Paradigma penelitian merupakan istilah yang kerap bersinggungan dengan mahasiswa yang sedang melakukan penelitian atau melakukan berbagai hal yang terkait dengan penelitian. Paradigma penelitian ini muncul ketika mahasiswa melangsungkan penelitian entah itu sebagai tugas, studi literatur, penelitian, tugas akhir, dan bahkan skripsi.

Akan tetapi, apa itu paradigma penelitian? Sebelum mengetahui apa itu paradigma penelitian, sebagai mahasiswa Anda tentu harus lebih dulu mengenal mengenai penelitian. Berbagai hal mengenai pengertian dari penelitian dan berbagai hal mengenai paradigma penelitian akan dibahas mendalam dalam artikel di bawah ini.

Apa Itu Penelitian?

Sebelum membahas apa itu paradigma penelitian, Anda harus mengenal dan memahami apa itu penelitian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penelitian adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum.

Sementara itu, Wikipedia mengungkapkan pengertian penelitian atau riset sebagai deskripsi suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan juga sistematis, yang bertujuan untuk menemukan, menginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Penyelidikan intelektual ini kemudian menghasilkan pengetahuan yang mendalam mengenai suatu peristiwa, tingkah laku, hukum, dan teori yang membuka peluang bagi penerapan praktis dari pengetahuan yang dikaji.

Maryati dan Suryawati dalam bukunya yang berjudul Sosiologi Kelompok Peminatan Ilmu-ilmu Sosial menjelaskan bahwa penelitian merupakan usaha memperoleh fakta atau prinsip dengan cara mengumpulkan dan menganalisis data (informasi) yang dilaksanakan dengan jelas, teliti, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Definisi lain menyebutkan bahwa penelitian merupakan suatu usaha peneliti untuk menguji data yang ia dapat dan menghasilkan pengetahuan baru, sehingga penelitian ini menjadi tombak atau tolok ukur dalam perkembangan ilmu dan pengetahuan dari waktu ke waktu.

Pengertian Paradigma Penelitian

Setelah memahami pengertian dari penelitian, maka didapat kesimpulan bahwa pengertian dari penelitian merupakan suatu proses atau riset untuk mencari atau memperoleh fakta atau prinsip dengan cara mengumpulkan dan menganalisis data (informasi) yang dilaksanakan dengan jelas, teliti, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, paradigma penelitian juga dapat diartikan sebagai kerangka berpikir seseorang yang digunakan oleh peneliti dalam melihat atau memandang mengenai realita atau suatu fakta tentang permasalahan dan juga teori atau ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

Secara umum, paradigma penelitian merupakan seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis dan membentuk sebuah kerangka pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan, dan menjelaskan kenyataan dan/atau masalah yang dihadapi.

Pemahaman konsep paradigma tersebut relevan untuk pengembangan penelitian dan ilmu pengetahuan. Selain itu, paradigma juga dapat diartikan sebagai pandangan dasar mengenai pokok bahasan ilmu yang mana paradigma ini mendefinisikan dan juga membantu menemukan sesuatu yang harus diteliti dan juga dikaji.

Paradigma kemudian juga digunakan untuk mencari pertanyaan yang harus dimunculkan, cara merumuskan pertanyaan, dan aturan-aturan yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban. Sehingga dapat diartikan bahwa paradigma penelitian adalah bagian dari kesepakatan atau consensus yang paling luas dalam dunia ilmiah yang berfungsi membedakan satu komunitas ilmiah tertentu dan dengan lainnya.

Paradigma penelitian ini berkaitan dengan pendefinisian, metode, teori, hubungan antara model, serta adanya instrumen yang tercakup di dalamnya dan menjadi dasar untuk memberikan pedoman bagi seluruh proses penelitian.

Oleh sebab itu, diperlukannya paradigma pada sebuah penelitian yang dilakukan dengan tujuan adalah untuk menjawab suatu permasalahan penelitian dengan menggunakan analisis dan juga data tertentu yang mana dengan penelitian tersebut, akan diketahui seberapa jauh konsep, pertanyaan, teori, dan lain sebagainya di dalam penelitian.

Paradigma penelitian biasanya digunakan sebagai alat analisis yang memiliki manfaat untuk dapat memahami tingkat hubungan antar suatu ajaran dengan perilaku masyarakat yang beragam.

Para ahli juga mengungkapkan berbagai pengertian mengenai paradigma penelitian Berikut adalah beberapa pendapat ahli mengenai paradigma penelitian.

1. Kuhn (1962)

Kuhn menjelaskan bahwa paradigma penelitian adalah seperangkat keyakinan dan persetujuan bersama antara ilmuwan satu dengan yang lainnya mengenai bagaimana sebuah masalah harus ditangani dan juga dipahami.

2. Guba dan Lincoln (2988)

Guba dan Lincoln berpendapat bahwa paradigma penelitian merupakan sebagai cara peneliti untuk dapat memahami permasalahan tertentu dengan kriteria untuk dapat menguji guna ditemukannya penyelesaian masalah.

Paradigma penelitian memiliki beberapa terminolog filosofis yaitu epistemolohgi, ontologi, metodologi, dan anti aksiologis. Berikut penjelasan singkatnya.

Epistemologi, merupakan bagaimana sesuatu itu bisa diketahui?

Ontologi, merupakan apa yang ingin kita ketahui dan biasanya hubungannya dengan realitas.

Aksiologi, artinya menjelaskan mengenai sebuah nilai dasar penelitian.

Metodologi, adalah bagaimana seorang ilmuwan mencari tahu.

Baca Juga:

Skala Pengurukan dalam Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contoh

Jenis-Jenis Penelitian Lengkap dengan Contoh Penjelasannya

Objek Penelitian: Pengertian, Macam-Macam, dan Contoh Lengkap

Pentingnya Paradigma Penelitian

Setelah memahami pengertian dari paradigma penelitian tadi, Anda tentu sudah memahami mengapa paradigma penelitian ini penting dan bermanfaat untuk dilakukan. Hal ini mengacu pada fungsi paradigma penelitian yang mana digunakan untuk menentukan pendekatan yang sesuai dengan yang akan digunakan dalam melakukan penelitian atas sebuah permasalahan.

Ketika Anda sebagai peneliti melakukan sebuah penelitian atau penyelidikan terhadap suatu masalah, maka akan muncul sebuah paradigma peneliti yang berupa jenis0jenis paradigma yang kemudian di dalam paradigma tersebut akan memunculkan berbagai pendekatan dan metodologi penelitian yang dapat digunakan sebagai acuan atau alat bantu bagi peneliti untuk dilakukan penelitian.

Dengan adanya paradigma penelitian tersebut, maka akan memunculkan jenis pendekatan dan metodologi penelitian yang sesuai dan kemudian digunakan sebagai acuan atau sebagai alat bagi para peneliti untuk melakukan penelitian.

Adanya epistemologi dan ontologi bisa dipandang secara holistik atau menyeluruh mengenai bagaimana sebuah pengetahuan dipandang dan sebagaimana sebuah pengetahuan dipandang dan juga bagaimana peneliti bisa melihat diri sendiri dalam hubungannya dengan pengetahuan dan strategi metodologis yang akan digunakan untuk mengungkap penelitian.

Dan dengan adanya kesadaran mengenai asumsi filosofis, peneliti bisa langsung meningkatkan kualitas penelitian dan bisa berkontribusi pada perkembangan sebuah penelitian.

Jenis-jenis Paradigma Penelitian

Agar Anda lebih mudah memahami apa itu paradigma penelitian, terlebih dahulu Anda harus mengenal apa saja berbagai jenis paradigma penelitian secara mendalam, satu persatu.

1. Paradigma Penelitian Kuantitatif

Paradigma penelitian kuantitatif merupakan paradigma yang dilandasi dari filsafat positivisme yang tidak mengakui adanya unsur teologi dan metafisik. Jenis paradigma ini meyakini bahwa ilmu pengetahuan merupakan satu-satunya pengetahuan yang valid, yang mana pengetahuan didapat dari pengalaman yang sudah dilalui.

Akan tetapi meskipun dimulai dari suatu pengalaman, penelitian tetap berlangsung berdasarkan fakta yang ada dan fakta yang terjadi. Selain fakta, penelitian juga bisa dilandasi berdasarkan asumsi dengan melihat fakta dan peristiwa yang berlangsung.

Sehingga paradigma ini menggunakan asumsi bagi peneliti yang dibangun dari fakta yang diperoleh dari berbagai proses berpikir mengenai berbagai fenomena atau kejadian tertentu. Paradigma penelitian kuantitatif ini memiliki pandangan bahwa sumber ilmu salah satunya berasal dari pemikiran rasional data empiris.

Dasar tersebut dilandasi dari kesesuaian dengan teori terdahulu atau yang biasanya disebut sebagai koherensi yang mana dari prosesnya diawali suatu asumsi atau yang disebut sebagai hipotesis dan dilanjutkan dengan verifikasi untuk mendapatkan teori baru.

Paradigma kuantitatif ini beranggapan bahwa suatu peristiwa terdapat variabel di dalamnya dan variabel tersebut dapat berubah tergantung bagaimana kondisi dan juga situasi yang terjadi, sehingga biasanya variabel yang digunakan hanya berkaitan dengan tujuan penelitian yang dilakukan.

2. Paradigma Penelitian Kualitatif

Selain paradigma penelitian kuantitatif, jenis paradigma penelitian yang selanjutnya adalah paradigma penelitian kualitatif. Paradigma penelitian kualitatif menganut model humanistik yang mana menjadikan manusia sebagai subjek penelitian di dalam fenomena atau suatu peristiwa yang akan diteliti.

Di dalam paradigma penelitian kualitatif ini, manusia akan menentukan perilaku dirinya sendiri dan juga bagaimana peristiwa sosial yang terjadi di sekitarnya dengan menganut filsafat fenomenologis milik Edmund Husserl yang dikembangkan di dalam dunia sosiologi oleh Max Weber dan menjadi landasan dari paradigma ini.

Paradigma ini memiliki pandangan yang didasari oleh pemikiran atau doktrin yang dimiliki individu tersebut, sehingga tidak hanya dipandang secara tunggal, namun di dalamnya terdapat aspek, unsur, dan hal lain yang membentuk perilaku.

Sehingga secara mudah, peneliti dapat menyebut paradigma penelitian ini sebagai alasan mengenai apa saja yang menggerakkan manusia untuk bertindak, baik hal tersebut disadari atau tidak disadari oleh individu tersebut, karena pada dasarnya paradigma ini mempercayai hal bahwa manusia memiliki kontrol untuk menentukan perilaku dirinya sendiri.

Selain menekankan pada manusia, paradigma kualitatif menilai bahwa peristiwa atau fenomena harus dilihat secara menyeluruh, sehingga tidak hanya cukup dengan melihat peristiwa itu sendiri tanpa melihat adanya alasan atau penyebab kejadian. Ketika ingin melihat peristiwa dengan penyebabnya, maka paradigma penelitian kualitatif ini menjadi pilihan yang tepat.

Berbeda dengan paradigma penelitian kuantitatif, paradigma penelitian kualitatif ini tidak terbatas pada pengujian hipotesis dengan menggunakan teori sebelumnya, melainkan menemukan teori baru mengenai teori yang ada dengan sistematis sehingga paradigma ini mengakui berbagai fakta empiris sebagai sumber pengetahuan, tetapi tidak digunakan untuk melakukan verifikasi.

Hal ini karena dalam paradigma penelitian kualitatif mencoba menggali berbagai faktor di balik fenomena dan juga proses penelitian yang berlangsung dianggap lebih penting jika hanya dibandingkan dengan penelitian yang didapatkan.

3. Positivisme

Jenis paradigma penelitian selanjutnya adalah paradigma penelitian positivisme. Paradigma penelitian positivisme merupakan paradigma yang didasari pada hukum dan juga prosedur baku dan tunggal di mana ilmu pengetahuan tersebut dianggap deduktif dan juga di dalam penelitian tersebut melibatkan berbagai variabel di dalamnya.

Paradigma penelitian positivisme ini juga menjadi cikal-bakal paradigma penelitian kuantitatif. Paradigma penelitian positivisme ini percaya bahwa kebenaran tunggal dari sebuah kejadian atau pandangan berdasarkan realitas dapat diukur dengan adanya metode yang terpercaya dan juga valid.

Paradigma penelitian positivisme ini menggunakan pendekatan berdasarkan pendekatan kuantitatif.

4. Konstruktivisme

Paradigma penelitian selanjutnya merupakan paradigma penelitian konstruktivisme yang merupakan kebalikan dari paradigma penelitian positivisme. Paradigma penelitian konstruktivisme ini memandang bahwa ilmu pengetahuan atau kebenaran itu memiliki sifat relatif. Sehingga di dalam penelitian ini, realitas tidak harus ditafsirkan dan setiap penafsiran tentu berbeda-beda.

Sehingga di dalamnya tidak hanya tunggal, namun juga bisa berubah tergantung bagaimana interpretasi terhadap setiap individu atau suatu kelompok yang mana biasanya paradigma ini digunakan di dalam penelitian kualitatif.

5. Pragmatisme

Paradigma penelitian yang kelima adalah paradigma penelitian pragmatisme. Paradigma penelitian pragmatisme ini merupakan paradigma yang menilai bahwa suatu fakta atau suatu realitas dari fenomena tidak selalu tetap. Artinya, fakta atau realitas bisa berubah setiap saat.

Perubahan tersebut dapat terjadi dan berubah karena realitas masih dan akan terus dapat dinegosiasi atau ditawar, karena pada dasarnya paradigma penelitian pragmatisme ini merupakan gabungan dari paradigma positivisme dan juga paradigma konstruktivisme.

Paradigma penelitian pragmatisme ini pada dasarnya percaya bahwa suatu kenyataan atau realitas bisa diperdebatkan dan juga diinterpretasikan. Hal ini karena cara tersebut merupakan cara terbaik yang dapat digunakan di dalam penelitian merupakan jalan menemukan solusi dari setiap masalah yang datang.

Di dalam paradigma penelitian kuantitatif ini, pendekatan yang digunakan merupakan pendekatan perpaduan dari kuantitatif dan kualitatif.

6. Subjektivitas

Selanjutnya, paradigma penelitian lainnya merupakan paradigma penelitian subjektivitas. Paradigma penelitian subjektivitas ini memiliki fokus utama yaitu pandangan dari peneliti itu sendiri. Di dalam paradigma penelitian subjektivitas mempercayai bahwa pandangan dan juga interpretasi peneliti merupakan faktor penting di dalam suatu penelitian.

Interpretasi peneliti di dalam paradigma penelitian subjektivitas ini memandang suatu peristiwa atau kejadian dianggap sebagai suatu kenyataan. Sehingga subjektivitas ini berpendapat bahwa pengetahuan adalah suatu perkara sudut pandang yang menggunakan pendekatan arkeologis, dekonstruktif, dan analisis wacana.

7. Paradigma Kritis

Jenis paradigma penelitian yang terakhir adalah paradigma penelitian kritis. Paradigma penelitian kritis ini meyakini bahwa suatu realitas yang terjadi merupakan hasil dari sistem yang sudah dikonstruksi. Artinya, sebuah peristiwa atau fenomena yang terjadi sudah melalui kontrol oleh pihak maupun kelompok yang berkuasa.

Sehingga penelitian tersebut memang tidak berjalan secara alami atau suatu kebetulan, akan tetapi memang sudah dirancang dengan sedemikian rupa agar dapat membentuk realitas tersebut. 

Paradigma penelitian kritis ini mempercayai bahwa suatu kenyataan merupakan wujud yang dikonstruksikan sehingga senantiasa di bawah hubungan kuasa yang berkelanjutan. Biasanya, paradigma penelitian kritis ini menggunakan cara kritik ideologi, etnografi kritis, dan juga analisis wacana.

Baca Juga:

Desain Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contoh Lengkap

Subjek Penelitian: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya

11 Jenis Laporan Penelitian yang Baik Benar

Contoh Paradigma Penelitian

Untuk lebih memahami bagaimana paradigma penelitian berdasarkan jenis-jenisnya, berikut ini merupakan contoh dari paradigma penelitian berdasarkan jenisnya.

1. Contoh Paradigma Penelitian 1

Contoh penelitian tentang “Perkembangan Demokrasi pada Negara-negara Sosialis”. Negara-negara yang menganut paham sosialis menentang paham demokrasi. Jadi penelitian perkembangan demokrasi di negara-negara sosialis bersifat spesifik.Untuk mendeskripsikan hal tersebut, peneliti harus mengumpulkan informasi tentang kedua negara tersebut (thick description).

Sebagai contoh tidak seperti dalam penelitian kuantitatif yang mematok jumlah subjek minimal sebanyak  tiga puluh individu agar dapat dianalisis dengan statistik , maka dalam penelitian kualitatif tidak mematok jumlah subjek yang diteliti tetapi lebih mengarah kepada kasus – kasus tertentu. (Tahir, 2011:61).

2. Contoh Paradigma Penelitian 2

Penulis ingin melakukan eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu peristiwa atau kenyataan sosial, mengenai pandangan yang informan berikan terhadap peristiwa yang terjadi dalam cuplikan video CNNIndonesia.com. Penelitian ini menjelaskan tentang proses penerimaan mahasiswa dalam menonton tayangan, dan memberikan perhatiannya pada media CNNIndonesia.com. 

Jika ada sebuah media yang menggambarkan terjadinya relokasi di Kota Bandung, mahasiswa akan menilai dan melakukan eksplorasi dan klarifikasi mengenai peristiwa yang ditayangkan pada media itu.

Kemudian resepsi yang diambil oleh peneliti dari wawancara mendalam soal tayangan berita tersebut berdasarkan dengan teori dan konstruksi (realita) pada setiap individu yang berbeda-beda.

Atas dasar pemikiran tersebut, penulis memilih pendekatan kualitatif sebagai jenis penelitian. Karena sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini. Penelitian kualitatif yang sifatnya deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang tujuannya untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial

Artikel Terkait:

Penelitian Empiris: Pengertian, Jenis, dan Contoh

Penelitian Kuantitatif: Pengertian, Jenis, dan Contoh

Penelitian Eksperimen: Pengertian, Jenis, dan Contoh

Penelitian Pengembangan: Tujuan, Ciri-Ciri, Alasan, dan Caranya

Penelitian Studi Kasus: Pengertian, Jenis, dan Contoh Lengkap

Penelitian Deskriptif: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contohnya

Penelitian Korelasional: Pengertian, Ciri-Ciri dan Contohnya