presentasi dan revisi dari hasil konferensi, sehingga prosesnya lebih cepat.

                    3. Kenapa tidak disarankan copy paste dari jurnal ke buku ilmiah?

                    Karena dapat menyebabkan self-plagiarism. Setiap bentuk publikasi harus memiliki perbedaan struktur dan substansi pembahasan agar tetap sesuai etika akademik.

                    4. Bagaimana cara meningkatkan dampak publikasi ilmiah agar lebih luas?

                    Pilih media publikasi bereputasi tinggi dan lakukan konversi ke buku ilmiah agar hasil penelitian bisa diakses lebih banyak orang.

                    Referensi:

                    1. Perbedaan Konferensi Ilmiah, Prosiding, dan Jurnal. (2025). Indonesian Scientific Publication. Diakses pada 21 April 2026 dari https://idscipub.com/id/perbedaan-konferensi-ilmiah-prosiding-dan-jurnal/
                    2. Romadhona S. (2023). Jurnal dan Prosiding, Simak Perbedaannya Menurut Dosen Pakar Umsida. Diakses pada 21 April 2026 dari https://umsida.ac.id/perbedaan-jurnal-dan-prosiding-dari-dosen-umsida/
                    3. Pujiati. (2025). Publikasi Prosiding, Perlukah untuk Dosen? Diakses pada 21 April 2026 dari https://penerbitdeepublish.com/uncategorized/prosiding/
                    Karimatun Nisa

                    Recent Posts

                    Tata Cara Menyusun Outline Buku Akademik yang Baik dan Benar

                    Salah satu tahapan penting dalam menulis buku akademik atau buku ilmiah yang ditulis dose adalah…

                    3 jam ago

                    6 Bahaya Plagiarisme bagi Dosen dan Pihak Lain

                    Banyak yang mengira bahasa plagiarisme bagi dosen hanya dirasakan dosen itu sendiri. Padahal, bahasa dari…

                    1 hari ago

                    6 Strategi Meningkatkan Angka Kredit Kumulatif Dosen Lewat Buku Monograf

                    Menunjang kenaikan jenjang jabatan akademik, maka dosen perlu mengoptimalkan perolehan AK Kumulatif (Angka Kredit Kumulatif).…

                    1 hari ago

                    8 Kesalahan Menyusun Buku Referensi yang Perlu Diketahui dan Dihindari Dosen

                    Dalam menulis buku ilmiah, termasuk buku referensi para dosen mungkin menghadapi berbagai kendala. Kendala-kendala inilah…

                    3 hari ago

                    Memahami Daftar Kesalahan Menyusun Buku Ajar dan Cara Mengatasinya

                    Salah satu agenda rutin dosen di Indonesia adalah menulis dan menerbitkan buku ajar. Namun, masih…

                    4 hari ago

                    Panduan Menulis Buku Ajar sesuai Format dan Disajikan dengan Prinsip Pedagogis

                    Menulis buku ajar untuk dosen merupakan sebuah kewajiban akademik. Sekaligus bisa disebut sebagai kebutuhan semua…

                    4 hari ago