Memahami Daftar Kesalahan Menyusun Buku Ajar dan Cara Mengatasinya

Memahami Daftar Kesalahan Menyusun Buku Ajar dan Cara Mengatasinya

Salah satu agenda rutin dosen di Indonesia adalah menulis dan menerbitkan buku ajar. Namun, masih banyak kesalahan menyusun buku ajar yang jamak dilakukan oleh para dosen. 

Bentuk kesalahan dalam penulisan buku ajar juga cukup beragam. Hal ini tentunya disebabkan oleh beberapa faktor. Memahami fakta ini, para dosen tentunya perlu mencari solusi agar kesalahan tersebut bisa dihindari. Berikut informasinya. 

Daftar Kesalahan Menyusun Buku Ajar

Buku ajar disusun dosen mengacu pada RPS dan ditujukan sebagai pegangan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Buku ajar tersebut tentunya harus ditulis dengan baik dan benar sesuai standar yang ditetapkan Kemdiktisaintek. 

Hanya saja, masih banyak sekali kesalahan menyusun buku ajar yang dilakukan oleh para dosen. Berikut beberapa diantaranya: 

1. Hanya Menyalin Slide Perkuliahan

    Kesalahan pertama yang sering dilakukan dosen saat menulis buku ajar adalah menyalin slide presentasi. Slide presentasi memang bisa menjadi tambahan informasi dalam naskah buku ajar. 

    Sebab sama-sama disusun dosen untuk menyampaikan materi perkuliahan sesuai RPS. Sekaligus memiliki sumber kredibel. Hanya saja, buku ajar tidak bisa dibuat sama isinya dengan slide presentasi. Sebab secara gaya bahasa, aturan penyajian materi, dan detail lain berbeda. 

    Jika hanya menyalin slide presentasi, maka tentunya isi buku ajar terlalu ringkas dan bisa juga masuk kategori self plagiarism. Idealnya slide presentasi pemaparan materi menjadi referensi tambahan. Isi buku ajar juga bukan copy paste slide tersebut, tapi dilakukan parafrase dan diberi penjelasan tambahan agar lebih rinci. 

    2. Struktur Buku Tidak Sistematis

      Kesalahan menyusun buku ajar oleh para dosen juga bisa dalam bentuk struktur buku yang tidak sistematis. Salah satu kriteria dalam buku ajar adalah seluruh materi dipaparkan secara sistematis. Sehingga urutannya tepat sesuai alur logika keilmuan agar mudah dipahami. 

      Hanya saja, karena satu dan lain hal sistematika standar ini sulit dipenuhi oleh dosen. Bisa karena kesalahan penentuan alur, sehingga ada materi yang seharusnya dibahas di awal tapi justru ditempatkan di bab pertengahan. Terdengar sepele, akan tetapi dampaknya bisa menyulitkan pembaca memahami penjelasan materi. 

      3. Kurang Menyesuaikan dengan Pendekatan Pedagogis

        Selain harus disusun secara sistematis atau berurutan sesuai alur logika keilmuan. Kriteria lain dari buku ajar adalah disusun dosen dengan prinsip pedagogis. Lebih tepatnya menggunakan prinsip Technological Pedagogical Content Knowledge. 

        Melalui prinsip ini, materi di dalam buku ajar mengkombinasikan 3 komponen penting. Yakni keterampilan pedagogik dosen dalam menjelaskan materi, pemanfaatan teknologi untuk efektivitas pemaparan materi dan pemahaman mahasiswa, dan teori terkait materi dipaparkan secara jelas serta terperinci. 

        Sayangnya, belum semua dosen bisa menggunakan prinsip Technological Pedagogical Content Knowledge. Sehingga tidak ada informasi detail mengenai metode pembelajaran yang diterapkan, tujuan atau capaian pembelajarannya apa, dan detail lainnya. 

        4. Minim Contoh dan Studi Kasus

          Kesalahan penyusunan buku ajar berikutnya adalah masih minim contoh dan studi kasus. Keduanya penting untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa saat membaca isi buku ajar tersebut. Sebab dalam prinsip Technological Pedagogical Content Knowledge yang dijelaskan sebelumnya. 

          Teori dari materi harus dilengkapi dengan penggunaan teknologi. Kemudian saat buku ajar disusun dengan pendekatan OBE, maka materi di dalamnya harus bisa dipraktekan langsung oleh mahasiswa. Maka contoh di lapangan dan studi kasus sangat disarankan untuk ada di dalam naskah. 

          Baca juga: Pengertian dan Tahap Penyusunan RPS Berbasis OBE 

          5. Referensi Kurang Memadai

            Kesalahan berikutnya, referensi yang digunakan dosen untuk menyusun naskah buku ajar kurang memadai. Secara umum, ada 3 kriteria referensi yang digunakan disebut tepat. Yakni relevan dengan topik, merupakan terbitan terkini (mutakhir), dan kredibel (bukan terbitan tanpa editorial atau peer review). 

            Kadang kala dosen keliru dalam memilih referensi. Bisa karena keterbatasan database yang bisa diakses, topik atau materi yang dipaparkan dalam buku ajar jarang diteliti, dan sebab lainnya. Pada akhirnya referensi terlalu terbatas atau bahkan tidak memenuhi 3 kriteria dasar yang dijelaskan sebelumnya. 

            6. Tidak Menentukan dan Mencantumkan Capaian Pembelajaran

              Buku ajar yang disusun dosen perlu memaparkan secara jelas capaian pembelajaran yang menjadi tujuan akhir kegiatan pembelajaran (perkuliahan). Hanya saja, masih banyak dosen terlupa atau bahkan tidak menentukan capaian pembelajaran. 

              Hal ini membuat informasi capaian pembelajaran tidak tercantum pada naskah. Sehingga secara substansi (isi), buku ajar tersebut menjadi tidak lengkap sesuai standar yang berlaku. 

              7. Tidak Melakukan Penyuntingan Naskah

                Kesalahan menyusun buku ajar selanjutnya, dosen tidak melakukan proses penyuntingan naskah. Penyuntingan masuk dalam proses penting di dalam penulisan buku ajar. Hal ini bahkan berlaku untuk penulisan buku jenis lainnya. 

                Penyuntingan memastikan isi naskah baik dan benar, makna jelas, mudah dipahami, enak dibaca, dan sejenisnya. Sehingga kualitas isi naskah lebih optimal dan resiko revisi skala besar dari pihak penerbit bisa ditekan. Sayangnya, masih banyak dosen enggan melakukan penyuntingan mandiri. 

                8. Terlalu Perfeksionis 

                  Buku ajar yang disusun oleh dosen tentunya ibarat tidak ada gading yang tak retak. Buku ajar tersebut tentunya tidak bisa sempurna. Hal ini berlaku juga untuk buku ajar yang ditulis semua dosen. 

                  Sayangnya, masih banyak dosen yang menganggap naskah buku ajar yang disusun sudah sempurna. Tidak ada kesalahan dan dipastikan tidak diminta revisi oleh editor penerbit. Sikap perfeksionis seperti ini membuat isi naskah dinilai sudah sempurna. 

                  Dosen enggan melakukan editing dan penyuntingan mandiri. Pada saat masuk proses penerbitan, dosen menolak melakukan revisi. Sikap ini tentunya menurunkan kualitas buku ajar yang disusun. 

                  9. Menunggu Waktu Luang untuk Menulis Buku Ajar

                    Kesalahan menyusun buku ajar juga bisa dalam bentuk menunggu waktu luang. Dosen yang merasa sangat sibuk dengan agenda akademik yang tidak berkesudahan dan kadang menyita waktu akhir pekan. Merasa tidak bisa menulis buku karena tidak ada waktu tersisa untuk kegiatan tersebut. 

                    Alhasil, naskah buku monograf tidak bisa diselesaikan dan kemudian terbengkalai. Padahal, dosen punya kewajiban mengembangkan bahan ajar dan salah satunya dalam bentuk menyusun buku ajar. 

                    Jadi, idealnya dosen harus sengaja meluangkan waktu untuk menulis. Kemudian menyusun jadwal menulis buku ajar dan karya tulis ilmiah lain. Selanjutnya, berusaha konsisten menulis. Jika tidak bisa dilakukan maka kesalahan akan terus berulang. 

                    10. Berhenti di Tahap Revisi 

                      Kesalahan lainnya dalam menyusun buku ajar, dosen berhenti di tahap revisi. Pertama, bisa karena merasa naskah sudah sempurna dan tidak layak direvisi. Sebab takut mengubah isi yang sudah dipandang sempurna tadi menjadi tidak sempurna. 

                      Kedua, bisa jadi karena dosen kesulitan mengerjakan revisi sesuai permintaan editor penerbit. Hal ini membuat naskah tidak berkembang dan tidak bisa diterbitkan. Jika terus berulang, maka seluruh naskah buku ajar yang disusun dosen akan terhenti di tahap revisi. 

                      Cara Menghindari Kesalahan dalam Menyusun Buku Ajar

                      Meskipun ada banyak sekali bentuk kesalahan menyusun buku ajar. Tentunya tidak semua dosen bisa pasrah melakukan kesalahan tersebut dan berulang. Sebab ada beberapa cara bisa dilakukan untuk menghindarinya. Berikut penjelasannya: 

                      1. Menyusun Outline Buku Sejak Awal

                        Menghadapi kesalahan berbentuk susunan materi di buku ajar kurang sistematis dan tidak sesuai alur logika keilmuan. Maka penting sekali untuk dosen menyusun kerangka buku (outline) di awal. 

                        Tahap penyusunan outline masuk di proses persiapan sebelum mulai menyusun buku ajar. Melalui outline ini, dosen bisa lebih mudah menentukan urutan bab agar logis sesuai alur logika keilmuan. Selain itu, outline juga mempercepat proses penulisan karena dosen tahu harus membahas apa dan bisa dipersiapkan dulu. 

                        Baca juga: Pengertian Outline: Manfaat, Syarat dan Cara Membuatnya

                        2. Mengembangkan Materi Kuliah Secara Sistematis

                          Materi yang disajikan di dalam buku ajar tentunya harus jelas dan mudah dipahami. Maka untuk memastikan penjelasan materi optimal dan rinci. Dosen perlu mengembangkan materi di setiap bab secara sistematis. 

                          Artinya, dosen mengembangkan dari bab pertama, kedua, dan seterusnya secara berurutan. Sebab setiap bab akan saling berkaitan karena di dalam satu mata kuliah yang sama. Jika disusun berurutan sesuai urutan bab, mengembangkan bab berikutnya menjadi lebih mudah dan cepat. 

                          3. Menggunakan Prinsip Pedagogis

                            Dosen bisa mulai mempelajari bagaimana menerapkan prinsip pedagogis pada saat menyusun buku ajar. Melalui pelatihan, workshop, sharing dengan rekan sejawat, dan upaya lainnya. Dosen bisa lebih mudah memahami penerapan prinsip pedagogis. Sehingga salah satu kriteria buku ajar bisa dipenuhi. 

                            4. Menambahkan Contoh dan Studi Kasus 

                              Menghubungkan pemaparan teori dengan kondisi nyata atau contoh aktual di lapangan. Bisa memberi gambaran dan penjelasan lebih detail kepada mahasiswa. Sekaligus memudahkan mereka memahami dan mengingat materi tersebut. 

                              Maka di dalam buku ajar sebaiknya ditambahkan contoh aktual di lapangan. Kemudian disusul dengan memberikan contoh hasil studi kasus. Tambahkan juga elemen ilustrasi, grafik untuk visualisasi data agar lebih mudah dipahami, dan lain sebagainya. 

                              5. Ikut Pelatihan Menulis Buku Ajar

                                Menyusun buku ajar tidak bisa dikuasai dalam tempo semalam. Mengasah keterampilan menulis harus dilakukan perlahan dan penuh kesadaran untuk dijalankan kontinyu. 

                                Melalui pelatihan menulis buku ajar, dosen bisa lebih mudah mengembangkan kemampuan menulis naskahnya. Sehingga kualitas terus membaik dan sejalan dengan hal ini, kuantitas buku ajar yang diterbitkan juga terus bertambah. 

                                6. Memilih Penerbit yang Kredibel dan Berpengalaman 

                                  Salah satu upaya untuk mencegah dan mengatasi kesalahan menyusun buku ajar adalah diterbitkan ke pihak yang tepat. Selain ke penerbit kredibel, pastikan berpengalaman menerbitkan buku ilmiah karya kalangan dosen. 

                                  Sehingga pihak penerbit paham betul standar buku ajar secara substansial maupun secara desain tampilan. Naskah akan diproses oleh editor dulu, sehingga terjadi editing sampai penyuntingan. Disusul permintaan revisi. Hal ini memastikan kesalahan yang dilakukan diatasi oleh pihak yang memang ahlinya. 

                                  Bagaimana Jika Masih Bingung dan Terjadi Kesalahan Menyusun Buku Ajar?

                                  Kesalahan menyusun buku ajar tentunya sangat mungkin tetap dilakukan. Dosen hanya bisa meminimalkan resiko kesalahan tersebut dilakukan dan kadang kala tidak bisa 100% mencegahnya. 

                                  Jika satu atau dua kesalahan dan tidak sering terjadi, maka masih terbilang wajar. Nantinya akan terdeteksi saat melakukan editing dan penyuntingan mandiri. Disusul pemeriksaan secara editorial oleh editor penerbit. 

                                  Bagaimana jika kesalahan yang dilakukan lebih banyak, berulang, dan terlalu sering? Pada kondisi ini, maka tidak bisa dihadapi dan diatasi sendiri oleh dosen. Dosen perlu mempertimbangkan layanan profesional untuk mengatasinya. 

                                  Sebagai rekomendasi, bisa menggunakan Layanan Konsultasi Menulis dari Penerbit Deepublish. Bersama dampingan ahli, para dosen akan dibantu menulis buku ajar dengan baik dan benar. Sekaligus dipandu untuk mengatasi dan mengantisipasi berbagai kesalahan menyusun buku ajar. 

                                  FAQ (Frequently Asked Questions)

                                  1. Kenapa buku ajar sering dianggap kurang berkualitas meskipun materinya sudah benar?

                                  Karena banyak dosen hanya menyalin slide perkuliahan tanpa pengembangan. Akibatnya, isi buku terlalu ringkas, kurang penjelasan, dan tidak sesuai standar buku ajar yang seharusnya lebih mendalam.

                                  2. Bagaimana cara membuat struktur buku ajar lebih sistematis?

                                  Mulai dengan menyusun outline sejak awal. Dengan kerangka yang jelas, urutan materi akan mengikuti alur logika keilmuan sehingga lebih mudah dipahami mahasiswa.

                                  3. Bagaimana cara memilih referensi untuk menulis buku ajar yang tepat?

                                  Gunakan referensi untuk menulis buku yang: relevan dengan topik, terbitan terbaru, berasal dari sumber kredibel

                                  4. Bagaimana cara menghindari naskah berhenti di tengah proses penulisan?

                                  Hindari menunggu waktu luang. Sebaliknya, buat jadwal menulis rutin dan konsisten agar naskah bisa selesai tepat waktu.

                                  Referensi:

                                  1. Nurlina., Basaria, F. T., Ernawati, E., Supria., & Taruliasi, A. M. (2023). Panduan Penerbitan Buku BINUS Press. BINUS University Press. https://research.binus.ac.id/wp-content/uploads/2024/09/Pedoman-Penerbitan-Buku-BINUS-Press.pdf
                                  2. Mamarimbing, F. R. (2024). Apa itu TPACK: Pendekatan, Unsur, dan Aspek Utama. Diakses pada 18 April 2026 dari https://guruinovatif.id/artikel/apa-itu-tpack-pendekatan-unsur-dan-aspek-utama
                                  3. Sholihin, M. R. (2024). Strategi Penulisan Buku Ajar. Media Kunkun Nusantara. https://omp.mediakunkun.com/index.php/book/catalog/book/2
                                  4. Kang Hayat. [@kang.hayat]. (2026, Jan 31). 3 Kesalahan Dosen dalam Menulis Buku Ajar… [Rheel]. Instagram. https://www.instagram.com/reels/DUKIpvAkxjF/ 
                                  5. Afton, Z. (2026). Kesalahan Umum Dosen saat Menulis Buku Ajar dari Materi Kuliah. Diakses pada 18 April 2026 dari https://penerbitkbm.com/kesalahan-umum-dosen-saat-menulis-buku-ajar-dari-materi-kuliah/?srsltid=AfmBOor6dRKZDdAtBvCbUNskbxlLSJ7HxlecH_C4Jhp6ClmENi6OiAN4 
                                  6. Niftah, A. (n.d). 8 Kesalahan Umum dalam Penulisan Buku dan Cara Mengatasinya. Diakses pada 18 April 2026 dari https://nasmedia.id/blog/8-kesalahan-umum-dalam-penulisan-buku-dan-cara-mengatasinya/
                                  7. Kesalahan Umum dalam Menulis Buku yang Harus Dihindari. (2025). Indonesian Scientific Publication. Diakses pada 18 April 2026 dari https://idscipub.com/id/kesalahan-umum-dalam-menulis-buku/

                                  Artikel Penulisan Buku Pendidikan