dipertimbangkan para dosen. Sebab, melalui konversi maka modul pembelajaran maupun modul praktikum bisa diubah menjadi naskah buku ajar.
Langkah ini tentu memberi efisiensi sumberdaya. Baik itu efisiensi waktu menulis yang dimiliki para dosen, maupun sumberdaya lainnya. Hanya saja, belum semua dosen memahami bagaimana mengubah modul menjadi buku ajar. Berikut informasinya.
Menulis buku ajar dari modul pembelajaran maupun modul jenis lainnya tentu akan sangat bermanfaat. Baik bagi dosen maupun bagi mahasiswa dan perguruan tinggi tempat dosen mengabdi. Berikut penjelasan detailnya:
Manfaat yang pertama dan tentunya yang utama adalah mempercepat proses penulisan naskah buku ajar. Sebab mengacu pada modul pembelajaran yang secara struktur mirip dengan standar naskah buku ajar.
Selain itu, modul biasanya juga sudah berisi penjelasan materi perkuliahan. Jadi, ketika dikonversi menjadi buku ajar dosen perlu menambahkan detail lainnya. Sehingga penjelasan lebih mendalam dan relevan dengan hasil penelitian terbaru.
Manfaat menulis buku ajar dari modul pembelajaran berikutnya adalah membantu dosen memenuhi BKD lebih cepat. Disebut demikian, karena bisa mendapat SKS dari modul pembelajaran sekaligus buku ajar dalam satu semester.
Selain itu, bobot SKS buku ajar lebih tinggi dibanding modul pembelajaran. Jika dalam BKD hanya bisa klaim salah satunya. Dosen bisa memilih mengklaim buku ajar karena bobotnya 5 SKS sementara modul pembelajaran hanya 3 SKS.
Jadi target 12 SKS per semester dalam BKD bisa lebih cepat dipenuhi. Dosen pun tidak khawatir menerima sanksi sampai penundaan pencairan sejumlah tunjangan. Baik itu tunjangan profesi maupun tunjangan kehormatan.
Manfaat ketiga, menulis buku ajar dari modul pembelajaran juga efektif mempercepat kenaikan jenjang jabatan akademik. Sebab nilai angka kredit buku ajar terbilang tinggi. Yakni di 20 poin, sedangkan modul pembelajaran hanay 5 poin angka kredit.
Sesuai ketentuan, buku ajar dan bahan ajar lain akan masuk penilaian AK Konversi karena masuk dalam SKP. Jadi, dengan menulis buku ajar lewat konversi modul pembelajaran dosen berkesempatan meraih poin angka kredit lebih tinggi. Sehingga bisa segera eligible untuk mengajukan usulan kenaikan jenjang jabatan akademik.
Menulis buku ajar secara rutin, termasuk lewat konversi modul pembelajaran tentu bermanfaat bagi banyak akademisi. Khususnya mahasiswa, karena bisa mendapatkan lebih banyak pilihan pegangan dalam perkuliahan.
Buku ajar yang disusun dosen akan diterbitkan dengan ISBN sehingga bisa terdistribusi ke seluruh wilayah di Indonesia. Pengguna atau pembaca bukan hanya mahasiswa yang diampu dosen tersebut. Akan tetapi mahasiswa dari perguruan tinggi lainya, sehingga bisa lebih mudah mengikuti perkuliahan.
Baca juga: Fungsi Bahan Ajar: Pengertian, Tujuan, dan Manfaatnya
Manfaat berikutnya juga untuk mahasiswa, yakni mendapat pegangan pembelajaran yang isinya komprehensif. Sebab buku ajar membahas seluruh materi dalam satu mata kuliah di satu semester penuh.
Jadi, dengan satu buku saja mahasiswa sudah bisa mengikuti perkuliahan dan memahami materi. Sehingga lebih ekonomis, karena mahasiswa tidak perlu lagi membeli bahan ajar lain.
Manfaat lainnya, juga dirasakan pihak perguruan tinggi yang menaungi dosen. Kinerja akademik dosen adalah kinerja akademik perguruan tinggi. Hal ini berlaku juga untuk buku ajar yang disusun dan diterbitkan dosen.
Semakin rutin menerbitkan buku ajar, semakin menguatkan kinerja akademik perguruan tinggi. Sehingga berdampak positif pada penilaian akreditasi, klasterisasi, sampai pemeringkatan.
Banyaknya manfaat dalam menulis buku ajar dari modul pembelajaran. Tentunya bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi dosen di Indonesia untuk melakukan konversi tersebut. Lalu, bagaimana tata caranya? Berikut detail tahapannya:
Umumnya, modul pembelajaran maupun jenis lainnya disusun dosen untuk beberapa kali pertemuan. Bahkan ada juga satu modul untuk satu pertemuan saja. Jadi, dalam satu semester akan ada beberapa modul.
Berbeda dengan buku ajar, isinya menyesuaikan daftar materi dari RPS. Sehingga satu judul buku ajar paling tidak ada 14 bab. Sebab secara umum, rata-rata jumlah pertemuan di satu mata kuliah adalah 14-16 kali dalam satu semester.
Jika dalam satu semester menyusun beberapa modul, maka lakukan inventarisasi. Secara sederhana, dosen perlu mengumpulkan semua modul tersebut. Sehingga seluruh modul akan menjadi bagian dari isi naskah buku ajar.
Jika seluruh modul sudah dikumpulkan dan dipastikan sudah ada secara keseluruhan. Maka silahkan mulai dikelompokan. Mana saja yang modul pembelajaran, modul praktikum, dan jenis lainnya. Fokus di modul pembelajaran.
Tahap berikutnya dalam menulis buku ajar dari modul pembelajaran adalah mengurutkan modul tersebut. Menggunakan RPS bisa memudahkan, sebab urutan materi biasanya sudah runtut di dalam RPS tersebut.
Namun, jika pada modul sudah ada keterangan urutan pertemuan. Maka akan lebih mudah lagi, karena tinggal diurutkan berdasarkan nomor urut pada sampul modul tersebut.
Langkah ini bertujuan untuk memudahkan proses penyesuaian isi, agar bisa berurutan dari bab pertama, kedua, dan seterusnya. Jika sudah diurutkan dari awal, maka penulisan buku ajar akan lebih lancar dan cepat selesai.
Tahap ketiga, silahkan menyusun kerangka naskah buku ajar. Gunakan buku panduan penulisan buku ajar yang disediakan perguruan tinggi agar lebih mudah. Kerangka ini penting, untuk memastikan seluruh isi naskah sesuai standar sistematika penulisan.
Kerangka bisa fokus di isi naskah saja, misalnya dari bab pertama sampai bab terakhir. Namun, bisa juga dari halaman pembuka (preliminaries) seperti halaman judul sampai daftar isi.
Sesuaikan dengan karakteristik Anda, lebih mudah mengembangkan kerangka versi lengkap atau hanya bab inti. Mulai dulu dari susunan kerangka secara umum. Baru kemudian merumuskan judul setiap bab, subbab, dan turunannya sesuai penyesuaian isi modul pembelajaran yang dikonversi. Misalnya:
Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Daftar Tabel
Bab I – Judul bab
Peta Konsep
Tujuan Pembelajaran
1.1. Pengantar
1.2 Uraian Materi
1.3 Uraian Materi
1.4 dst
Ringkasan
Latihan Soal
Bab II – Judul bab
Peta Konsep
Tujuan Pembelajaran
1.1. Pengantar
1.2 Uraian Materi
1.3 Uraian Materi
1.4 dst
Ringkasan
Latihan Soal
Bab III – dan seterusnya..
Daftar Pustaka
Daftar istilah (Glosarium)
Indeks
Biografi Penulis
Tahap keempat dalam menyusun buku ajar dari modul pembelajaran adalah mengembangkan kerangka yang disusun di tahap sebelumnya. Para dosen bisa mulai menulis dan mengembangkan setiap bab secara berurutan.
Pada tahap ini, dosen bisa saja membutuhkan referensi tambahan serta penggantian referensi yang lebih terkini. Sehingga informasi atau penjelasan materi di naskah buku ajar sudah relevan dengan hasil penelitian terbaru.
Proses menulis bisa dikatakan sebagai tahap paling sulit dan paling memakan waktu. Dosen yang punya agenda akademik padat bisa melakukan manajemen waktu agar punya jadwal rutin untuk menulis buku ajar.
Tahap kelima dalam menulis buku ajar dari modul pembelajaran adalah melakukan editing dan penyuntingan secara menyeluruh. Jadi, silahkan dibaca ulang seluruh naskah buku ajar yang telah selesai dikembangkan.
Kemudian selama proses tersebut, jika menjumpai kesalahan maka bisa diperbaiki. Misalnya ada kesalahan ketik (typo), kesalahan penggunaan tanda baca, susunan kalimat masih keliru, dan kesalahan lainnya.
Disusul dengan merapikan naskah. Misalnya mengatur panjang pendek paragraf agar sama rata. Kemudian mengatur perataan agar rata kanan kiri, dan pengaturan lain agar tampilan naskah lebih rapi dan enak dibaca.
Baca juga: Seberapa Penting Editing Naskah Buku? Ini Penjelasan dan Tipsnya
Tahap terakhir penyusunan buku ajar dari modul pembelajaran adalah proses penerbitan. Dimulai dari memilih penerbit, pastikan penerbit kredibel dan sudah berpengalaman menerbitkan buku ajar.
Sebab buku ajar yang ditulis oleh dosen harus memenuhi standar Kemdiktisaintek. Supaya bisa diakui dalam BKD dan penilaian angka kredit untuk pengembangan karir akademik. Syarat standar penerbitan buku ajar secara umum antara lain:
Jika dari Kemdiktisaintek menerbitkan regulasi baru, khususnya yang berkaitan dengan BKD dan AK Konversi. Maka bisa membaca dan memahami regulasi tersebut. Kemudian penerbitan buku ajar menyesuaikan dengan ketentuan terbaru yang berlaku.
Itulah keseluruhan tahapan dalam proses mengubah modul pembelajaran menjadi buku ajar. Meski sama-sama bahan ajar, akan tetapi menulis buku ajar sangat dianjurkan. Sebab memiliki bobot SKS, nilai angka kredit, dan diterbitkan secara luas.
Sehingga penerbitan buku ajar dari modul pembelajaran ikut berdampak pada kinerja dan reputasi akademik institusi. Oleh sebab itu, sangat dianjurkan untuk mengembangkan modul menjadi buku ajar. Jika ada kesulitan, maka bisa ikut pelatihan maupun memanfaatkan layanan konsultasi menulis.
Modul pembelajaran memiliki struktur dan materi yang mirip dengan buku ajar sehingga dapat dikembangkan menjadi naskah buku dengan menambahkan pembahasan, referensi terbaru, dan penyesuaian sistematika.
Konversi modul menjadi buku ajar membantu mempercepat proses penulisan, mendukung pemenuhan BKD, meningkatkan peluang memperoleh angka kredit, serta memperluas manfaat bahan ajar bagi mahasiswa.
Prosesnya dapat dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari menginventarisasi modul, mengelompokkan materi, menyusun kerangka buku, mengembangkan isi, melakukan editing, hingga menerbitkan buku ajar.
Buku ajar memiliki nilai angka kredit yang dapat mendukung pengembangan karier akademik dosen dan membantu persiapan pengajuan kenaikan jenjang jabatan akademik.
Buku ajar memiliki cakupan lebih luas karena dapat digunakan oleh lebih banyak mahasiswa, diterbitkan secara resmi, serta memberikan nilai tambah bagi kinerja akademik dosen dan institusi.
Dosen dapat mengikuti pelatihan penulisan buku ajar atau menggunakan layanan konsultasi menulis untuk mendapatkan pendampingan dalam proses pengembangan naskah hingga penerbitan.
Referensi:
Bagi dosen, menulis buku ilmiah adalah proses panjang. Terlebih dengan keterbatasan sumberdaya seperti waktu sampai…
Penerbit Deepublish sukses menyelenggarakan Webinar “Optimalisasi Publikasi untuk Meningkatkan Peluang Lolos Hibah Riset” pada Jumat,…
Semua dosen di Indonesia tentunya memiliki keinginan untuk karir akademiknya berkembang. Ada banyak strategi dalam…
Meraih program hibah riset atau hibah penelitian, tentunya menjadi harapan atau keinginan semua dosen di…
Dalam menunjang pemenuhan target BKD dan pengembangan karir akademik. Para dosen tentunya tidak cukup hanya…
Melakukan konversi KTI menjadi buku akademik menjadi salah satu strategi untuk dosen bisa menerbitkan buku…