Gelar haji sering kita lihat tercantum di depan nama, mulai dari undangan resmi hingga papan nama tokoh masyarakat. Sayangnya, tidak sedikit orang yang masih ragu apakah penulisan gelar haji yang digunakan sudah benar atau sekadar ikut-ikutan kebiasaan. Jika Anda ingin memastikan penulisannya tepat, rapi, dan sesuai kaidah, simak ulasannya dalam artikel berikut!
Sejarah Gelar Haji di Indonesia
Tradisi pemberian gelar haji di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang dan erat kaitannya dengan perkembangan Islam di Nusantara. Pada masa awal, gelar ini diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang berhasil menunaikan ibadah haji, sebuah perjalanan yang tidak mudah dan membutuhkan waktu serta biaya besar.
Dalam konteks sosial, gelar haji kemudian berkembang menjadi identitas religius yang melekat pada seseorang di tengah masyarakat. Mereka yang pulang dari Tanah Suci sering dianggap memiliki pengetahuan agama yang lebih baik, sehingga gelar tersebut menjadi simbol kepercayaan dan kewibawaan sosial.
Seiring berjalannya waktu, gelar haji tidak hanya dipahami sebagai pencapaian spiritual, tetapi juga menjadi bagian dari sistem penamaan formal. Dalam dokumen resmi, undangan, hingga karya tulis, penulisan gelar haji mulai mengikuti kaidah bahasa dan administrasi yang lebih tertib.
Aturan Penulisan Gelar Haji yang Benar
Agar tidak keliru dalam penggunaan sehari-hari maupun dokumen resmi, penulisan gelar haji memiliki beberapa aturan penting yang sebaiknya Anda pahami. Aturan ini tidak hanya berkaitan dengan ejaan, tetapi juga etika dan konteks pemakaian.
1. Letak Gelar Haji di Depan Nama
Gelar haji selalu ditulis di depan nama karena berfungsi sebagai penanda status ibadah, bukan gelar akademik. Penempatan ini sudah menjadi kebiasaan baku dalam administrasi dan penulisan formal di Indonesia.
2. Penggunaan Singkatan yang Tepat
Untuk laki-laki digunakan singkatan “H.”, sedangkan untuk perempuan menggunakan “Hj.”. Keduanya wajib diakhiri dengan tanda titik karena merupakan bentuk singkatan resmi dalam kaidah bahasa Indonesia.
3. Tidak Menggunakan Koma Setelah Gelar Haji
Berbeda dengan gelar akademik, gelar haji tidak dipisahkan dengan koma dari nama. Penulisan yang benar adalah langsung diikuti nama lengkap tanpa jeda tanda baca.
4. Konsistensi dalam Dokumen Resmi
Jika Anda mencantumkan gelar haji dalam satu dokumen, pastikan penulisannya konsisten dari awal hingga akhir. Hal ini penting agar dokumen terlihat rapi, profesional, dan tidak menimbulkan kebingungan administratif.
5. Penyesuaian dengan Konteks Penulisan
Dalam konteks akademik seperti karya ilmiah, jurnal, atau publikasi karya dosen, gelar haji umumnya tidak dicantumkan. Fokus penulisan diarahkan pada nama dan gelar akademik demi menjaga standar ilmiah yang berlaku.
6. Penggunaan Secara Etis dan Tidak Berlebihan
Meskipun sah digunakan, penulisan gelar haji sebaiknya tidak dipaksakan di semua situasi. Pada konteks informal atau tulisan populer, Anda dapat menyesuaikannya agar komunikasi tetap terasa wajar dan humanis.
Baca juga kumpulan penjelasan penulisan suatu kata yang benar:
- Aturan Penulisan Nama Ilmiah pada Judul dan Teks
- Aturan Penulisan Rupiah yang Benar
- Aturan Penulisan Merek dalam Teks
Contoh Penulisan Gelar Haji dan Hajjah
Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh penulisan gelar haji yang sering digunakan dalam berbagai konteks.
1. Contoh Dasar Penulisan Nama
Penulisan ini digunakan dalam konteks umum, seperti undangan keluarga, papan nama, atau kegiatan sosial kemasyarakatan.
- H. Ahmad Fauzi
- Hj. Siti Aminah
2. Contoh Penulisan Gelar Haji diikuti Gelar Akademik
Secara umum, gelar haji tetap diletakkan di depan nama, sementara gelar akademik berada di belakang. Contohnya:
- H. Ahmad Rifai, S.Pd.
- Hj. Nur Aisyah, M.Si.
Namun, terdapat aturan khusus menurut kaidah PUEBI bagi gelar profesi seperti Dr., drg., dr., atau Ir., yaitu ditulis di depan sebelum gelar haji. Aturan ini bertujuan menjaga keterbacaan serta konsistensi penulisan nama dalam dokumen resmi. Contohnya:
- Ir. H. Joko Wicaksono, S.Ag., M.T.
- Prof. Dr. Ir. Hj. Sri Wahyuni, S.T., M.Eng.
- drg. H. Reza Arabian, Sp.BM.
- Ir. H. Ahmad Yani
- Ir. Hj. Siti Rahmawati
3. Penulisan Gelar Haji di Undangan
Dalam undangan resmi, penulisan gelar haji sering digunakan sebagai bentuk penghormatan. Penulisannya tetap mengikuti kaidah umum, yaitu diletakkan di depan nama tanpa koma.
Contoh:
- Yth. H. Muhammad Mashuri Akbar di Tempat
- Yth. Hj. Siti Fauziah di Tempat
Untuk undangan nonformal atau semi formal, penggunaan gelar haji bersifat opsional dan dapat disesuaikan dengan kedekatan sosial.
Itulah pembahasan mengenai sejarah, aturan, serta berbagai contoh penulisan gelar haji yang kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun dokumen resmi. Dengan memahami kaidah yang tepat, Anda tidak hanya menghindari kesalahan teknis, tetapi juga menunjukkan sikap tertib, menghargai norma bahasa, dan konteks sosial. Semoga bermanfaat!
Aturan penulisan ini masih kerap ditemukan salah, cek penulisan yang benar:





