Pembuatan karya tulis atau karya ilmiah tentu saja membutuhkan teori yang mampu merumuskan dan menjelaskan, memprediksi, dan memahami fenomena mengenai berbagai kasus yang terjadi di dan ada di dalam proses dan objek penelitian. Teori tersebut ada guna menjadi acuan sehingga mampu memperluas pengetahuan.

Tentu saja, teori-teori tersebut memiliki batasan-batasan dan asumsi jawaban yang terkait dengan topik penelitian. Teori tersebut sering disebut landasan teori. Tak heran jika landasan teori jadi aspek paling penting yang digunakan penulis atau peneliti dalam menyelesaikan karya ilmiahnya.

Saat membuat karya tulis, karya ilmiah, dan lain sebagainya, penulis biasanya menuliskan landasan teori pada bagian awal karya tulis atau karya ilmiah tersebut. Landasan teori ini kemudian menjadi dasar yang paling penting dalam menjalankan penelitian ilmiah dan kegiatan yang tertuang di dalamnya.

Di dalam landasan teori, terkandung aspek atau komponen penting yang digunakan untuk mengeksplorasi rumusan masalah yang digunakan dan sesuai dengan riset atau pokok bahasan yang diteliti di dalamnya sehingga semua informasi yang dimuat di landasan teori jadi kuncian penting.

Bahkan, landasan teori ini sifatnya wajib dan harus ada di dalam setiap penelitian meskipun masih dalam bentuk proposal karya ilmiah. Mengapa demikian? Pentingnya dan mengapa landasan teori wajib digunakan dalam karya ilmiah akan dijelaskan secara mendetail di bawah ini.

Pengertian Landasan Teori

Landasan teori merupakan sebuah konsep dengan pernyataan yang sistematis atau tertata rapi karena landasan teori ini nantinya akan menjadi landasan yang kuat di dalam penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Arti lain dari landasan teori merupakan seperangkat definisi, konsep. proposisi yang telah disusun rapi dah sistematika mengenai berbagai variabel di dalam sebuah penelitian.

Landasan teori ini akan menjadi dasar yang kuat di dalam penelitian yang akan dilakukan. Oleh sebab itu, dengan adanya landasan teori dan terciptanya landasan tersebut dengan baik, maka penelitian akan menjadi salah satu hal yang penting karena landasan teorinya jelas, sistematis, dan baik yang kemudian jadi dasar atas penelitian tersebut.

Selain itu, landasan teori juga sering dianggap jadi bagian paling penting dari sebuah penelitian yang memuat tentang berbagai teori dan berbagai hasil penelitian yang berasal dari studi kepustakaan yang memiliki fungsi sebagai kerangka teori untuk menyelesaikan pekerjaan yaitu penelitian.

Sehingga secara umum, landasan teori yang memiliki kerangka tersebut berisi mengenai beberapa konsep lengkap dengan definisi dan berbagai referensi yang akan digunakan sebagai literatur atau rujukan ilmiah yang relevan dengan teori yang digunakan untuk menyelesaikan studi atau penelitian tersebut.

Selanjutnya, kerangka di dalam landasan teori tersebut memuat mengenai konsep serta definisi dan referensi untuk literatur ilmiah yang relevan dan teori yang digunakan untuk studi dan penelitian. Kerangka tersebut harus menunjukkan pemahaman mengenai teori dan konsep yang relevan dengan topik penelitian yang berhubungan dengan bidang pengetahuan penelitian.

Berikut adalah kerangka dari landasan teori yang mampu memperkuat penelitian dengan cara berikut:

– berisi mengenai pernyataan eksplisit terkait asumsi teoretis yang memungkinkan pembaca untuk dapat mengevaluasi penelitian secara kritis,

– kerangka teoretis menghubungkan peneliti dengan pengetahuan yang ada,

– disajikan dengan teori yang relevan, artinya peneliti memiliki dasar untuk menyusun hipotesis dan memilih metode penelitian,

– kerangka mampu mengartikulasikan asumsi teoretis dari studi penelitian yang memaksa peneliti untuk menjawab pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana, sehingga memungkinkan peneliti melakukan transisi secara intelektual dari menggambarkan suatu fenomena yang telah diamati untuk menggeneralisasi tentang berbagai aspek dari fenomena tersebut,

– memiliki teori yang membantu peneliti mengidentifikasi batasan generalisasi sehingga kerangka kerjanya mampu menetapkan variabel kunci yang memengaruhi fenomena yang diteliti dan menyoroti tentang kebutuhan untuk memeriksa bagaimana variabel kunci ini mungkin bisa berbeda dan perbedaannya dalam kondisi apa.

Pengertian Landasan Teori Menurut Para Ahli

Setelah memahami pengertian landasan teori secara umum, perlu juga dipahami bahwa berbagai ahli memiliki pandangan dan pendapat masing-masing mengenai apa itu landasan teori. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa pandangan para ahli mengenai landasan teori.

1. Sugiyono (2012)

Menurut Sugiyono, landasan teori adalah dasar riset yang perlu ditegakkan agar penelitian memiliki dasar yang kokoh dan bukan sekadar perbuatan coba-coba atau trial and error.

2. Moleong

Menurut Moleong. landasan tersebut didefinisikan sebagai seperangkat proposisi yang terintegrasi secara sintaksis (mengikuti aturan tertentu yang menghubungkan secara logis dengan data yang diamati) dan berperan sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati.

3. Djojosuroto Kinayati & M.L.A Sumaryati

Djojosuroto Kinayati & M.L.A Sumaryati berpendapat bahwa teori dari perspektif lain yakni sebagai konsep, proposisi, dan asumsi yang menjelaskan fenomena sosial secara tertata dan dirumuskan dengan hubungan antar-konsep.

4. Sardar Ziauddin

Sardar Ziauddin berpendapat bahwa landasan teori sebagai sistem konsep abstrak yang digunakan untuk melihat apakah ada hubungan konsep. Dimana teori ini digunakan untuk memahami sebuah fenomena yang terjadi dan beliau memandang teori ini sebagai konsep dasar penelitian sosial yang dapat menjelaskan hubungan dengan tersistematis, terperinci atau tidak.

5. Neuman

Neuman mengungkapkan pendapatnya mengenai teori ini sebagai konsep, proposisi, dan definisi yang digunakan untuk dapat melihat sebuah fenomena secara sistematis. Digunakan untuk melihat spesifikasi hubungan antar-variabel yang memudahkan dalam meramalkan fenomena penelitian.

6. Ismaun

Ismaun mendefinisikan bahwa pengertian landasan teori adalah hal yang lebih sederhana, yaitu sebagai pernyataan yang berisi kesimpulan substantive tentang keteraturan.

7. Kerlinger

Kerlinger berpendapat bahwa landasan teori adalah konsep yang memiliki hubungan satu sama lain yang di dalamnya memuat isi terkait pandangan dari fenomena yang sistematis.

8. Manning

Menurut Maning, teori ini merupakan seperangkat asumsi terkait kesimpulan yang logis dan menghubungkan satu set nilai-nilai variabel antara satu sama lain.

9. Littlejohn and Karen Foss

Keduanya berpendapat bahwa teori ini adalah sebuah konsep abstrak dan hubungan dari beberapa konsep yang akan mempermudah peneliti dalam memahami suatu peristiwa atau fenomena.

10. Stevens

Stevens mengungkapkan landasan yang berisi teori ini adalah pernyataan yang memuat tentang penyebab timbulnya ciri dari beberapa peristiwa.

Baca Juga:

Instrumen Penelitian: Pengertian,Jenis-Jenis,dan Contoh Lengkap

11 Jenis Laporan Penelitian yang Baik dan Benar 

Jenis Data Penelitian yang Perlu Anda Ketahui 

Kesulitan Menentukan Topik Penelitian ? Temukan Jawabannya Disini!

Fungsi dan Tujuan Landasan Teori

Adapun landasan teori ini tentu memiliki fungsi dan tujuan. Pertama yang akan dibahas mengenai apa saja fungsi dari teori.

– Teori ini memiliki fungsi untuk menyusun dan meringkas terkait pengetahuan pada suatu bidang tertentu.

– Fungsi teori ini yang kedua adalah sebagai peristiwa atau fenomena yang sedang terjadi dan kemudian dibuat sebagai keterangan sementara di dalam penelitian.

– Fungsi terakhir yakni sebagai kegiatan dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang baru mengenai apa saja yang ada pada sebuah tulisan.

Selain fungsi, landasan teori juga memiliki tujuan penting sehingga teori tersebut tercipta dan dimasukkan ke dalam penelitian. Berikut ini adalah tujuan dari landasan teori.

– Teori digunakan untuk menjelaskan mengenai hal yang terkait atas perilaku dan sikap di dalam penelitian.

– Teori juga diperlukan sebagai poin akhir pada sebuah kegiatan penelitian. Artinya, peneliti di sini akan menjalankan kegiatan penelitiannya secara induktif.

– Menggunakan perspektif teoretis sebagai panduan umum dalam kegiatan meneliti yang di dalamnya terkait gender, ras, kelas, dan lain sebagainya.

– Beberapa penelitian jenis kualitatif tidak selalu menerapkan teori yang terlalu eksplisit.

– Teori ini bertujuan untuk menemukan suatu hal baru dan digunakan untuk menyempurnakan penemuan sebelumnya.

Hal Penting dalam Membuat Landasan Teori

Hal penting dalam membuat landasan teori sangat harus diperhatikan. Hal ini agar dalam pembuatan teorinya, selain relevan dengan penelitian yang dilakukan juga karena teori ini menjadi acuan yang akan membawa keberhasilan penelitian. Oleh sebab itu, inilah beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam membuat landasan teori.

1. Isi Landasan Teori

Isi di dalam teori tersebut dianggap penting karena berisi mengenai apa saja isi masalah di dalam teori tersebut, mengingat di dalam teori yang akan dipakai adalah sebagai dasar ilmiah. Sehingga isi dari landasan teori juga harus tertata secara sistematis dan juga terencana.

Terkait dengan isi yang terdapat di dalam teori tersebut, setidaknya harus ada beberapa poin yang dimuat di dalamnya, sebagai berikut:

– kerangka teori variabel atau sub variabel pertama

– kerangka teori variabel atau sub variabel kedua 

– kerangka teori variabel atau sub variabel ketika 

– kajian terdahulu 

– kerangka berpikir

Dengan adanya poin yang sudah disebutkan di atas, maka pembuatan landasan teori tersebut sudah mengacu pada berbagai aturan-aturan yang menjadi syarat bahwa sebuah teori aman dan valid sehingga tak perlu diragukan lagi kebenaran dan fakta yang tersaji di dalamnya.

2. Tips Menyusun Landasan Teori

Setelah memerhatikan isi di dalam teori, langkah selanjutnya yang harus ada di dalam teori adalah mengetahui bagaimana tips untuk memulai menyusun teorinya. Berikut ini adalah langkah dan cara yang harus dilakukan untuk menyusun landasan teori.

a. Ketetapan (adequacy)

Maksudnya adalah memilih sumber teori yang memenuhi unsur ketepatan atau adequacy. Dikatakan memenuhi ketepatan ketika sumber yang dipilih menjadi derajat kesesuaian dengan sumber pendukungnya.

b. Kejelasan (clarity)

Tips yang harus ada kedua adalah kejelasan. Teori yang disajikan harus berdasarkan kejelasan atau clarity, yang mana peneliti memiliki tanggung jawab penuh untuk memahami masalah yang disajikan, menganalisis dan mengupas masalah tersebut secara mendalam sehingga ditemukan kejelasan antara teori dan penelitian.

c. Empiris

Dari hasil analisis penelitian dan kajian di lapangan, maka akan didapatkan data yang empiris dan aktual sehingga hal ini bisa jadi bekal untuk membuat teori yang valid.

d. Relevansi

Teori yang ditulis juga harus relevan dengan kutipan atau rujukan yang dipakai dan juga berdasarkan variabel dan hipotesis yang sedang terjadi dan menarik perhatian bagi peneliti dan juga pembaca.

e. Organisasi

Teori yang disajikan juga harus memperhatikan organisasi. Artinya, organisasi ini mengacu pada keberadaan literatur yang tersusun secara sistematis.

f. Meyakinkan

Teori tersebut juga harus menyajikan materi atau teori yang mampu meyakinkan, baik kepada pembaca maupun untuk dirinya sendiri.

Dari tips dan juga isi yang disebutkan di atas, maka hal penting dalam membuat landasan teori pada intinya adalah dibuat secara sistematis berdasarkan fakta yang aktual dan juga dimasukkan atau ditambahkan hasil penelitian lain yang pernah dilakukan sebagai sumber yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Peneliti juga harus membuat batasan masalah penelitian. Ini sangat berguna agar penelitian dilakukan sesuai rencana dan tidak melebihi batas, baik dari teori, metodologi, dan aspek lainnya.

Baca Juga:

Pengertian Observasi dan Jenis-Jenisnya(Lengkap)

10 Contoh Karya Ilmiah yang Baik dan Benar 

Contoh Variabel Kontrol Lengkap Dengan Pengertian dan Ciri-Cirinya

Contoh Variabel Terkait yang Baik dan Benar 

Instrumen Penelitian:Pengertian,Jenis-Jenis,dan Contoh Lengkap

Jenis Angket Penelitian yang Wajib Diketahui 

Desain Penelitian: Pengertian,Jenis,dan Contoh Lengkap

Macam-Macam Landasan Teori

Setidaknya, ada tiga macam landasan teori yang bisa digunakan berdasarkan pada jenis-jenisnya.

1. Teori dalam Penelitian Kuantitatif

Artinya, peneliti harus memahami dulu variabel dan jenis penelitian kuantitatif yakni variabel yang menyelidiki mengenai fakta pada suatu karakter individu atau suatu organisasi yang dapat diukur. Jenis variabel yang digunakan antara lain:

– variabel bebas atau independen

– variabel terikat atau dependen

– variabel intervening atau mediating

– variabel moderating

– variabel kontrol

– variabel confounding

Teori di dalam penelitian kuantitatif berisi seperangkat gagasan atau variabel yang saling berhubungan dan berasosiasi dengan proposisi atau hipotesis yang merinci hubungan antarvariabel. Teori dalam penelitian ini bisa dalam bentuk argumentasi, pembahasan, atau alasan yang membantu menjelaskan fenomena yang muncul di dunia.

Ada beberapa teori yang harus ada di dalam penelitian kuantitatif:

– peneliti menegaskan teori dalam bentuk hipotesis yang saling berhubungan,

– peneliti menyatakan teori dalam bentuk pernyataan “jika…. maka…” yang menunjukkan pengaruh variabel bebas dapat memengaruhi variabel terikat,

– peneliti menyajikan teori dalam bentuk visual sebagai terjemahan dari variabel ke dalam gambar visual.

2. Teori dalam Penelitian Kualitatif

Teori kualitatif ini memiliki tujuan yang berbeda-beda di antaranya:

– dalam penelitian kualitatif, landasan teori yang digunakan sebagai penjelasan atas perilaku dan sikap tertentu yang dilengkapi dengan variabel, konstrak, dan hipotesis penelitian,

– peneliti sering menggunakan perspektif teoretis sebagai panduan untuk meneliti gender, kelas, ras, dan lainnya,

– teori yang digunakan sebagai akhir penelitian sehingga penerapannya secara induktif berdasarkan data, kemudian ke tema umum, dan menuju teori tertentu,

– beberapa penilaian kualitatif tidak menggunakan teori yang terlalu eksplisit.

3. Teori dalam Penelitian Metode Campuran

Dalam hal ini, dapat diterapkan secara deduktif, seperti pengujian atau verifikasi teori kuantitatif atau secara induktif, seperti pemunculan teori atau pola kuantitatif dan lainnya. Tujuannya untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menggabungkan data kuantitatif dan data kualitatif menggunakan metode yang berbeda.

Dalam kerangka kerja ini, digunakan dua bentuk yang biasanya dipakai kurang lebih selama 10 tahun belakangan ini, yaitu:

– menggunakan kerangka kerja ilmu sosial

– menggunakan kerangka kerja transformatif.

Cara Menuliskan Landasan Teori

Berikut ini beberapa cara untuk menuliskan landasan teori sebagai berikut.

– Nama pencetus teori

– Tahun dan tempat pertama kali rujukan teori tersebut dipublikasi atau dicetak

– Uraian ilmiah

– Relevansi teori

Ciri-ciri Landasan Teori yang Baik

Berikut ini merupakan ciri-ciri landasan teori yang baik dan dapat digunakan sebagai dasar atau acuan dalam penelitian.

– Teori memberi kemudahan pemahaman dan menerangkan yang terjadi dengan hubungan masalah demi masalah dan dapat digunakan untuk menyelidiki gejalanya.

– Teori yang baik dapat dilihat dari konsistensi data yang dipaparkan.

– Teori mampu membuktikan fenomena sosial yang masih dalam perdebatan atau pernyataan bagi masyarakat untuk membuktikan asumsi atau hipotesis.

– Landasan teori yang baik bagian terakhir mendorong adanya penemuan baru.

Contoh Singkat Landasan Teori

Diambil dari artikel yang telah tayang di laman Penerbit Deepublish, yaitu dari penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Regulasi Diri Eksternal Dengan Aspirasi Karir Stereotip Gender pada Siswa Kelas 1 SD di Kota Yogyakarta”.

Landasan Teori

A. Pilihan Aspirasi karier yang Stereotip Gender 

1. Perspektif teori 

Stereotip peran gender adalah pengkategorian segala sesuatu berdasarkan alasan kesesuaian dengan peran gendernya. Hal ini berarti, seorang anak laki-laki akan memilih segala sesuatu (termasuk aspirasi karier) yang bersifat maskulin. Hal ini juga berlaku pada anak perempuan yaitu akan memilih segala sesuatu yang bersifat feminine. 

Pengkategorian itu akan digeneralisir pada hal-hal yang lain, tidak hanya aspirasi karir saja. Apabila terjadi penyimpangan, misal anak laki-laki memiliki aspirasi karir yang feminine atau anak perempuan memiliki aspirasi karier yang maskulin, maka anak itu akan mendapatkan sanksi sosial (Abouchedid & Nasser, 2007; Almutawa, 2005; Bartlett & Vasey, 2000: Crespi, 2003; Harrison & O’Neill, 2003, Teig & Suskind, 2008; Zadu Qisti, 2009).

Jung mengaitkan sisi feminine kepribadian pria dan sisi maskulin kepribadian wanita dengan arkhetipe-arkhetipe. Archetype feminine laki-laki disebut anima, arkhetipe maskulin wanita disebut animus. Masing-masing jenis menunjukan ciri-ciri lawan jenisnya, tetapi mereka juga berperan sebagai gambaran kolektif yang memotivasi masing-masing jenis tertarik dan memahami anggota lawan jenisnya. 

Misalnya laki-laki memahami kodrat wanita berdasarkan animanya, wanita memahami kodrat pria berdasarkan animusnya (Lindzey & Hall : 1993)

Dst…

2. Faktor yang mempengaruhi pilihan aspirasi karier yang stereotip gender 

a. Orangtua 

…Semua keperluan yang diperlukan si anak mampu dikuasai oleh orangtua. Alam bawah sadar, segala sesuatu yang diberikan/dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus akan menjadi sebuah watak, dan sifat yang kemudian tercermin di dalam sebuah perilaku. Diperkuat dengan teori Charlotte Buhler, anak usia 5-8tahun anak sedang berada di fase sosialisasi. 

Anak mulai memasuki masyarakat luas lewat Taman Kanak-kanak dan teman permainan. Anak mulai mengenal dunia secara objektif dan mulai mengenal arti prestasi pekerjaan dan tugas-tugas kewajiban. Termasuk kewajiban yang dibuat oleh orangtuanya (Kartono, 1995).

b.Guru 

Guru juga mempengaruhi aspirasi karier yang stereotip gender pada anak. Misalnya, saat mengajarkan pada anak-anak kelas satu, kalimat “Ayah pergi ke sawah dan ibu sedang memasak”. Nah, dalam kalimat ini tanpa disadari adanya perbedaan peran gender yang membuat anak menjadi stereotip gender (Hess & Ferre, 1987). 

B. Regulasi Diri 

Regulasi diri merupakan bentuk kontrol diri yang melibatkan kontrol emosi dan kognitif. Regulasi diri bisa berjalan dengan baik karena memiliki pengalaman (Bandura, 1994: Fasikhah & Fatimah, 2013; Nisfiannoor & Kartika, 2004). Jadi regulasi diri adalah anak mampu mengontrol perilakunya sesuai dengan norma lingkungan sosial yang berlaku di sekitarnya. 

Pembentukan regulasi berkaitan erat dengan kemampuan metakognitif anak itu sendiri. metakognitif adalah pengetahuan dan kesadaran tentang proses kognisi tentang pemikiran. Metakognitif suatu proses yang mengunggah rasa ingin tahu karena kita menggunakan proses kognitif yang mampu dijadikan panduan dalam menata sarana dan menyeleksi strategi (Desmita, 2005).

Artikel Terkait: