Nama Julukan: Contoh dan Cara Penulisan dalam Karya Buku

penulisan nama julukan

Mengapa satu sebutan bisa membuat seseorang langsung dikenali, bahkan tanpa menyebut nama aslinya? Dari tokoh sejarah hingga karakter dalam buku, nama julukan sering kali menjadi identitas yang melekat lebih kuat dari pada nama aslinya. Nama julukan akan membuat para tokohnya terasa hidup dan mudah diingat pembaca.

Artikel ini akan membahas apa itu nama julukan, contoh penggunaan, serta bagaimana kaidah penulisannya. Simak penjelasannya!

Apa Itu Nama Julukan?

Nama julukan adalah sebutan tambahan yang diberikan kepada seseorang, kelompok, atau bahkan tempat, selain nama resminya. Julukan ini biasanya muncul karena ciri khas tertentu, seperti sifat, kebiasaan, profesi, atau peristiwa yang melekat pada subjek tersebut. Dalam konteks sosial, nama julukan sering berfungsi sebagai penanda kedekatan dan identitas informal.

Dalam bahasa Indonesia, nama julukan tidak bersifat resmi dan tidak tercantum dalam dokumen administrasi. Namun, penggunaannya sangat luas dalam komunikasi sehari-hari, sastra, hingga media massa. Anda mungkin lebih mengenal seseorang melalui julukannya dibandingkan nama aslinya.

Selain itu, nama julukan juga bisa bersifat positif, netral, atau bahkan negatif tergantung konteks penggunaannya. Oleh karena itu, saat Anda menggunakan nama julukan dalam tulisan, pemilihan dan cara penulisannya perlu diperhatikan, sehingga makna yang disampaikan tetap sesuai dan tidak menimbulkan ambiguitas

Contoh Nama Julukan

Contoh nama julukan sangat mudah Anda temukan di lingkungan sekitar. Misalnya, seseorang yang dikenal pandai berbicara sering dijuluki “Si Mulut Emas,” atau teman yang selalu datang paling pagi disebut “Alarm Berjalan.” Julukan semacam ini muncul secara alami dari interaksi sosial.

Dalam konteks tokoh terkenal, nama julukan juga banyak digunakan. Anda mungkin mengenal “Bung Karno” sebagai julukan akrab dari Soekarno, atau “Si Raja Dangdut” untuk Rhoma Irama. Julukan ini membantu membangun citra dan karakter yang mudah diingat oleh publik.

Nama julukan juga sering digunakan dalam karya sastra dan cerita fiksi. Penulis kerap memanfaatkan julukan untuk memperkuat karakter tokoh tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Dengan satu julukan saja, pembaca sudah bisa membayangkan sifat atau peran tokoh tersebut dalam cerita.

Baca juga kumpulan penjelasan penulisan suatu kata yang benar:

Penulisan Nama Julukan dalam Karya Buku dan Contoh Kalimatnya

Dalam karya buku, penulisan nama julukan harus mengikuti kaidah bahasa Indonesia, khususnya aturan penggunaan huruf kapital. Jika nama julukan digunakan sebagai pengganti nama diri atau melekat langsung pada tokoh tertentu, maka huruf awalnya ditulis dengan kapital. Tujuannya adalah untuk membedakan julukan sebagai identitas dari kata sifat biasa.

Sebaliknya, jika nama julukan digunakan secara umum dan tidak merujuk pada individu tertentu, penulisannya menggunakan huruf kecil. Misalnya, kata “si pintar” dalam kalimat umum tidak perlu kapital jika tidak merujuk pada tokoh spesifik. Anda perlu jeli melihat konteks agar penulisan nama julukan tidak keliru. 

Beberapa contoh penggunaan nama julukan dalam karya buku, misalnya: 

  1. Bung Karno dikenal sebagai orator ulung yang mampu membangkitkan semangat rakyat.
  2. Ia sering dipanggil Si Kancil karena kecerdikannya. 
  3. Dalam buku biografi itu, Sang Proklamator digambarkan sebagai sosok visioner dan berani.
  4. Penduduk desa menyebutnya si dermawan karena kebiasaannya membantu orang lain.
  5. Penulis itu kerap dijuluki mesin kata karena produktivitasnya yang luar biasa.
  6. Dalam novel tersebut, tokoh utama dikenal sebagai si pendiam yang menyimpan banyak rahasia.
  7. Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara, menjadi inspirasi utama dalam dunia pendidikan.
  8. Masyarakat mengenalnya sebagai Raja Dangdut karena kontribusinya pada musik Indonesia.
  9. Dalam catatan sejarah, Singa Podium menjadi julukan khas bagi Bung Tomo.
  10. Guru itu dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa oleh murid-muridnya.
  11. Si jenius dalam cerita tersebut mampu memecahkan masalah rumit dengan mudah.
  12. Buku itu mengulas perjalanan sang maestro dalam dunia seni lukis.
  13. Di kampus, ia dikenal sebagai dosen inspiratif yang dekat dengan mahasiswa.
  14. Julukan Bapak Koperasi Indonesia melekat kuat pada Mohammad Hatta.
  15. Dalam kisah rakyat, tokoh Si Kancil digambarkan cerdik dan cerdas.
  16. Sang pemimpi menjadi julukan yang menggambarkan semangat pantang menyerah tokoh utama.
  17. Media sering menyebutnya Ratu Pop Indonesia karena prestasinya di industri musik.
  18. Dalam auto biografinya, ia menulis tentang perjalanan hidupnya sebagai anak kampung yang sukses.
  19. Tokoh itu mendapat julukan si tangguh karena mampu bertahan dalam berbagai ujian hidup.
  20. Bapak bangsa adalah sebutan yang mencerminkan jasa besar seorang pemimpin nasional.
  21. Dalam novel sejarah, sang penjelajah digambarkan sebagai sosok pemberani dan visioner.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa nama julukan ditulis dengan huruf kapital karena berfungsi sebagai nama diri. Penggunaan nama julukan bukan sekadar pemanis bahasa, tetapi juga sarana untuk memperkuat identitas tokoh dalam tulisan. Baik dalam buku biografi, karya sastra, maupun tulisan populer, julukan membantu pembaca memahami karakter dan peran seseorang secara lebih cepat. 

Semoga pembahasan ini membantu Anda menulis dengan lebih percaya diri, rapi, dan sesuai kaidah bahasa Indonesia.

Aturan penulisan ini masih kerap ditemukan salah, cek penulisan yang benar:

Artikel Penulisan Buku Pendidikan