Mencari informasi mengenai bagaimana cara membuat buku panduan tentu penting. Apalagi jika dalam waktu dekat perlu menyusun buku panduan tersebut. Buku panduan sendiri memang menjadi jenis buku yang familiar bagi siapa saja.
Sebab jenisnya beragam dan dekat dengan keseharian. Misalnya buku panduan penggunaan perangkat elektronik, penggunaan dan perawatan produk, panduan penulisan naskah ilmiah seperti panduan menulis skripsi, dll. Jadi, seperti apa proses pembuatannya? Berikut informasinya.
Sebelum sampai ke pembahasan mengenai tata cara membuat buku panduan. Maka dibahas dulu beberapa hal mendasar. Secara umum, buku panduan adalah salah satu jenis buku yang substansi atau isinya membahas petunjuk, arahan, atau langkah-langkah kepada pembaca.
Buku panduan memiliki jenis yang beragam. Sehingga informasi yang disajikan di dalamnya juga cukup beragam. Misalnya berisi penjelasan mengenai memahami, menjalankan, atau menerapkan suatu kegiatan, prosedur, sistem, maupun kebijakan tertentu.
Beberapa contohnya seperti buku panduan penggunaan elektronik. Kemudian di lingkungan akademik, ada buku panduan penulisan tugas akhir (skripsi, tesis, dan disertasi) dan buku panduan program hibah untuk penelitian dosen.
Contoh lainnya, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang menjalankan suatu program atau kebijakan baru. Biasanya menerbitkan buku panduan untuk pelaksanaan program dan kebijakan baru tersebut.
Melalui penjelasan ini, maka bisa dipahami buku panduan disusun untuk memberi pemahaman kepada pembaca mengenai tata cara penggunaan suatu produk. Maupun untuk melaksanakan suatu kegiatan dan program sesuai ketentuan. Sehingga bisa berjalan dengan baik dan benar.
Dalam menerapkan tata cara membuat buku panduan, tentunya akan membutuhkan sistematika penulisan yang baik dan benar. Berhubung jenis buku panduan sangat beragam dan tujuan penyusunan sampai target pembaca berbeda-beda.
Maka secara umum, sistematika atau struktur penulisan buku panduan sifatnya fleksibel. Kecuali untuk buku panduan di lingkungan akademik atau perguruan tinggi. Maka biasanya dimasukan dalam kategori karya ilmiah, sehingga terikat dengan aturan struktur dan gaya bahasa. Berikut adalah struktur umum dari buku panduan:
Sebagai informasi tambahan, struktur buku panduan di atas sekali lagi bersifat umum. Dalam praktek di lapangan saat penyusunan, struktur penulisan dan aspek lainnya menyesuaikan dengan kebutuhan dan kebijakan masing-masing. Sebab tergantung jenis, substansi pembahasan, tujuan, dll dari buku panduan yang disusun.
Misalnya, jika menyusun panduan penggunaan elektronik. Maka biasanya langsung di bab isi atau inti. Sehingga menjelaskan tata cara penggunaan, perawatan, larangan yang berpotensi merusak, dan sebagainya.
Contoh lain, jika menyusun buku panduan program hibah. Biasanya akan mencantumkan informasi mengenai sanksi pelanggaran kebijakan penyelenggara hibah. Kemudian ada halaman lampiran yang umumnya berisi template proposal usulan, surat pernyataan, dll.
Dalam tata cara membuat buku panduan yang baik dan benar. Maka sudah tentu penyusunannya harus sistematis. Berikut tahapan detailnya dari awal sampai akhir:
Tahap yang pertama dalam menyusun buku panduan adalah menentukan topik dan tujuan penyusunannya. Tujuan penyusunan buku panduan akan sangat beragam. Begitu juga dengan topik yang akan dipaparkan di dalamnya.
Dalam menentukan topik, tentunya harus spesifik dan sesuai dengan kebutuhan dari target pembaca. Penentuan tujuan akan membantu fokus pada pembahasan terkait topik secara lebih spesifik lagi.
Misalnya, buku panduan penggunaan aplikasi mobile. Maka topik utamanya cara menggunakan aplikasi tersebut. Kemudian tujuannya adalah memandu pengguna mengetahui dan memanfaatkan berbagai fitur di aplikasi tersebut. Jadi, pembahasan terfokus atau tidak melebar kemana-mana.
Tahap yang kedua adalah menentukan target pembaca buku panduan tersebut. Target pembaca perlu ditentukan dari awal dan bisa dibuat spesifik atau justru dibuat umum. Namun, lebih disarankan dibuat spesifik.
Sebab target pembaca yang berbeda menentukan gaya bahasa, kedalaman penjelasan atau materi di buku panduan, teknik penyajian informasi, dan sebagainya. Jadi, silahkan menentukan target pembaca yang dituju. Apakah mahasiswa, dosen, pegawai kantoran, ibu rumah tangga, remaja usia sekolah, atau yang lainnya?
Tahap ketiga adalah menentukan alur atau prosedur yang menjadi materi inti di dalam buku panduan. Pada tahap ini, penulis buku panduan bisa membuat kerangka atau diagram alir.
Isinya tahapan proses, tahapan penggunaan, dan bentuk lain yang menjadi materi inti. Buat dulu dalam sketsa atau coretan. Pastikan sistematis dan juga lengkap. Sehingga memudahkan proses penyusunan di tahap berikutnya.
Tahap keempat dalam cara membuat buku panduan adalah menyusun struktur buku panduan tersebut. Pada tahap ini sama artinya penulis perlu menyusun kerangka buku panduan yang lebih rinci dibanding tahap sebelumnya (jika menyusun kerangka awal).
Pada tahap ini silahkan menentukan bagian awal, bagian inti, dan seterusnya. Sekaligus urutan pembahasan di setiap bagian dan pastikan runtut atau sistematis. Sesuaikan struktur dengan kebutuhan maupun ketentuan dari pihak terkait.
Tahap yang kelima, penulis sudah bisa menyusun naskah buku panduan. Tentunya dengan menjadikan kerangka struktur yang disusun di tahap sebelumnya sebagai acuan.
Silahkan menyusun jadwal untuk bisa konsisten mengembangkan kerangka buku panduan. Kemudian, disarankan untuk dikembangkan secara runtut. Misalnya dari bab pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya secara berurutan. Tujuannya agar terfokus dan menghindari pengulangan pembahasan.
Tahap berikutnya, secara umum bersifat opsional yaitu menambahkan contoh dan ilustrasi. Menambahkan contoh untuk buku panduan yang pembahasan utamanya memang butuh contoh langsung.
Misalnya panduan menyusun surat pernyataan keaslian naskah. Maka menampilkan gambar surat pernyataan keaslian naskah. Selain itu, bisa mempertimbangkan menambahkan ilustrasi.
Khususnya pada panduan berisi langkah-langkah sistematis dan bertujuan memberi penjelasan yang praktis atau aplikatif pada pembaca. Misalnya panduan menggunakan aplikasi A di smartphone. Maka bisa membuat diagram alir untuk memvisualisasikan langkah-langkah penggunaan tersebut.
Dalam beberapa kondisi, buku panduan juga bisa ditambahkan video panduan. Misalnya animasi bergerak yang memberi gambaran lebih rinci mengenai tahap praktek penjelasan di buku panduan.
Baca juga: Gambar Ilustrasi dan Keuntungan Jika Masuk ke Buku Hasil Penelitian
Tahap selanjutnya dalam bagaimana cara membuat buku panduan adalah proses editing dan juga penyuntingan. Tahap ini dilakukan setelah buku panduan selesai disusun. Kemudian diperiksa lagi ada tidaknya kesalahan.
Jadi, penulis perlu membaca ulang naskahnya. Kemudian mengecek kesalahan dan dikoreksi. Baik dari teknis penulisan, susunan kalimat, dan aspek lainnya. Tujuan di tahap ini adalah menyempurnakan isi naskah. Sehingga enak dibaca dan mudah dipahami sekaligus.
Baca juga: 7 Hal yang Harus Diperhatikan saat Melakukan Self Editing
Tahap akhir dari penyusunan buku panduan adalah proses cetak. Saat ini, buku panduan bisa dicetak ke media kertas. Bisa juga dibuat dalam format digital, misalnya PDF.
Buku panduan tersebut kemudian dipublikasikan, atau disertakan pada produk (misalnya panduan penggunaan produk). Sehingga diterima pembeli produk secara bersamaan saat menerima produk tersebut.
Ada juga yang dipublikasikan di situs atau website resmi perusahaan dan institusi. Khususnya dalam format digital. Sehingga tidak ada proses cetak dan hanya fokus pada desain layout sampai desain cover.
Pada tahap ini juga, penulis perlu melakukan pembaharuan berkala. Khususnya jika ada update informasi pada produk, program, maupun regulasi yang dijelaskan di buku panduan. Sehingga ada buku panduan baru yang lebih relevan bagi pembaca.
Dalam penerapan tata cara membuat buku panduan, seringkali penulis melakukan kesalahan. Hal ini tentunya perlu dihindari untuk menyempurnakan isi buku panduan tersebut. Kesalahan yang dimaksud antara lain:
Buku panduan tentunya disusun untuk memudahkan pembaca menerapkan atau mempraktekkan penjelasan di dalamnya. Sayangnya tidak sedikit yang membuat isinya tidak runtut, sehingga sulit dipahami.
Diperparah lagi dengan penjelasan yang tidak efektif. Misalnya tidak langsung ke inti informasi. Tapi menjelaskan dul beberapa hal yang kurang penting. Sehingga membuat pembaca mudah bosan dan tidak bisa memahami panduan yang dipaparkan.
Kesalahan umum kedua, desain buku panduan yang buruk. Secara umum, buku panduan tidak hanya memberi informasi penerapan penjelasan di dalamnya. Akan tetapi juga ada unsur promosi.
Misalnya, panduan program hibah. Maka panduan ini juga ikut mempromosikan program hibah tersebut. Begitu juga dengan buku panduan jenis lainnya. Maka penting untuk disajikan secara profesional.
Aspek desain harus menarik dan informasi di dalamnya bisa dibaca dengan jelas. Sayangnya banyak yang kurang memperhatikan aspek desain. Sehingga desain buku panduan kurang menarik dan tidak ada kesan profesional.
Informasi di dalam buku panduan harus mudah diaplikasikan atau dipraktekan oleh pembaca. Sayangnya karena penjelasan yang kurang runtut, kalimat terlalu panjang atau tidak efektif, dan sebab lainnya.
Maka proses penerapan informasi di dalamnya menjadi tidak mudah. Pembaca pun mengalami kesulitan memahami dan mempraktekannya. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian penulis.
Kesalahan umum lainnya, buku panduan statis atau tidak dikembangkan. Padahal suatu produk, program, sampai regulasi akan terus dikembangkan. Buku panduan sudah sepatutnya mengikuti.
Misalnya saat Kemdiktisaintek meluncurkan program hibah tahun ini, maka menerbitkan buku panduan baru. Bukan mengandalkan buku panduan lama, karena bisa tidak relevan lagi dengan kebijakan pemerintah atau sebab lainnya.
Bagi Anda yang berencana menerapkan tata cara membuat buku panduan yang dijelaskan di atas. Kemudian khawatir atau bahkan sudah berhadapan dengan kesulitan dan melakukan kesalahan tertentu.
Maka ada baiknya menggunakan layanan profesional untuk konsultasi penyusunan yang baik dan benar. Penerbit Deepublish menyediakan layanan konsultasi penyusunan buku panduan profesional. Sehingga memudahkan penyusunan yang lebih sistematis, jelas, dan siap digunakan secara profesional.
Tentukan target pembaca sejak awal agar gaya bahasa, kedalaman materi, dan teknik penyajian sesuai kebutuhan mereka, misalnya mahasiswa, pegawai, atau masyarakat umum.
Struktur umum mencakup bagian awal (cover, judul, kata pengantar, daftar isi), isi (pendahuluan, materi utama, petunjuk teknis, masalah & solusi), dan penutup (glosarium, lampiran, daftar pustaka).
Editing dan revisi membantu memperbaiki tata bahasa, kalimat, dan susunan naskah agar enak dibaca, jelas, dan siap digunakan pembaca.
Lakukan pembaharuan berkala, terutama jika ada perubahan regulasi, produk, atau prosedur, agar panduan selalu sesuai kebutuhan pembaca.
Referensi:
Budaya akademik di lingkungan perguruan tinggi tidak sebatas kegiatan tri dharma. Melainkan juga lebih luas…
Dalam proses penerbitan buku, kadang kala penerbit menilai naskah tidak siap menjadi buku. Dalam kondisi…
Sejumlah jenis karya tulis ilmiah (KTI) tidak hanya menjadi media untuk penyebarluasan hasil penelitian. Seperti…
Karya tulis ilmiah yang disusun para dosen berdasarkan hasil pelaksanaan tri dharma, tentunya tidak hanya…
Karya tulis ilmiah yang mengangkat topik mengenai isu lingkungan dan pascatambang. Tentunya menjadi karya tulis…
Produktif dan konsisten menerbitkan buku ajar sampai buku referensi memberikan peran penting bagi perguruan tinggi.…