Bagi akademisi, yakni dosen maupun mahasiswa aktivitas menyusun karya tulis ilmiah (KTI) menjadi agenda rutin. Selain menyusun makalah, artikel ilmiah, dll. Akademisi juga bisa aktif menulis buku ilmiah. Sehingga memahami teknik menulis buku ilmiah sangat penting.
Melalui teknik penulisan yang tepat, maka pengembangan naskah menjadi lebih mudah. Sehingga naskah buku bisa segera diselesaikan dan kemudian bisa dilanjut ke proses penerbitan. Lalu, apa saja teknik tersebut? Berikut informasinya.
Membahas seluruh teknik menulis buku ilmiah, tentunya tidak terlepas dari pembahasan mengenai kendala dalam proses menulisnya. Menulis buku menjadi proses menulis dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Salah satu penyebabnya adalah jumlah halaman yang banyak.
Berbeda dengan artikel ilmiah, makalah, atau bahkan tugas akhir seperti skripsi yang jumlah halaman terbatas. Buku ilmiah minimal terdiri dari 60 halaman. Buku ilmiah yang ditulis dosen, bahkan minimal di 125 halaman. Maka tidak heran penulisannya dihadapkan dengan banyak kendala. Diantaranya adalah:
Topik yang tidak dipahami, akademisi kurang riset, akses referensi kurang mendukung, dan sejenisnya. Bisa menghambat proses penulisan buku ilmiah. Jadi, salah satu kendala umum penulisan adalah akademisi memilih topik yang kurang tepat. Yakni topik yang belum dikuasai dan tidak disukai.
Menulis buku ilmiah butuh referensi yang tidak sedikit dan harus kredibel. Sayangnya, banyak akademisi yang justru sulit mendapat akses referensi. Bisa karena referensi harus berlangganan dulu baru diakses, koleksi di perpustakaan kampus terbatas, atau memang referensi belum banyak.
Akademisi tentu punya kesibukan tersendiri, sehingga menulis bukan satu-satunya kegiatan ilmiah yang dilakukan. Kesibukan ini kadang menyita waktu dan perhatian. Sehingga waktu menulis menjadi terbatas. Mahasiswa bisa saja sibuk dengan kuliahnya, dosen bisa sibuk dengan penelitian dan tri dharma lain.
Menulis juga menjadi lebih sulit jika akademisi sering susah fokus karena ada distraksi. Baik itu dari smartphone, anggota keluarga di rumah, lingkungan sekitar yang bising, dll.
Memahami ada banyak sekali kendala dalam menulis buku ilmiah. Maka untuk menunjang kelancaran proses menulis, perlu teknik yang tepat. Berikut beberapa teknik menulis buku ilmiah yang bisa diterapkan:
Dalam menulis buku ilmiah, teknik pertama yang harus diterapkan adalah menentukan topik dengan tepat. Kenapa? Sebab, ketika topik yang dipilih dari awal memang keliru. Maka sehebat apapun teknik menulis, hasilnya tidak maksimal.
Meski pada beberapa penulis juga bisa memaksimalkan kualitas tulisan dan kedalaman penjelasan. Tentunya ada perjuangan lebih keras, dan tidak semua penulis memiliki kemampuan tersebut.
Jadi, memilih langkah aman sangat dianjurkan. Terlebih bagi dosen, karena buku ilmiah adalah agenda akademik rutin. Jadi, topik yang dipilih menentukan kepakaran yang digeluti. Maka dari awal harus benar-benar tepat. Topik yang tepat bisa dimulai dari mencari tahu topik apa yang dikuasai dan/atau disukai.
Teknik menulis buku ilmiah juga dari penentuan tujuan penulisan. Dalam menulis karya jenis apapun. Baik itu buku ilmiah, artikel ilmiah, novel, dan lain sebagainya. Tujuan dalam menulis harus ada. Kenapa?
Pertama, tujuan ini membantu memperjelas jenis buku yang akan disusun. Kedua, jenis buku yang sesuai memudahkan tahap persiapan pra penulisan. Ketiga, tujuan bisa memotivasi untuk aktif menulis sehingga naskah cepat selesai.
Jadi, setelah memahami topik apa yang sebaiknya dipilih oleh akademisi. Maka bisa menentukan tujuan penulisan buku ilmiah tersebut. Apakah untuk menyebarluaskan hasil penelitian, membangun riwayat publikasi buku ilmiah, mendapat royalti, menyediakan pegangan dosen dalam mengajar, atau yang lainnya.
Jenis buku ilmiah cukup beragam, bagi akademisi semua jenis tersebut bisa ditulis. Terutama bagi dosen, karena setiap buku ilmiah bisa diklaim ke BKD dan penilaian angka kredit.
Jadi, dalam teknik menulis buku ilmiah perlu ditentukan dulu jenis buku yang akan disusun. Apakah buku ajar, referensi, monograf, atau bunga rampai (book chapter)? Jika sudah ditentukan, maka perlu dipelajari karakteristiknya bagaimana.
Sebab setiap buku ilmiah punya karakteristik tersendiri dan teknik penulisan tentu menyesuaikan dengan hal tersebut. Misalnya, saat menyusun buku ajar maka teknik penulisan didasarkan pada RPS. Sementara pada monograf, menyesuaikan hasil penelitian dosen.
Menulis buku ilmiah tentunya bergantung pada data yang bisa dipaparkan di dalamnya. Selain mengandalkan data penelitian, mulai dari latar belakang pemilihan topik penelitian hingga temuan yang dihasilkan.
Dosen maupun mahasiswa juga harus mencari data penunjang dari berbagai referensi. Referensi ini akan menentukan kualitas pembahasan, kedalaman pembahasan, sampai kredibilitas informasi (data) yang disajikan ke pembaca. Maka pemilihannya harus tepat.
Maka dalam teknik menulis buku ilmiah, pemilihan referensi masuk di dalamnya. Pemilihan referensi harus relevan dengan topik, merupakan referensi kredibel, dan juga terbitan terkini bukan terbitan lama yang datanya sudah usang.
Selain itu, buku ilmiah membutuhkan pembahasan yang punya konteks dan mendalam. Inilah yang membuat jumlah halamannya banyak. Maka dosen dan mahasiswa perlu menggunakan berbagai referensi. Baik jumlah yang banyak sesuai kebutuhan, maupun dari berbagai sumber. Seperti referensi daring maupun cetak.
Salah satu strategi dalam menulis buku ilmiah secara efektif dan efisien adalah menyusun outline atau kerangka tulisan. Outline berisi susunan bab, subbab, dan judul sementara.
Sehingga membentuk peta jalan yang bisa membantu mengarahkan akademisi mengembangkan naskah buku ilmiah. Melalui outline ini, akademisi bisa tahu bab pertama membahas apa, subbabnya tentang apa, referensi mana yang dibutuhkan, dan seterusnya.
Outline kemudian membuat proses penulisan lebih mudah, terarah, dan sistematis atau runtut dari awal bab ke bab berikutnya. Sehingga terfokus pada topik dan tidak melebar kemana-mana. Jadi, sebelum mulai menulis naskah pastikan outline disusun dulu.
Memang di awal membutuhkan waktu, akan tetapi ketika menulis didasarkan isi outline maka akan lebih efektif dan efisien. Jadi, meluangkan waktu di awal jauh lebih baik dibanding proses menulis yang memakan waktu terlalu lama.
Teknik menulis buku ilmiah berikutnya adalah disusun secara sistematis atau berurutan. Dimulai dari bab pertama dan bab turunannya, baru kemudian berlanjut ke bab berikutnya, dan seterusnya.
Kenapa perlu berurutan atau sistematis? Pertama, memastikan pengembangan naskah optimal. Sebab meminimalkan kemungkinan penulis (akademisi) menyampaikan informasi berulang.
Kedua, memudahkan dalam memastikan alur penjelasan runtut sesuai logika keilmuan. Sehingga tidak melompat-lompat dan ada bagian yang terlewat atau penjelasan kurang optimal (mendalam) karena disusun buru-buru. Bisa karena waktu menulis habis di bab lain.
Alasan ketiga, memudahkan akademisi dalam memaparkan topik menjadi beberapa bab secara mendalam. Sebab bisa fokus di satu bab dulu dan memberdayakan data dari berbagai referensi yang didapatkan. Baru kemudian beralih fokus ke bab lain. Sehingga pembahasan tuntas dan mudah dipahami pembaca.
Dalam menulis buku ilmiah, gaya bahasa tentu perlu diperhatikan. Buku ilmiah memiliki gaya bahasa yang tetap baku tapi harus dibuat menarik. Sebab pembacanya bisa mahasiswa, yang tentu dalam tahap belajar dan belum pakar di bidangnya.
Jika pembahasan terlalu kaku dan monoton, motivasi mereka melanjutkan membaca bisa turun. Jadi, menulis buku ilmiah punya gaya bahasa yang berbeda dengan KTI nonbuku. Misalnya dengan makalah, artikel ilmiah, skripsi, dll.
Dalam gaya bahasa, akademisi tetap harus mengedepankan pemilihan ragam kata baku sesuai EYD. Ejaannya juga harus sesuai EYD. Disusul dengan penyusunan kalimat efektif, sehingga membentuk kalimat pendek dengan makna jelas. Struktur paragraf harus memenuhi kriteria paragraf yang baik.
Jika ada istilah teknis, maka bisa dipertahankan dan berikan keterangan penjelas. Baik diletakan di dalam paragraf dengan diapit tanda kurung. Maupun diletakan di dalam catatan kaki (footnote), sesuai gaya sitasi yang digunakan.
Kutipan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari KTI, termasuk KTI berbentuk buku ilmiah. Kutipan menjadi penguat argumen yang disampaikan oleh penulis. Sekaligus menyajikan data yang memang valid dan bisa dipertanggung jawabkan.
Hanya saja, pembaca cenderung tidak menyukai buku ilmiah yang terlalu banyak kutipan. Hal ini bisa membuat pembaca merasa sedang membaca buku yang isinya hanya kumpulan kutipan.
Jadi, dalam teknik menulis buku ilmiah penambahan kutipan perlu memastikan jumlahnya wajar. Pastikan momentum penambahan kutipan yang tepat itu kapan agar tidak asal menambahkan kutipan.
Strategi lainnya, adalah dengan memperbanyak kutipan tidak langsung. Sehingga ada proses parafrase dan interpretasi sesuai pemahaman penulis. Hal ini bisa memberi kesan bahwa kutipan tersebut bukan asal copy paste.
Bagi pembaca pun, membaca kutipan tidak langsung terasa lebih memuaskan. Terlebih jika penulis mampu menjelaskan dengan bahasa bayi, yang artinya sangat mudah dipahami.
Dalam pencantuman argumen, akademisi harus memastikan dicantumkan secara eksplisit (tersurat). Tujuannya agar argumen tersebut jelas, bisa dikenali, diketahui, dan juga dipahami langsung oleh pembaca.
Argumen ini menjadi bagian dari pengembangan topik dengan pembahasan yang lebih mendalam. Namun, jangan sampai argumen disampaikan sekilas atau bahkan secara implisit (tersirat).
Selain itu, argumen perlu didukung oleh data penguat. Bisa dari kutipan yang diambil dari referensi, bisa jadi kutipan yang disampaikan pakar di bidangnya, dan sebagainya. Sehingga argumen tersebut kuat bukan malah lemah. Sekaligus membedakannya dengan hasil imajinasi penulis.
Perlu dipahami, target pembaca buku ilmiah bisa semua kalangan masyarakat. Jadi, buku ilmiah tidak selalu hanya dibaca oleh dosen, mahasiswa, guru, dan peneliti. Bisa juga oleh masyarakat awam yang memang tertarik dengan topik buku ilmiah tersebut.
Selain itu, buku ilmiah juga lebih sering dijadikan pegangan mahasiswa maupun pelajar. Baik untuk menunjang selama pembelajaran terbimbing, maupun pembelajaran mandiri. Seperti saat belajar di rumah setelah jam perkuliahan.
Jadi, salah satu teknik menulis buku ilmiah yang perlu diterapkan adalah menambahkan efek visual. Misalnya ada data yang dijelaskan, diikuti dan dilengkapi dengan foto, gambar ilustrasi, grafik, dan semacamnya.
Tujuannya agar menunjang pemahaman pembaca atas teks berisi data tersebut. Sekaligus punya efek visual yang menarik perhatian. Sehingga bisa menjadi nilai tambah di mata pembaca.
Pada topik tertentu, menambahkan contoh kasus di lapangan menjadi teknik menulis buku ilmiah yang tepat untuk diterapkan. Secara umum, menambahkan penjelasan dengan contoh kasus nyata cukup penting.
Jadi, jika topik buku memungkinkan untuk diberikan contoh aktual di lapangan. Maka silahkan dicantumkan. Baik dalam teks, visual, maupun gabungan keduanya. Hal ini bisa membantu pembaca lebih memahami isi pembahasan.
Adaya contoh kasus juga membantu penjelasan di dalam buku diingat jangka panjang oleh pembaca. Sebab biasanya, dengan memahami contoh di lapangan dan berkaitan dengan teori di dalam buku. Maka pemahaman pembaca bisa lebih optimal.
Teknik berikutnya adalah menulis secara konsisten. Ada banyak alasan kenapa konsistensi menulis menjadi bagian dari teknik penulisan buku ilmiah. Pertama, konsistensi penting agar naskah buku terus berkembang. Sehingga menghindari risiko naskah terbengkalai dan gagal diselesaikan.
Kedua, membantu penulis mengingat pembahasan sudah sampai mana. Sehingga lebih mudah melanjutkan karena masih segar di ingatan perlu membahas apa lagi. Ketiga, menjadi solusi jika kesibukan tinggi dan/atau rawan distraksi.
Konsisten dalam menulis tidak harus meluangkan waktu beberapa jam per hari. Bisa juga hanya setengah jam sehari, tapi rutin. Jika masih kesulitan, bisa dibuat longgar lagi dengan menulis setengah jam per 2 kali seminggu atau bahkan 1 kali seminggu.
Baca juga: 15 Strategi Ampuh Menulis di Sela Kesibukan
Distraksi dalam menulis mungkin bagi beberapa akademisi adalah hal mustahil untuk dihindari 100%. Maka upaya terbaik yang bisa dilakukan adalah meminimalkan distraksi tersebut. Salah satunya dengan menentukan tempat menulis yang tepat.
Harus diakui, menulis cenderung butuh tempat yang nyaman dan juga tenang. Sehingga penulis bisa menjaga fokus dan mood menulis tetap stabil. Oleh sebab itu, tempat menulis harus ditentukan dengan benar.
Jika di rumah, maka pilih ruangan yang dirasa paling nyaman dan minim kebisingan. Jika tidak memungkinkan, maka bisa menulis di luar rumah. Misalnya di perpustakaan kampus, perpustakaan daerah, cafe, menyewa space untuk bekerja, dll.
Editing dan penyuntingan oleh penulis maupun orang lain juga bagian dari teknik menulis buku ilmiah. Setelah naskah buku selesai disusun, jangan langsung diterbitkan. Akan tetapi dibaca dulu, diperiksa, dan mengoreksi kesalahan yang ditemukan.
Jika merasa kurang objektif, maka bisa meminta rekan sejawat atau keluarga untuk membaca dan memberi umpan balik. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas naskah dan lebih mudah diterima editor penerbit karena kesalahan sudah minim.
Baca juga: Seberapa Penting Editing Naskah Buku? Ini Penjelasan dan Tipsnya
Memilih penerbit yang tepat juga bagian dari teknik menulis buku ilmiah dengan benar. Kenapa? Sebab dari penerbit inilah ada proses editing dan penyuntingan final. Naskah yang dikirim ke penerbit ada kemungkinan besar revisi. Sehingga proses menulis belum selesai.
Kuncinya adalah memilih penerbit yang tepat, dalam artian tidak hanya penerbit yang memang menerbitkan buku ilmiah. Akan tetapi yang menerapkan editorial ketat. Sehingga naskah diperiksa oleh editor profesional dan kualitasnya sudah dijamin baru kemudian naik ke proses penerbitan.
Menerapkan teknik menulis buku ilmiah yang tepat, bisa memudahkan proses penyusunan. Meskipun tetap ada kemungkinan menghadapi berbagai kendala. Namun, dampaknya bisa diminimalkan karena proses menulis bisa dilakukan kontinyu. Naskah pun cepat selesai dan kemudian bisa segera diterbitkan.
Akademisi sering menghadapi kendala seperti kesulitan memahami topik, keterbatasan akses referensi, kurangnya waktu untuk menulis, serta banyaknya distraksi yang menghambat fokus selama proses penulisan.
Menulis buku ilmiah dapat dimulai dengan menentukan topik yang dikuasai, menetapkan tujuan penulisan, memilih jenis buku yang akan dibuat, mengumpulkan referensi, dan menyusun kerangka tulisan sebelum mengembangkan isi buku.
Konsistensi dapat dibangun dengan membuat jadwal menulis secara rutin, meskipun hanya dalam waktu singkat. Menulis secara berkala membantu menjaga perkembangan naskah dan mencegah buku berhenti di tengah jalan.
Akademisi perlu memilih penerbit yang kredibel, berpengalaman menerbitkan buku ilmiah, serta memiliki proses editorial yang baik agar kualitas naskah tetap terjaga sebelum diterbitkan.
Referensi:
Dalam kegiatan belajar, membaca, maupun menulis, tentunya akan dekat dengan proses parafrase, meringkas, dan menarik…
Menulis buku, baik ilmiah maupun nonilmiah memang bukan hal yang mudah. Banyaknya kendala dan hambatan,…
Dalam proses penerbitan buku, penulis tentu perlu mengirimkan naskahnya ke penerbit. Jadi, tidak bisa terbit…
Konversi KTI merupakan proses mengubah satu jenis KTI ke jenis KTI lainnya. Misalnya mengubah laporan…
Publikasi hasil penelitian dosen bisa dalam bentuk publikasi artikel ilmiah di prosiding maupun jurnal. Bisa…
Banyak orang mengira, kesulitan tertinggi dari menulis buku adalah proses menulis itu sendiri. Aktualnya, proses…
View Comments