Salah satu jenis buku ilmiah yang tepat untuk ditulis rutin oleh dosen adalah buku referensi. Supaya kualitas dan dampaknya optimal, para dosen perlu memahami tips menulis buku referensi dari hasil penelitian.
Sehingga buku referensi tersebut menjadi luaran dalam penelitian yang telah dilaksanakan. Kemudian memiliki kualitas yang baik, memenuhi ketentuan untuk diklaim dalam pelaporan BKD, dan memberi tambahan poin angka kredit. Berikut informasinya.
Memahami apa saja tips menulis buku referensi dari hasil penelitian, tentunya diawali dengan memahami definisinya dulu. Buku referensi adalah salah satu karya tulis ilmiah berbentuk buku yang isinya membahas pada satu bidang keilmuan.
Sehingga pembahasan di dalam buku referensi mencakup beberapa topik di suatu bidang keilmuan. Aspek substansi ini yang membedakannya dengan buku monograf, karena hanya fokus di satu topik di suatu bidang keilmuan saja.
Ada banyak alasan kenapa dosen memiliki kebutuhan sekaligus kewajiban menulis serta menerbitkan buku referensi. Pertama, menulis buku referensi menjadi bukti kinerja akademik dosen dalam melaksanakan tugas penelitian.
Kedua, buku referensi membantu dosen memenuhi BKD karena memiliki bobot sampai 10 SKS per buku (per judul). Ketiga, buku referensi membantu dosen mendapat poin angka kredit dan masuk ke AK Prestasi.
Angka kredit buku referensi sendiri mencapai 40 poin per judul buku. Bagi dosen PNS, buku referensi dosen naik pangkat (membantu kenaikan pangkat). Semakin rutin menulis dan menerbitkan buku referensi, semakin menunjang kenaikan jabatan akademik dan pangkat dosen di Indonesia.
Keempat, menerbitkan buku referensi membantu dosen menerima royalti. Jadi, buku referensi yang ditulis dosen tidak hanya bentuk profesionalisme. Akan tetapi juga berdampak pada karir akademik dan menjadi sumber pemasukan tambahan bagi dosen.
Baca juga: Buku Referensi: Pengertian, Karakteristik, Format dan Contohnya
Dalam tips menulis buku referensi dari hasil penelitian, tidak bisa hanya didasarkan pada hasil penelitian yang telah dilaksanakan dosen. Namun, dosen juga sudah memenuhi syarat menulis buku referensi tersebut.
Secara umum, terdapat 4 poin syarat agar dosen bisa menulis naskah buku referensi dan menerbitkannya. Berikut penjelasannya:
Syarat pertama dalam menulis buku referensi, topik yang diteliti dan menjadi topik dalam buku referensi tersebut sesuai bidang kepakaran dosen. Kesesuaian ini penting, karena idealnya buku referensi disusun pakar di bidangnya.
Jika dosen tidak memilih topik sesuai kepakaran, maka kualitas dan kedalaman pembahasan tidak optimal. Dampak lainnya, tidak bisa diklaim dalam BKD karena tidak relevan dengan bidang keilmuan dosen.
Syarat menulis buku referensi yang kedua, dosen yang menulis naskah sudah memiliki peta keilmuan. Artinya, dosen memahami topik dengan baik dan alur yang tepat dalam memaparkan topik tersebut agar sesuai logika keilmuan.
Jadi, dosen sudah memahami apa saja urutan dalam memaparkan topik utama pada buku referensi. Tujuannya agar pembahasan dimulai dari materi paling mendasar dan terus ditingkatkan agar isi buku mudah dipahami dan pemahaman topik para pembaca bisa mendalam.
Syarat menulis buku referensi yang ketiga, isi pembahasan tidak hanya pemaparan topik secara teoritis. Akan tetapi juga mendukung penerapan langsung di lapangan oleh para pembaca. Sehingga penting untuk memaparkan hasil studi kasus.
Dosen bisa mengusung topik berupa permasalahan yang terjadi lapangan. Kemudian dari hasil penelitian, solusi apa yang bisa dipertimbangkan. Kemudian dipaparkan secara rinci dan terstruktur di dalam naskah. Contoh lain, dosen memberi contoh aplikasi isi naskah buku referensi kepada pembaca.
Syarat berikutnya, naskah buku referensi perlu ditambahkan ilustrasi. Yakni elemen yang memvisualisasikan informasi atau data atau penjelasan di dalam naskah. Ilustrasi disini bisa dalam bentuk gambar ilustrasi, grafik, tabel, diagram alir, dll.
Jenis atau bentuk ilustrasi disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik dari materi yang dipaparkan di dalam naskah. Misalnya, jika memberikan data pertumbuhan penduduk di Indonesia.
Maka bisa dibuat tabel maupun grafik. Sementara jika buku referensi di bidang sistem informasi. Maka ilustrasi bisa dalam bentuk diagram alur sistem, ERD, dan sejenisnya.
Baca juga: Kriteria Menulis Buku Referensi yang Baik, Sudah Tahu?
Buku referensi disusun dosen berdasarkan hasil penelitian. Sehingga untuk efisiensi waktu dan sumber daya lain dalam proses penyusunannya. Para dosen sangat dianjurkan untuk melakukan konversi laporan penelitian jadi buku referensi.
Mendukung dosen lebih mudah dan meminimalkan kendala dalam penyusunan buku referensi. Berikut beberapa tips menulis buku referensi dari hasil penelitian:
Tips yang pertama dalam menyusun buku referensi dari hasil penelitian, tentunya penelitian tersebut sudah dijalankan dan selesai. Sehingga sudah ada hasil penelitian dan luaran, seperti laporan hasil penelitian maupun artikel jurnal ilmiah.
Sebab data yang dipaparkan di dalam naskah menyesuaikan dengan data penelitian tersebut. Jika penelitian masih berjalan, bagaimana mungkin naskah bisa disusun? Jadi, dalam cara menulis buku referensi dari hasil penelitian harus memastikan penelitian sudah selesai dijalankan.
Supaya lebih efektif dan efisien, bisa melakukan konversi KTI pada luaran penelitian tersebut. Baik mengkonversi laporan penelitian, artikel jurnal, artikel prosiding, atau luaran KTI bentuk lainnya. Sehingga tidak perlu menulis naskah buku referensi dari nol.
Hasil penelitian tidak hanya bisa disebarluaskan dosen dalam bentuk buku referensi. Ada juga jenis buku ilmiah lain yang bisa dipilih. Seperti buku monograf dan juga bunga rampai (book chapter).
Jadi tips menulis buku referensi dari hasil penelitian yang kedua adalah dosen memahami karakteristik buku referensi tersebut. Tujuannya agar tidak sama dengan buku ilmiah lain. Sehingga proses klaim di BKD dan penilaian AK Prestasi juga lebih tepat.
Dosen bisa mempelajari apa itu buku referensi, struktur penulisannya, format penulisanya, standar substansinya, standar penerbitannya, dll. Mengikuti pelatihan dan workshop menulis buku referensi sangat dianjurkan.
Poin berikutnya dalam tips menulis buku referensi dari hasil penelitian adalah membaca buku panduan. Umumnya perguruan tinggi yang menaungi dosen menerbitkan buku panduan penulisan buku referensi. Begitu juga buku ilmiah lain.
Isi panduan memaparkan ketentuan dari format penulisan, sistematika atau struktur naskah, standar Ditjen Dikti dalam penerbitan, dan aspek lainnya. Membaca panduan sangat penting agar sejak awal naskah buku referensi memenuhi ketentuan atau aturan yang berlaku.
Sehingga bisa diklaim dalam BKD dan masuk penilaian angka kredit untuk kenaikan jabatan fungsional. Dosen tentu tidak ingin naskah buku referensi yang disusun dengan penuh perjuangan berujung tidak diakui Ditjen Dikti.
Tips menulis buku referensi dari hasil penelitian berikutnya adalah dosen paham betul bagaimana konversi KTI menjadi buku dilakukan. Secara garis besar ada 2 aspek yang diubah, yakni gaya bahasa dan struktur penulisan.
Gaya bahasa pada KTI nonbuku cenderung lebih ilmiah atau akademik. Sehingga kental dengan penggunaan istilah khusus di bidang keilmuan. Gaya bahasa ini dipandang terlalu kaku jika dipertahankan dalam naskah buku referensi. Maka diubah menjadi lebih formal tapi dengan ragam diksi umum.
Sementara dalam struktur, struktur KTI nonbuku berbeda cukup jauh dengan buku. Misalnya, artikel jurnal ilmiah umumnya menggunakan struktur IMRaD. Namun di dalam buku disusun dalam bentuk bab, subbab, subsubbab, dan turunannya. Maka dari struktur IMRaD tersebut harus diubah ke beberapa bab dan turunannya.
Tips berikutnya, sangat disarankan untuk dosen menyusun kerangka atau outline buku referensi. Kerangka ini menjadi bagian dari mengubah struktur KTI nonbuku menjadi buku referensi yang sesuai standar.
Misalnya artikel jurnal ilmiah pada bagian Introduction (Pendahuluan) masuk ke bab pertama, kemudian diturunkan menjadi 2 subbab. Sementara bagian lainnya dikembangkan ke bab berikutnya dan diturunkan menjadi beberapa subbab sesuai kebutuhan. Kerangka membantu restrukturisasi lebih mudah dan terstruktur.
Tips menulis buku referensi dari hasil penelitian selanjutnya adalah menyusun jadwal menulis. Pasalnya, kesibukan akademik tinggi bisa membuat naskah hasil konversi terbengkalai. Mengantisipasi kondisi ini, dosen bisa menyusun jadwal kegiatan harian dan memasukan jadwal menulis di dalamnya. Meski hanya 30 menit sehari.
Referensi ilmiah dalam konversi KTI jadi buku kadang perlu dikembangkan. Sebab referensi saat menyusun KTI nonbuku bisa jadi masih kurang. Dalam hal ini, pastikan dosen memilih referensi yang benar-benar tepat. Standarnya adalah referensi tersebut memenuhi 3 kriteria mendasar. Yakni relevan, mutakhir, dan kredibel.
Naskah hasil konversi KTI jadi buku referensi tentunya tidak langsung sempurna. Oleh sebab itu, perlu melakukan editing dan penyuntingan mandiri. Dosen perlu menyiapkan waktu untuk membaca ulang naskah, menganalisis ada tidaknya kesalahan, dan mengoreksi kesalahan tersebut.
Selain itu, naskah juga bisa dirapikan dan memastikan konsisten dalam pengaturan format (ukuran font, margin, dll) dan gaya sitasi. Editing dan penyuntingan mandiri akan meningkatkan kualitas buku referensi, sehingga kelayakannya untuk terbit lebih tinggi (mudah diterima penerbit).
Tips berikutnya, dosen wajib melakukan cek plagiarisme. Bisa menggunakan Turnitin untuk mengecek similarity indeks (uji kemiripan). Pastikan skornya rendah agar indikasi plagiarisme juga lebih rendah. Bisa juga menggunakan aplikasi cek plagiarisme lain. Tujuannya agar bebas indikasi plagiat dari awal.
Tips terakhir, dosen wajib teliti dalam memilih penerbit buku referensi hasil konversi KTI. Pastikan penerbit tersebut resmi, merupakan anggota IKAPI, paham standar Ditjen Dikti, dan tentunya layanannya profesional. Setelah menemukan penerbit yang cocok, silahkan submit naskah sesuai prosedur yang ditetapkan penerbit tersebut.
Menulis buku referensi melalui proses konversi laporan penelitian jadi buku, memang tidak selalu mudah. Dalam proses ini, dosen harus memiliki keterampilan menulis yang mumpuni. Sekaligus paham betul bagaimana konversi yang baik dan benar agar menghasilkan buku referensi berkualitas serta layak terbit.
Bagi dosen yang mengalami kendala dalam mengkonversi laporan penelitian sendiri. Maka tidak perlu khawatir, sebab bisa menggunakan jasa konversi KTI profesional yang disediakan sejumlah pihak. Salah satunya layanan Parafrase Konversi Penerbit Deepublish.
Jadi, konversi akan dikerjakan tim profesional dan dosen bisa fokus menjalankan tri dharma. Langkah ini bisa dipertimbangkan sebagai bagian tips menulis buku referensi dari hasil penelitian secara lebih efektif dan efisien.
Buku referensi adalah karya tulis ilmiah berbentuk buku yang membahas satu bidang keilmuan secara luas, mencakup beberapa topik di dalamnya. Ini yang membedakannya dari buku monograf yang hanya fokus pada satu topik tertentu.
Ada beberapa alasan penting, antara lain sebagai bukti kinerja akademik dalam tugas penelitian, membantu memenuhi BKD dengan bobot hingga 10 SKS per judul, mendapatkan tambahan angka kredit sebesar 40 poin per judul, mendukung kenaikan jabatan fungsional dan pangkat, serta menjadi sumber royalti tambahan bagi dosen.
Ada 4 syarat utama yang harus dipenuhi dosen, yaitu topik harus sesuai bidang kepakaran dosen, dosen sudah memiliki peta keilmuan yang baik, isi buku memuat studi kasus atau contoh aplikasi nyata, serta naskah dilengkapi dengan ilustrasi seperti gambar, grafik, tabel, atau diagram.
Pastikan penelitian sudah selesai dijalankan dan sudah ada luarannya, baik berupa laporan penelitian maupun artikel jurnal ilmiah. Jika penelitian masih berjalan, naskah buku belum bisa disusun karena data yang dipaparkan harus mengacu pada data penelitian tersebut.
Tidak harus. Dosen sangat dianjurkan melakukan konversi dari luaran penelitian yang sudah ada, seperti laporan penelitian, artikel jurnal, atau artikel prosiding. Cara ini jauh lebih efisien karena tidak perlu memulai dari awal.
Referensi:
Kurikulum yang diterapkan di pendidikan tinggi Indonesia saat ini adalah kurikulum OBE. Kurikulum ini menggantikan…
Kegiatan pembelajaran OBE atau kurikulum OBE, tentunya memiliki karakteristik lebih khas. Sebab, pendekatan dalam OBE…
Dalam menjalankan tri dharma, para dosen di Indonesia tentunya rutin mengurus publikasi ilmiah. Baik publikasi…
Penerbit Deepublish kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung publikasi ilmiah para dosen di Indonesia. Yakni melalui…
Menggunakan jasa percetakan modul pembelajaran, tentunya bisa dipertimbangkan oleh para dosen. Sebab sekalipun tidak wajib,…
Kolaborasi perguruan tinggi dengan berbagai pihak eksternal (dunia industri, pemerintah, dan masyarakat) merupakan hal penting.…