Dalam melakukan kegiatan penelitian dijamin membutuhkan data dan pengumpulannya sudah tentu menggunakan satu atau beberapa alat ukur penelitian. Alat ukur riset tersebut merupakan peralatan dan komponen penting dalam sebuah penelitian. 

Tidak bisa diabaikan dan tidak bisa dihapus atau dihilangkan begitu saja, karena tanpa alat ukur tersebut peneliti akan kesulitan mendapatkan data. Bahkan bisa tidak mendapatkan data penelitian sama sekali. 

Bagi peneliti pemula, khususnya kalangan mahasiswa dijamin sedikit asing dengan istilah alat ukur riset tersebut. Apakah berada di situasi serupa? Jika iya, maka berikut adalah penjelasan detail mengenai definisi dan jenis-jenisnya. 

Pengertian Alat Ukur Penelitian 

Alat ukur penelitian adalah  instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang menjadi topik penelitian. Secara sederhana, alat ukur ini adalah alat atau media yang digunakan untuk mengumpulkan data. 

Data penelitian ini yang nantinya menjadi sumber bagi peneliti untuk melakukan analisis data, menarik kesimpulan, dan mendapatkan hasil penelitian. Jenis dari alat ukur riset kemudian sangat beragam karena jenis data penelitian juga beragam. 

Hal ini sesuai dengan jenis atau metode penelitian yang memang cukup banyak. Sehingga data berbentuk angka pada metode kuantitatif membutuhkan alat ukur riset yang berbeda jenisnya dengan data berbentuk penilaian subjektif dalam penelitian kualitatif. 

Alat ukur penelitian akan membantu pelaksanaan penelitian menjadi lancar dan mendapatkan data penting sesuai kebutuhan. Sehingga keberadaannya dan penggunaannya tidak bisa dihapus begitu saja dalam kegiatan penelitian. 

Pemahaman tentang semua jenis alat ukur riset ini penting, agar para peneliti bisa menentukan alat ukur mana yang tepat untuk digunakan. Supaya bisa segera melakukan penelitian dan pengumpulan data. 

Baca Juga:

Penelitian Empiris: Pengertian, Jenis, dan Contoh

Penelitian Kuantitatif: Pengertian, Jenis, dan Contoh

Penelitian Eksperimen: Pengertian, Jenis, dan Contoh

Jenis Alat Ukur Penelitian 

Sebagaimana yang disampaikan di awal, alat ukur penelitian memiliki jenis yang beragam karena memang jenis data penelitian juga beragam. Secara umum, terdapat 8 (delapan) jenis alat ukur yang sering digunakan para peneliti. Berikut penjelasannya: 

1. Tes

Jenis alat ukur yang pertama adalah tes, dimana tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.

Tes bisa juga disebut sebagai ujian, yang berisi beberapa soal dengan bentuk pertanyaan disertai pilihan jawaban. Bisa juga tes berbentuk pertanyaan dengan jawaban berupa isian yang ditulis atau diketik oleh peserta tes tersebut. 

Tes umum digunakan untuk mengumpulkan data penelitian, sebab bisa mengukur kemampuan subjek penelitian. Misalnya saat mencari tahu tingkat pemahaman siswa kelas X terhadap materi Kimia tentang Tabel Periodik. 

Maka tes yang diberikan bisa menjadi penyedia data tingkat kemampuan siswa sampai seberapa jauh. Mengenai alat ukur riset ini, jenisnya kemudian terbagi lagi menjadi beberapa. Yaitu: 

a. Tes Kepribadian 

Tes kepribadian atau personality test adalah jenis tes yang bertujuan untuk mengetahui karakter atau kepribadian seseorang. Adapun yang diukur adalah self-concept, kreativitas, kedisiplinan, kemampuan khusus , dan lain-lain. 

b. Tes Bakat 

Tes bakat atau aptitude test adalah sebuah tes yang bertujuan untuk mengetahui bakat seseorang yang menjadi peserta tes. Lewat tes ini bisa diketahui bakat dan minat dari subjek penelitian. 

c. Tes Intelegensi 

Tes intelegensi atau intelligence test merupakan tes yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang atau suatu kelompok. Tes ini diberikan dengan memberi beberapa bentuk tugas dan kemudian dilakukan pengukuran tingkat kecerdasan peserta. 

d. Tes Sikap 

Tes sikap atau attitude test merupakan jenis tes yang bertujuan untuk mengetahui berbagai sikap seseorang di sebuah tempat, ruangan, maupun suatu lingkungan. 

2. Skala Peringkat (Rating Scale)

Jenis alat ukur penelitian yang kedua adalah Skala Peringkat atau rating scale. Ranking scale atau skala peringkat adalah suatu jenis teknik pengumpulan data penelitian berupa data kualitatif ataupun kuantitatif. 

Penggunaannya adalah dengan cara memberikan perbandingan suatu item dengan item yang lain, inilah yang membedakan dengan alat ukur riset lainnya. Alat ukur ini sangat sering digunakan untuk mendapatkan penilaian relatif terhadap suatu topik. 

Meskipun data yang didapatkan sifatnya data kasar dan tidak langsung memberikan data yang mudah dipahami, melainkan perlu diolah dulu. Sekaligus tidak menyeluruh, namun bisa memberikan informasi yang sangat membantu. 

Meskipun banyak digunakan, proses interpretasi dari data hasil rating scale harus dilakukan dengan hati-hati. Pasalnya responden sendiri cenderung tidak jujur dalam memberikan jawaban, bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ini: 

  • Persahabatan. 
  • Kecepatan menerka. 
  • Kecepatan dalam memutuskan. 
  • Jawaban kesan pertama. 
  • Penampilan instrumen. 
  • Prasangka. 
  • Halo Effects. 
  • Kesalahan pengambilan rata-rata, dan juga 
  • Kemurahan hati atau atas dasar rasa kasihan. 

3. Panduan Wawancara (Interview Guides)

Alat ukur penelitian juga berupa panduan wawancara. Wawancara sendiri adalah percakapan di mana pertanyaan diajukan untuk memperoleh informasi yang kemudian menjadi data penelitian atau hasil pengamatan. 

Supaya data yang didapatkan valid dan sesuai dengan kebutuhan, maka proses wawancara kemudian disusun sedemikian rupa. Biasanya akan mengandalkan panduan wawancara yang berupa daftar pertanyaan yang akan diajukan ke responden. 

Panduan wawancara merupakan daftar topik yang kita rencanakan untuk dibahas dalam wawancara. Panduan digunakan agar peneliti bisa mengajukan pertanyaan dengan runtut dan bisa disampaikan dengan jelas ke narasumber.

Meskipun begitu, terdapat beberapa jenis wawancara yang dilakukan tanpa panduan. Sehingga pertanyaan diajukan secara spontan, dan sangat mungkin dilakukan jika pelaku wawancara sudah kenal dan paham topik yang akan ditanyakan. 

4. Lembar Periksa (Tally Sheet)

Selanjutnya adalah lembar periksa atau tally sheet, yakni alat ukur penelitian yang digunakan untuk mengetahui frekuensi suatu kejadian yang menjadi subjek penelitian. 

Misalnya, seorang peneliti sedang mencari data berapa sering guru mata pelajaran Matematika absen. Maka akan dilakukan lembar periksa ke beberapa siswa untuk mendapatkan tingkat frekuensinya. 

Data yang didapatkan bisa digunakan untuk penelitian dengan metode kualitatif maupun kuantitatif. Kemudian data bisa dipaparkan dalam bentuk grafik, sehingga bisa diketahui angka kejadian naik atau turun dalam kurun waktu tertentu. 

5. Diagram Alir (Flowchart)

Alat ukur penelitian yang kelima adalah diagram alir atau yang dikenal juga dengan istilah flowchart. Diagram alir sendiri adalah jenis diagram yang memaparkan alur kerja, tahap demi tahap, dan proses demi proses. 

Dalam penelitian, diagram alir digunakan untuk menyusun rencana kegiatan penelitian sehingga bisa menjadi peta agar tidak tersesat. Selain itu, bisa juga dijadikan alat untuk mendata hasil penelitian. 

Sehingga semua data dimasukan ke dalam diagram alir yang kemudian ditarik kesimpulan. Namun, secara umum diagram alir lebih digunakan untuk menganalisis, mendesain, dan mendokumentasikan suatu proses. 

Diagram alir bisa dibentuk secara manual, bisa juga dengan menggunakan alat bantu. Sebab sudah ada beberapa aplikasi atau program yang didesain membantu membuat diagram alir dengan baik, rapi, dan memiliki semua elemen yang dibutuhkan.

Baca Juga:

Jenis-Jenis Penelitian Lengkap dengan Contoh Penjelasannya

Objek Penelitian: Pengertian, Macam-Macam, dan Contoh Lengkap

Penelitian Pengembangan: Tujuan, Ciri-Ciri, Alasan, dan Caranya

6. Observasi

Alat ukur penelitian yang sangat sering digunakan adalah observasi atau pengamatan. Observasi adalah proses mengamati subjek penelitian untuk mendapatkan data yang dibutuhkan sesuai topik yang diteliti. 

Observasi akan membantu peneliti mendapatkan data yang valid karena dilakukan pengamatan secara langsung. Meskipun peneliti harus turun ke lapangan dan observasi berlangsung sampai beberapa hari bahkan berbulan-bulan. 

Namun setidaknya bisa mendapatkan data yang jelas, valid, dan tentunya lengkap. Kelengkapan dan validitas data akan mempengaruhi kualitas hasil penelitian itu sendiri. Selain itu, observasi kemudian terbagi menjadi beberapa jenis. Yaitu: 

a. Observasi Terkontrol 

Observasi terkontrol adalah proses pengamatan yang seluruh variabel di dalamnya bisa diatur oleh peneliti. Misalnya dilakukan di ruangan tertutup sehingga semua komponen bisa diatur peneliti sesuai kebutuhan. 

Observasi terkontrol juga bisa dalam bentuk pengaturan jadwal kegiatan observasi tersebut. Misalnya lokasinya dimana, waktu observasinya kapan, dan berapa lama, dan lain-lain. 

b. Observasi Naturalistik 

Berikutnya adalah observasi naturalistik, yakni jenis pengamatan yang dilakukan secara spontan dengan tidak mengubah variabel apapun dari subjek dan objek penelitian yang diamati. 

Peneliti kemudian akan merekam, melihat, dan mencatat apapun yang dilihat oleh mata. Sehingga tidak ada pengaturan apapun di dalam observasi jenis ini. Alat ukur penelitian satu ini umum digunakan untuk penelitian berbasis alam. 

c. Observasi Partisipatif 

Berikutnya adalah observasi partisipatif, yang artinya pengamatan oleh peneliti dilakukan secara langsung dimana peneliti ikut bergabung di dalam subjek penelitian. 

Observasi jenis ini sering disebut kombinasi antara observasi naturalistik dengan observasi terkontrol. Disebut terkontrol karena peneliti ikut terlibat ke dalam subjek penelitian dan hal ini sengaja dilakukan. 

Disebut naturalistik karena memang saat terjun ke dalam subjek penelitian, peneliti tidak lagi bisa mengatur variabel apapun. Misalnya dalam meneliti efek bencana alam bagi masyarakat desa X yang mengungsi. 

Peneliti tidak hanya melakukan pengamatan jarak jauh dan menganalisis data dari pemerintah. Tapi terjun dan berbaur dengan masyarakat yang menjadi pengungsi tersebut. 

7. Kuesioner

Alat ukur penelitian juga umum menggunakan kuesioner, yaitu daftar pertanyaan dengan beberapa jawaban yang harus dijawab oleh subjek penelitian. Bedanya dengan wawancara atau mungkin dengan lembar periksa adalah bentuk alatnya. 

Kuesioner biasanya berbentuk dokumen cetak berisi beberapa pertanyaan, kemudian di era digital sering dibuat dalam bentuk laman khusus. Sehingga ada beberapa pertanyaan yang diulang dan dibuat dengan pilihan jawaban mirip-mirip. 

Kuesioner juga biasanya berisi mengenai opini atau penilaian dari subjek penelitian, sehingga tidak ada pertanyaan yang jawabannya sama. Antara satu subjek dengan subjek lain dijamin berbeda. 

Misalnya untuk mengetahui tingkat kepuasan, rasa sayang, rasa cinta, rasa peduli, tingkat kepercayaan, dan lain-lain. Sehingga kuesioner kemudian lebih cocok digunakan pada penelitian kualitatif. 

8. Sosiometri

Jenis alat ukur penelitian yang terakhir adalah sosiometri. Yaitu suatu metode untuk memperoleh data tentang hubungan sosial dalam suatu kelompok, yang berukuran kecil sampai sedang yakni antara 10-50 orang.

Alat ukur satu ini bisa digunakan untuk mengetahui beberapa hal, seperti: 

  • Mengetahui pribadi atau siswa mana yang mengalami kesulitan untuk bersosialisasi. 
  • Mengetahui tingkat partisipasi suatu anggota kelompok terhadap kelompoknya. 
  • Memberi pemahaman mengenai masalah dalam bersosialisasi dari individu dalam kelompok yang sedang diteliti. 

Ada banyak jenis alat ukur penelitian, dan pemilihannya bisa disesuaikan dengan metode penelitian yang digunakan. Sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan, karena beberapa jenis alat ukur bisa digunakan untuk banyak metode dan untuk semua jenis data.  

Artikel Terkait:

90+ Contoh Rumusan Masalah untuk Penelitian, Skripsi, dan Karya Ilmiah

Instrumen Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contoh Lengkap

Hipotesis Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contoh Lengkap

Jenis Angket Penelitian yang Wajib Diketahui