Buku ajar menjadi salah satu buku ilmiah yang akan rutin disusun dan diurus penerbitannya oleh dosen di Indonesia. Meski begitu, tidak sedikit yang menganggap proses menulis buku ajar sulit atau tidak mudah. Pasalnya ada banyak kendala menulis buku ajar tersebut.
Kendala ini tentunya bisa dihadapi semua dosen tanpa terkecuali. Kemudian tidak cukup hanya menunggu kendala tersebut hilang dengan sendirinya. Melainkan harus dicoba segera diatasi oleh dosen, agar naskah bisa dilanjutkan pengerjaannya. Lalu, apa saja kendala tersebut? Berikut informasinya.
Mengapa Menulis Buku Ajar Terasa Sulit bagi Dosen?
Buku ajar merupakan karya tulis ilmiah dalam bentuk buku yang berisi materi perkuliahan sesuai RPS (Rencana Pembelajaran Semester). Buku ajar penting untuk ditulis dan diterbitkan oleh para dosen agar dijadikan pegangan mahasiswa dalam pembelajaran (perkuliahan).
Hanya saja, berbagai kendala menulis buku ajar membuat prosesnya tidak mudah dan penuh dengan perjuangan. Berikut adalah berbagai kendala yang paling umum dihadapi dosen saat menyusun buku ajar:
1. Dosen Masih Bingung Mulai Menulis Buku Ajar dari Mana
Menulis buku ajar bisa menjadi sangat sulit ketika dosen bingung memulainya dari mana. Artinya, dosen masih kesulitan dalam menentukan tahapan sistematis penulisan buku ajar.
Bisa juga, tahapan sudah dipahami hanya saja dosen kesulitan menyusun paragraf pertama di bab pertama. Bahkan setiap bab di dalam buku ajar tersebut. Sehingga proses menulis menjadi sulit dan memakan waktu lama.
Dalam penulisan buku ajar, tahap paling awal adalah menyusun RPS. Sebab seluruh materi yang dijabarkan di dalam naskah harus sesuai RPS tersebut. Standar ini bersumber dari tujuan penulisan buku ajar sebagai pegangan mahasiswa mengikuti perkuliahan. Maka idealnya seluruh materi relevan dengan isi RPS.
Dalam menyusun kalimat pertama dan paragraf pertama, biasanya menjadi sulit karena ide buntu. Mengatasinya, para dosen bisa menulis apa saja yang terlintas pertama kali di dalam pikiran. Tidak masalah ada kekeliruan, karena di akhir penulisan ada tahap editing mandiri. Disusul editing oleh profesional, yaitu oleh editor penerbit.
2. Keterampilan Menulis Buku yang Masih Terbatas
Kendala menulis buku ajar terasa semakin banyak, semakin sulit diatasi, dan menumpuk satu per satu saat keterampilan menulis masih minim. Kendala ini lebih sering dihadapi dosen pemula, terutama saat awal-awal menulis buku ajar.
Keterampilan menulis memang keterampilan praktis dan bukan bakat dari lahir, sehingga bisa dipelajari semua dosen serta oleh siapa saja. Kuncinya, saat memahami keterampilan menulis yang terbatas sebagai sumber masalah. Maka fokus mengembangkan keterampilan tersebut.
Dosen bisa aktif mengikuti pelatihan menulis, baik dari perguruan tinggi maupun dari pemerintah dan pihak penyelenggara mana saja. Jika sulit menemukan pelatihan spesifik untuk menulis buku ajar.
Bisa pelatihan menulis buku jenis apa saja, sebab tetap akan membantu meningkatkan keterampilan menulis. Sembari tetap menunggu adanya program pelatihan menulis spesifik ke buku ajar dan buku ilmiah lain.
Pelajari, pahami, dan praktekan berbagai teknik mengembangkan keterampilan menulis lainnya. Misalnya rajin membaca, aktif menulis apa saja, tetap semangat menulis buku ajar dengan segala jatuh bangunnya, dan sebagainya.
3. Waktu Menulis Buku yang Terlalu Terbatas
Menulis buku ajar bisa terasa sangat sulit bagi dosen karena keterbatasan waktu. Sudah menjadi hal umum untuk diketahui bahwa dosen di Indonesia memiliki beban kerja yang terbilang tinggi.
Tidak hanya disibukan dengan kegiatan mengajar. Dosen juga wajib melaksanakan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan tugas penunjang sesuai ketentuan. Ditambah dengan beban administrasi yang masih tinggi juga.
Kondisi ini membuat dosen memiliki waktu yang lebih terbatas. Termasuk waktu untuk menulis buku, karena ada lebih banyak kegiatan akademik perlu diprioritaskan. Sehingga naskah buku ajar sulit berkembang karena dosen kesulitan punya waktu menyusunnya.
Minimnya waktu bisa memberi tekanan lebih dalam menulis buku. Sebab saat ada waktu sedikit untuk menulis, dosen sudah dikejar pemikiran untuk menulis sebanyak mungkin.
Padahal menulis adalah proses panjang. Mengembangkan materi di buku ajar perlu mencari referensi, memahami isi referensi, dan menulis ulang data yang ditemukan di referensi tersebut. Sehingga menulis tidak bisa buru-buru.
4. Kesulitan Menyesuaikan Gaya Bahasa pada Buku Ajar
Buku ajar menjadi salah satu buku ilmiah yang target pembaca utamanya adalah mahasiswa. Secara umum, gaya bahasa di dalamnya harus dibuat sederhana. Kemudian istilah terlalu teknis perlu disesuaikan ke bahasa sehari-hari.
Padahal dosen dalam menyusun buku ilmiah lain dan jenis KTI lain seperti artikel ilmiah untuk publikasi jurnal, memiliki gaya bahasa yang berseberangan. Adaptasi perubahan gaya penulisan yang singkat tentu bukan hal mudah.
Pada akhirnya, dosen sering mengeluh kesulitan menyesuaikan gaya bahasa tersebut. Sehingga buku ajar dipandang sebagai salah satu buku ilmiah yang cukup sulit disusun dibanding buku referensi atau monograf.
Dalam kendala menulis buku ajar satu ini, memang butuh jam terbang. Artinya, dosen harus berusaha membangun kebiasaan terpapar menulis buku ajar. Sehingga secara perlahan bisa terbiasa dengan gaya bahasanya yang khas sendiri dibanding buku ilmiah lain.
5. Belum Memahami Standar dan Karakteristik Buku Ajar
Buku ajar bisa dipandang sulit oleh dosen ketika belum memahami standar penulisan, karakteristik, dan standar penerbitannya bagaimana. Dalam tugas akademik, terdapat 4 jenis buku ilmiah yang akan rutin ditulis oleh dosen. Masing-masing punya karakteristik tersendiri.
Baik dari segi struktur penulisan, substansi pembahasan, dasar acuan penulisan, jumlah halaman minimal, dan detail lainnya. Dosen yang belum memahami karakteristik ini pada buku ajar, bisa membuatnya tertukar dengan buku ilmiah lain.
Dampaknya naskah buku yang disusun keliru dan ketika diurus penerbitannya ada penolakan dari editor maupun revisi skala besar. Dosen perlu memahami dulu apa itu buku ajar, standar atau aturan penulisan, dan mengakses buku panduan penulisan hingga panduan penerbitan.
Biasanya buku panduan ini disediakan perguruan tinggi. Selain itu, banyak juga penerbit yang menyediakan buku panduan penerbitan maupun penulisan. Selama dosen ada inisiatif dan motivasi untuk sukses menerbitkan buku ajar. Maka keterbatasan yang dimiliki akan diupayakan untuk diatasi sepenuh hati.
Baca juga: Panduan Menulis Buku Ajar sesuai Format dan Disajikan dengan Prinsip Pedagogis
6. Dosen Masih Sering Menghadapi Writer’s Block
Kendala menulis buku ajar berikutnya yang kemudian membuatnya terasa sulit untuk disusun adalah writer’s block (kebuntuan ide menulis). Kebuntuan ide dalam menulis adalah hal yang dialami semua penulis, termasuk kalangan dosen ketika menulis buku ajar.
Kebuntuan ide mendadak di tengah pengembangan naskah bisa disebabkan oleh banyak hal. Baik dari internal dosen sendiri selaku penulis, maupun faktor eksternal. Faktor internal seperti sikap perfeksionis, sehingga terlalu teliti memilih ide untuk dituangkan di naskah buku ajar.
Contoh di faktor eksternal bisa karena beban kerja berlebih, sehingga mengalami burnout. Selain contoh ini, masih banyak faktor lain yang menjadi penyebab writer’s block.
Dosen perlu memahami apa yang menjadi penyebab tersebut. Sebab beda penyebabnya, maka beda solusi untuk mengatasinya. Misalnya, ketika beban kerja berlebih maka salah satu solusinya meminta bantuan dan manajemen waktu. Misalnya meminta bantuan pada asisten dosen, rekan sejawat, dll.
Berkonsultasi dengan dosen lebih senior atau layanan konsultasi menulis profesional bisa dilakukan. Sehingga dosen dibantu untuk memahami penyebab writer’s block dan dibantu juga dalam mencari solusinya.
Baca juga: Ide Menulis Buku Ajar Terhenti? Ini Cara Mengatasinya
7. Akses Referensi yang Tidak Mudah
Menulis buku ajar harus diakui tidak cukup hanya mengandalkan RPS. Sebab materi dari RPS perlu dijabarkan secara lebih jelas dan detail di dalam buku ajar. Maka dalam penyusunan, dosen butuh data tambahan dari berbagai referensi kredibel.
Hanya saja, kendala menulis buku ajar salah satunya juga dari referensi yang sulit didapatkan atau diakses dosen. Bisa karena memang topik atau materi di buku ajar masih jarang diteliti, sehingga referensinya masih terbatas dan sulit ditemukan.
Kemudian, bisa juga karena referensi masuk di database berbayar. Sementara dosen tidak memiliki kondisi finansial yang relevan untuk membayar biaya akses tersebut. Sehingga ada kendala dalam mendapatkan data yang dibutuhkan.
Dalam kondisi ini, dosen perlu melakukan berbagai upaya untuk mengakses referensi kredibel dengan biaya lebih ekonomis dan tetap legal. Misalnya meminta file dari rekan sejawat atau bahkan dari mahasiswa. Kemudian, meminta dukungan akses database dari perguruan tinggi yang menaungi.
8. Sulit untuk Kreatif dan Inovatif dalam Menambahkan Elemen Visual
Buku ajar juga terasa sulit disusun dosen bisa karena kesulitan dalam menambah atau bahkan menyiapkan elemen visual. Secara umum, elemen visual seperti foto, ilustrasi, grafik, dll tidak wajib di dalam buku ajar.
Hanya saja, dosen tentu berharap bukunya lebih menarik minat baca mahasiswa. Sekaligus mudah dipahami mereka. Menambahkan elemen visual menjadi strategi untuk mencapai hal tersebut.
Sayangnya tidak semua dosen memiliki kemampuan dan kemudahan dalam menyiapkan elemen visual. Bisa karena elemen yang sesuai sifatnya berbayar dan terbilang mahal. Kemudian, bisa juga dosen belum menguasai aplikasi untuk membuat elemen visual. Sehingga tidak bisa dibuat sendiri.
Elemen visual memiliki jenis beragam, dan dosen bisa memilih yang dirasa paling mudah dibuat dan tetap relevan untuk menyempurnakan penjelasan di naskah. Selain itu, semakin kesini semakin banyak aplikasi desain yang ramah ke pengguna pemula.
Misalnya Canva dan aplikasi desain berbasis AI. Dosen tentunya perlu mempertimbangkan untuk mempelajarinya. Sehingga di masa mendatang lebih mudah menambah elemen visual setiap kali menulis buku ajar dan KTI jenis lainnya.
9. Terkendala saat Menyusun Latihan Tugas
Salah satu ciri khas buku ajar adalah memiliki latihan soal atau pada kurikulum OBE menjadi latihan tugas. Namun, karena struktur khas ini ada banyak dosen yang menilai buku ajar lebih sulit disusun dibanding buku ilmiah lain.
Memang harus diakui, dalam menyusun latihan tugas dibutuhkan keterampilan dan cara berpikir kreatif. Sehingga latihan tersebut tetap menunjang pengukuran capaian pembelajaran dan lebih menarik untuk dikerjakan mahasiswa.
Namun, menyusun latihan tugas yang biasa saja tetap sah dilakukan. Jadi, dosen bisa menentukan dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan. Tidak perlu perfeksionis, selama buku lengkap dan latihan tugas hingga isi buku dijamin orisinil. Maka seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Melalui penjelasan tersebut, maka tentunya para dosen bisa memahami apa saja kendala menulis buku ajar. Sekaligus memiliki kemampuan untuk mengatasi kendala tersebut. Sehingga tidak lagi menjadi penghalang untuk melanjutkan proses penulisan. Seiring berjalannya waktu, kendala dalam bentuk apapun akan lebih mudah diatasi para dosen.
Bagi dosen yang masih mengalami kesulitan mencari solusinya. Maka bisa mempertimbangkan bantuan profesional. Salah satunya layanan konsultasi menulis yang ditawarkan Penerbit Deepublish.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Menulis buku ajar dapat terasa sulit karena dosen menghadapi berbagai kendala, seperti bingung memulai tulisan, keterbatasan keterampilan menulis, waktu yang terbatas, kesulitan menyesuaikan gaya bahasa, hingga belum memahami standar buku ajar.
Beberapa kendala umum dalam menulis buku ajar meliputi kesulitan memulai penulisan, keterampilan menulis yang belum optimal, keterbatasan waktu, sulit menyesuaikan gaya bahasa, belum memahami karakteristik buku ajar, writer’s block, kesulitan mencari referensi, membuat elemen visual, serta menyusun latihan tugas.
Dosen dapat memulai dengan menyusun RPS sebagai dasar pengembangan materi buku ajar. Setelah itu, materi dapat dikembangkan secara bertahap sesuai struktur pembelajaran yang sudah dirancang.
Dosen dapat mengevaluasi kendala yang dihadapi, menyusun ulang rencana penulisan, meminta masukan dari rekan atau mentor, maupun menggunakan layanan konsultasi menulis untuk mendapatkan arahan.
Karena buku ajar memiliki mahasiswa sebagai target pembaca utama. Oleh sebab itu, bahasa yang digunakan perlu lebih sederhana dan mudah dipahami dibandingkan gaya bahasa artikel ilmiah untuk jurnal.
Referensi:
- Nainggolan, J., & Virman. (2023). Peningkatan Pengetahuan Penulisan Buku Ajar Pada Guru-Guru SMP. Jurnal Pengabdian Papua. 7(1), 10-15. https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/JP/article/download/2690/2246
- Tantangan Dosen dalam Menerbitkan Buku dan Solusinya. (n.d). Detak Publisher. Diakses pada 22 September 2026 dari https://detakpublisher.com/tantangan-dosen-dalam-menerbitkan-buku/







