Dalam dunia pendidikan, metode pembelajaran terus dikembangkan dan salah satunya ada micro teaching. Bagi beberapa orang, termasuk juga tenaga pengajar baru istilah satu ini masih terdengar asing. 

Lumrah memang, karena seperti yang sudah disampaikan bahwa metode pembelajaran terus berkembang. Tidak sampai satu dekade, metode pembelajaran baru mulai dikenal luas dan diterapkan oleh sebagian besar tenaga pengajar di Indonesia. 

Mencoba metode pembelajaran baru tentu penting dan bisa dikatakan sebagai kewajiban tenaga pengajar. Sebab metode baru memberi suasana baru dan memberi kemudahan untuk menyajikan materi pelajaran dengan cara lebih praktis dan mudah dipahami. 

Jadi, sebagai tenaga pengajar maupun calon tenaga pengajar tentunya wajib memahami metode pembelajaran. Tidak harus semua, minimal metode pembelajaran populer dan dikenal efektif. Salah satunya adalah micro teaching tadi. Jika masih asing dengan metode ini bisa menyimak ringkasan informasinya disini. 

Pengertian Micro Teaching

Metode pembelajaran micro teaching diketahui pertama kali diterapkan di Stanford University, USA di tahun 1963. Metode pembelajaran ini bisa disimpulkan bukan sebagai metode pembelajaran baru. Hanya saja terus dikembangkan agar relevan dengan masa sekarang. 

Sebab teknologi terus berkembang dan kegiatan mengajar perlu memasukan teknologi tersebut untuk membuat peserta didik akrab dengan teknologi. Metode micro teaching kemudian semakin menyebar secara luas, dan tentunya mulai diterapkan di pendidikan Indonesia. 

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan metode pembelajaran tersebut? Metode pembelajaran ini kemudian dicoba dijelaskan definisinya oleh sejumlah ahli. Berikut beberapa diantaranya: 

1. Barnawi dan Arifin 

Ahli pertama yang menjelaskan definisi micro teaching adalah Barnawi dan Arifin. Keduanya menjelaskan bahwa micro teaching adalah metode yang digunakan di lingkungan pendidikan guru dan lingkungan belajar mengajar lainnya. 

Dalam sebuah kelompok tenaga pengajar, masing-masing kemudian dilatih keterampilan mengajar yang sifatnya mendasar. Sehingga bisa memahami teknik-teknik dalam menyampaikan materi kepada peserta didik. 

Sekaligus belajar menemukan dan menganalisis masalah selama kegiatan mengajar dilakukan. Kemudian berusaha mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut agar pembelajaran berjalan dengan lancar. 

2. Sukirman 

Pendapat kedua disampaikan oleh Sukirman yang juga merupakan ahli dalam kegiatan mengajar di dunia pendidikan. Menurut Sukirman, micro teaching adalah sebuah pembelajaran dengan salah satu pendekatan atau cara untuk melatih penampilan mengajar yang dilakukan secara mikro atau disederhanakan.

Penyederhanaan dalam kegiatan mengajar ini mencakup beberapa aspek. Mulai dari waktu mengajar, jumlah siswa yang diajar, materi yang diajarkan, keterampilan yang dilatih di kelas, dan lain sebagainya. 

Penyederhanaan yang dilakukan akan membuat tenaga pengajar lebih fokus dan mengatur pembelajaran dengan lebih baik. Selain itu, dengan jumlah siswa yang lebih terbatas. Maka tenaga pengajar bisa lebih fokus memperhatikan seluruh siswa di kelas. Bukan lagi siswa yang paling menonjol saja. 

3. Helmiati 

Pendapat selanjutnya disampaikan oleh Helmiati, yang mendefinisikan micro teaching sebagai penguasaan keterampilan dasar mengajar, guru perlu berlatih secara parsial artinya tiap-tiap komponen keterampilan dasar mengajar perlu dikuasai secara terpisah-pisah. 

Latihan secara parsial yang dilakukan oleh guru adalah dengan memperkecil kegiatan mengajar. Sama seperti menyederhanakan unsur-unsur dalam kegiatan mengajar yang dijelaskan oleh Sukirman. 

Jadi disini setiap guru atau tenaga pengajar kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Misalnya satu kelas ada 20 siswa, maka dibagi menjadi 3 sesi dimana satu sesi berisi sekitar 7 siswa. 

Pembagian parsial ini diharapkan bisa meningkatkan fokus dan konsentrasi, baik dari sisi siswa maupun guru. Sehingga bisa meningkatkan efektivitas kegiatan belajar di kelas maupun di luar kelas di masing-masing kelompok belajar. 

4. Asril 

Berikutnya ada definisi yang dijelaskan oleh Asril, dimana micro teaching adalah sebuah model pengajaran yang dikecilkan atau disebut juga dengan real teaching. Arti kata dikecilkan disini adalah memangkas beberapa unsur pembelajaran. 

Pertama dari jumlah siswa, dimana per kelas hanya diisi antara 5-10 siswa saja dengan 1 guru di dalamnya. Kedua, waktu pembelajaran yang dipangkas hanya antara 10 sampai 15 menit saja. 

Jumlah siswa dan waktu belajar yang dibuat pendek otomatis akan memangkas materi yang disajikan di dalamnya. Yakni menjadi terbatas juga, sehingga bisa dijelaskan dengan detail dan siswa bisa memahaminya dengan lebih baik. 

5. Hasibuan, Ibrahim, dan Toemial 

Terakhir adalah definisi yang dijelaskan oleh tiga orang ahli yakni Hasibuan, Ibrahim, dan juga Toeminal. Ketiganya berpendapat, micro teaching sebagai metode latihan penampilan dasar mengajar yang dirancang secara jelas mengisolasi bagian-bagian komponen dan proses mengajar.

Sehingga dengan langkah ini para guru atau calon guru dapat menguasai satu persatu keterampilan dasar mengajar dalam situasi yang disederhanakan. Sekaligus bisa membiasakan diri untuk memperhatikan siswa di kelas. 

Sebab jumlah siswa sendiri juga dibuat lebih sedikit dibanding kelas dengan metode mengajar jenis lainnya. 

Melalui pendapat yang disampaikan para ahli tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa micro teaching awalnya adalah kegiatan pelatihan bagi guru dan calon guru dalam mengajar dengan kondisi pembelajaran yang disederhanakan. 

Baik menyederhanakan jumlah siswa di kelas, waktu pembelajaran, materi yang disampaikan, dan unsur lainnya. Sehingga para guru ini punya keterampilan dasar mengajar yang mumpuni dan terlatih dengan sangat baik. 

Meskipun awalnya merupakan bentuk pelatihan keterampilan bagi guru, namun konsep atau metode pembelajaran ini bisa diterapkan jangka panjang. Biasanya sekolah swasta menerapkannya untuk tujuan menjaga kualitas pendidikan setiap alumninya. 

Saat ini, di tengah kondisi pandemi dimana kegiatan pembelajaran tatap muka dibatasi dan diatur jumlah siswa di kelas dan jarak tempat duduknya. Maka sudah bisa masuk ke dalam penerapan micro teaching

Baca Juga:

Pengertian, Kendala, Manfaat, dan Strategi Pembelajaran Daring

Pengertian, Ciri, dan Jenis Model Pembelajaran yang Perlu Diketahui

Pengertian, Ciri, dan Jenis Model Pembelajaran yang Perlu Diketahui

Sejarah Micro Teaching

Sebagai metode pembelajaran yang menarik untuk diterapkan, micro teaching memiliki sejarah panjang. Pada bagian awal disampaikan bahwa metode pembelajaran ini digagas dan diterapkan pertama kali oleh Stanford University di tahun 1963. 

Artinya, cikal bakal dari metode ini sudah diciptakan sebelum tahun tersebut. Dilansir dari berbagai sumber, Stanford University mulai mengembangkan metode pembelajaran baru di tahun 1960-an. 

Metode pembelajaran ini mulai dikembangkan setelah masuknya paham behaviorisme (aliran perilaku) dalam kegiatan pembelajaran. Behaviorisme sendiri adalah proses pembelajaran yang melibatkan dan dipengaruhi oleh perilaku semua pesertanya. 

Baik perilaku tenaga pengajar maupun perilaku dari peserta pembelajaran. Diperlukan proses pembelajaran yang menciptakan umpan balik untuk saling membangun perilaku positif selama belajar. 

Maka micro teaching mulai dikembangkan dan oleh Dwight Allen di tahun 1961 mulai menerapkannya secara langsung di Stanford University. Pada masa tersebut metode pembelajaran ini disebut dengan istilah Pendekatan Stanford. 

Di tahun yang sama, Allen dan teman-temannya mencoba menerapkan metode ini di perguruan tinggi lain. Dipilihlah University of California, dan mendapatkan sambutan baik sekaligus hasil pembelajaran yang lebih memuaskan. 

Berawal dari sinilah metode Pendekatan Stanford mulai dikenal luas dan diterapkan di sejumlah perguruan tinggi sampai sekolah-sekolah. Masuk di tahun 1963, Stanford University dengan dukungan Ford Foundation memperkenalkannya secara luas. 

Sekaligus menyempurnakannya menjadi metode pembelajaran yang disederhanakan, dari jumlah siswa sampai waktu pembelajaran. Pada masa tersebut, metode ini diperkenalkan kepada publik dengan nama Program Pendidikan Eksperimental. 

Memasuki awal tahun 1970-an, metode ini mulai diterapkan nyaris di seluruh perguruan tinggi di Amerika. Kemudian meluas sampai ke Eropa, dan semakin meluas lagi sampai ke Asia. Hal ini yang membuat micro teaching masuk di Indonesia dan mulai diterapkan. 

Tujuan Micro Teaching

Kegiatan micro teaching kemudian menarik dan bisa dikatakan tepat untuk dijalankan, baik sebagai bentuk latihan lapangan langsung bagi guru dan calon guru. Maupun untuk diterapkan di sekolah dalam jangka panjang. 

Metode pembelajaran ini dikatakan menarik sekaligus tepat untuk diterapkan karena memang manfaatnya besar. Selain itu tujuannya sendiri juga beragam, diantaranya adalah: 

1. Membantu Guru Menguasai Keterampilan Khusus 

Guru membutuhkan banyak sekali keterampilan untuk menjalankan tugas-tugasnya dengan baik, khususnya sebagai pengajar. Tujuan pertama dari micro teaching akan membantu para guru menguasai berbagai keterampilan khusus untuk mendukung tugas mereka. 

2. Meningkatkan Taraf Kompetensi Mengajar 

Dalam mengajar seorang guru membutuhkan penguasaan terhadap sejumlah kompetensi, misalnya kompetensi pedagogik. Pelatihan micro teaching bisa membantu guru untuk meningkatkan mutu kompetensi yang sudah dikuasai secara mendasar tersebut. 

3. Mendalami Service Training 

Tujuan berikutnya adalah mendorong para guru untuk bisa mendalami service training. Yakni meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan kepada para siswa di kelas maupun di luar kelas. 

4. Meningkatkan Penampilan dalam Mengajar 

Tujuan selanjutnya adalah membantu para guru untuk bisa meningkatkan penampilan mereka dalam mengajar. Penampilan disini adalah kemampuan mereka untuk mengajar dengan baik di kelas dan di luar kelas sesuai kebutuhan. Sehingga para guru pasca mempelajari micro teaching bisa tampil lebih profesional. 

5. Menjadi Penunjang untuk Meningkatkan Keterampilan Mengajar 

Kebanyakan sekolah akan mengadakan training kepada guru untuk bisa menjalankan micro teaching. Training atau pelatihan ini kemudian bisa menjadi penunjang bagi para guru untuk meningkatkan keterampilan mengajar. 

Sebab bagaimanapun juga para guru adalah fasilitator dalam menciptakan kegiatan pembelajaran. Maka keterampilan dan kompetensi mereka tentu perlu terus dikembangkan. Training ini menjadi salah satu upaya untuk mencapainya. 

Aspek Micro Teaching

Metode pembelajaran micro teaching diketahui memiliki sejumlah aspek khusus dan khas. Dimana aspek-aspek ini diharapkan memaksimalkan peningkatan keterampilan khusus guru dalam mengajar. Aspek tersebut antara lain: 

1. Keterampilan Membuka dan Menutup Pembelajaran 

Aspek pertama adalah mengasah keterampilan membuka dan menutup pembelajaran. Dibutuhkan keterampilan yang baik agar kelas bisa dibuka dan ditutup, terutama pembukaan agar bisa meningkatkan minat para siswa di kelas sejak awal. 

2. Keterampilan Membuat Variasi Pembelajaran 

Aspek kedua adalah punya keterampilan untuk membuat pembelajaran lebih bervariasi. Hal ini tentu penting karena jika belajar di kelas hanya memakai satu jenis kegiatan saja maka akan muncul kejenuhan. Tingkat efektivitasnya tentu akan terus menurun, maka perlu dibuat lebih bervariasi. 

3. Keterampilan Menjelaskan 

Seorang guru tidak cukup hanya menjelaskan ulang isi buku ajar, akan tetapi mampu menjabarkan lebih luas lagi isi dari buku ajar tersebut. Kemudian dalam menjelaskan harus bisa menyesuaikan dengan karakter siswa. Sehingga menjelaskan materi butuh keterampilan khusus yang bisa dipelajari dalam penerapan micro teaching

4. Keterampilan Bertanya 

Aspek keempat adalah keterampilan bertanya, yang ditujukan kepada peserta didik. Sehingga lewat metode ini diharapkan para peserta didik lebih aktif di kelas dengan berani bertanya atas materi yang dijelaskan guru. 

5. Keterampilan Memberi Penguatan 

Berikutnya adalah keterampilan memberi penguatan, yakni sebuah keterampilan yang membantu guru mampu mendorong siswanya untuk meningkatkan kualitas tingkah laku yang dimiliki. Baik selama di kelas maupun di luar kelas. 

6. Keterampilan Mengelola Kelas

Keterampilan berikutnya dalam aspek micro teaching adalah keterampilan mengelola kelas. Mencakup keterampilan kuratif dan juga keterampilan bersifat preventif. Sehingga mendorong setiap guru untuk bisa menciptakan suasana kelas yang baik dan juga mendapatkan perhatian seluruh siswa di kelas. 

7. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan

Berikutnya adalah keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan, sebab dalam metode ini ada kalanya guru mengajar satu siswa saja. Ada kalanya juga mengajar 3-10 siswa sesuai pengaturan pihak sekolah. Sehingga memberikan latihan bagi guru untuk mengajar perorangan dan kelompok kecil. 

8. Keterampilan Membimbing Kelompok Diskusi 

Kelas lebih hidup dengan metode diskusi, maka dalam micro teaching, guru juga dibekali keterampilan untuk membimbing kelompok diskusi. Sehingga siswa membentuk kelompok dan mendiskusikan materi kelas dengan baik. 

Baca Juga:

10 Metode Pembelajaran Kurikulum 2013

Cara Praktis Membuat Modul Pembelajaran

Pengertian Modul Pembelajaran: Ciri-Ciri, Kelebihan, dan Kekurangan

Tahapan Micro Teaching

Dalam menerapkan metode pembelajaran micro teaching juga diketahui ada beberapa tahapan perlu dilalui. Berikut tahapan-tahapan yang dimaksudkan: 

1. Tahap I – Kognitif 

Tahap yang pertama disebut dengan istilah kognitif, yaitu tahap perkenalan micro teaching kepada guru dan calon guru (misalnya mahasiswa pendidikan). Perkenalan ini menjelaskan apa itu micro teaching

Kemudian memahami materi pembelajaran yang akan disampaikan di sebuah pertemuan (kegiatan pembelajaran). Disusul dengan proses mencari alat bantu, bisa dalam bentuk video pendidikan, gambar dan ilustrasi, buku ajar, dan lain-lain. 

2. Tahap II – Pelaksanaan 

Tahap yang kedua adalah pelaksanaan, jadi tahap kognitif bisa disebut sebagai tahap persiapan. Kemudian disusul oleh tahap pelaksanaan, yakni mempraktekan semua pemahaman dasar di tahap kognitif. 

Segala bentuk keterampilan yang sudah dipelajari secara teori di tahap pertama kemudian diterapkan secara langsung di tahap kedua ini. Sehingga bisa mengetahui apa saja yang harus dilakukan untuk menerapkannya di hadapan siswa. 

3. Tahap III – Balikan 

Tahap yang terakhir adalah tahap balikan dan merupakan tahap ketiga pasca pelaksanaan. Yakni proses evaluasi dan penilaian terhadap penerapan dari micro teaching yang dilakukan di tahap kedua tadi. Penilaian biasanya dilakukan oleh rekan sejawat (rekan sesama guru). 

Penerapan Micro Teaching

Pembahasan berikutnya adalah melakukan penerapan terhadap teori micro teaching yang sudah dipelajari di awal. Penerapannya sendiri akan mengikuti tiga tahapan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Berikut detailnya: 

  1. Menyusun rencana kegiatan pembelajaran, sehingga dalam satu semester ada berapa pertemuan dan diatur jadwal serta durasi kelasnya. 
  2. Mengatur jumlah siswa di dalam kelas, dimana micro teaching antara 1-10 siswa saja. 
  3. Mencari dan menyiapkan alat bantu untuk kegiatan mengajar. 
  4. Menyiapkan materi pembelajaran misal dengan referensi buku ajar. 
  5. Menyampaikan materi secara komunikatif, gunakan gaya bahasa yang mudah dipahami siswa di kelas. 
  6. Mengelola kelas dengan baik. 
  7. Memberikan latihan soal. 
  8. Menilai dan melakukan evaluasi hasil pembelajaran di akhir pertemuan. 

Pada dasarnya penerapan micro teaching tidak jauh berbeda dengan metode pembelajaran lain. Hanya saja dibuat lebih sederhana dengan melakukan penyederhanaan unsur-unsur pembelajaran. Seperti jumlah siswa, materi, waktu pembelajaran, dan lain-lain. Hasilnya, para guru bisa fokus pada satu materi di kelas dengan sedikit siswa. 

Artikel Terkait:

Kompetensi Pedagogik: Pengertian dan Pentingnya Bagi Guru

Apa Itu PPPK? Simak Syarat-Syaratnya!

16 Aplikasi Pembelajaran Onine Gratis

7 Macama Metode Pembelajaran yang Kerap Digunakan

Pembelajaran Luring: Kelebihan dan Kekurangan Serta Masalah yang Kerap Dihadapi

Hybrid Learning: Jenis-Jenis dan Penerapannya dalam Pembelajaran