Populasi dan sampel. Istilah populasi dan sampel tentu akrab di telinga saat menjalankan kegiatan penelitian. Bagi mahasiswa yang dosen yang sering berhadapan dengan kegiatan penelitian, maka bisa membedakan keduanya. Sekaligus menentukan mana yang populasi dan mana yang sampel dengan sangat mudah. 

Sebagai istilah yang lebih familiar di dunia akademik, dalam hal kegiatan penelitian. Sudah tentu tidak semua orang memahami betul pengertian keduanya, apalagi sampai menentukan jenis-jenis atau anggota dari kedua istilah tersebut. Mengenal dua istilah ini secara mendalam, maka berikut informasinya. 

Pengertian Populasi Menurut Para Ahli

Saat mendengar istilah populasi maupun sampel dijamin hal pertanyan yang akan ditanyakan adalah mengenai pengertiannya. Secara sederhana, pengertian dari populasi dan sampel menjadi dua hal yang saling berhubungan satu sama lain. Hubungan keduanya kemudian sering membuat orang salah mengartikan keduanya. 

Populasi merupakan jumlah keseluruhan dari objek penelitian. Bisa juga didefinisikan sebagai jumlah keseluruhan dari satuan-satuan atau individu-individu yang karakteristiknya hendak diteliti. Satuan di dalam istilah ini mengacu kepada unit analisis. Bisa dalam bentuk orang-orang, benda-benda, lembaga-lembaga, institusi-institusi, dan lain sebagainya.  

Supaya lebih mudah dalam memahami definisi dari populasi dalam kegiatan penelitian. Berikut adalah sejumlah pandangan ahli: 

1. Netra 

Pendapat yang pertama datang dari Netra yang menjelaskan bahwa populasi adalah keseluruhan individu yang bersifat general atau umum yang mempunyai karakteristik yang cenderung sama. Sehingga saat menjumpai individu dengan sifat umum atau sama satu sama lain, maka bisa dijadikan populasi dalam sebuah penelitian. 

2. Sugiyono 

Pendapat kedua disampaikan oleh Sugiyono. Dijelaskan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Sehingga dalam melakukan penelitian, seorang peneliti perlu menentukan karakteristik dari objek penelitian. Baru kemudian mencari populasi atau objek penelitian yang secara keseluruhan memenuhi kriteria tersebut. 

3. Hadari Nawawi 

Selanjutnya adalah pendapat yang disampaikan oleh Hadari Nawawi. Dijelaskan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri atas manusia, hewan, benda-benda, tumbuh, peristiwa, gejala, ataupun nilai tes sebagai sumber data yang mempunyai karakteristik tertentu dalam suatu penelitian yang dilakukan.

4. Bugin 

Bugin juga menyampaikan pendapatnya terkait pengertian populasi. Menurutnya, populasi adalah keseluruhan (universum) dari objek penelitian berupa manusia, hewan, tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya sehingga objek ini dapat menjadi sumber data penelitian.

5. Nursalam 

Berikutnya adalah pendapat yang disampaikan oleh Nursalam. Disampaikan bahwa populasi adalah keseluruhan dari variabel yang menyangkut masalah yang diteliti. Sehingga selama suatu variabel masih memiliki hubungan dengan topik yang diteliti maka termasuk ke dalam populasi penelitian. 

Pengertian Sampel Menurut Para Ahli

Jika pengertian populasi sudah dijelaskan di atas, lalu apa pengertian dari sampel? Sampel secara sederhana bisa diartikan sebagai sebagian kecil dari objek penelitian yang dipilih oleh peneliti. Sehingga dari keseluruhan objek penelitian yang disebut dengan istilah “populasi” kemudian diambil beberapa saja, objek yang diambil ini disebut “sampel”. 

Sama seperti populasi, pengertian dari sampel juga dikemukakan oleh sejumlah ahli. Berikut beberapa diantaranya: 

1. Sugiyono 

Oleh Sugiyono, sampel diartikan atau didefinisikan sebagai bagian dari keseluruhan serta karakteristik yang dimiliki oleh sebuah Populasi. Dijelaskan pula pengambilan sampel dilakukan peneliti karena beberapa kondisi. Pertama, karena jumlah suatu objek penelitian sangat besar dan peneliti tidak mungkin meneliti objek satu per satu secara keseluruhan. 

Kedua, bertujuan untuk mempelajari objek penelitian dalam skala kecil yang kemudian diberlakukan kepada keseluruhan objek penelitian. Sehingga bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin karena tidak perlu meneliti objek yang jumlahnya terlalu banyak dan karakternya terlalu beragam. 

2. Arikunto 

Sedangkan menurut pendapat Arikunto, sampel adalah sebagian atau sebagai wakil populasi yang akan diteliti. Jika penelitian yang dilakukan sebagian dari populasi maka bisa dikatakan bahwa penelitian tersebut adalah penelitian sampel. Sebab peneliti dijamin akan mengambil beberapa populasi saja untuk diteliti secara mendalam. 

3. Nana Sudjana 

Terakhir adalah pendapat dari Nana Sudjana yang menjelaskan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang dapat dijangkau serta memiliki sifat yang sama dengan populasi yang diambil sampelnya tersebut. 

Sehingga peneliti dalam mengambil sampel mengutamakan bagian dari populasi yang masih bisa dijangkau atau yang sangat mungkin lebih mudah untuk dijangkau. Misalnya saja perlu melakukan wawancara terhadap populasi, maka peneliti bisa memilih objek yang bisa diwawancara karena tidak terlalu sibuk dengan aktivitas lain. 

Baca Juga:

Jenis-Jenis Angket Penelitian

Selengkapnya tentang Instrumen Penelitian

Desain-Desain Penelitian 

Perbedaan Antara Populasi dan Sampel 

Selain membahas tentang pengertian masing-masing, saat mempelajari populasi dan sampel perlu juga mengetahui perbedaan antara keduanya. Mengingat antara populasi maupuns ampel ini memang saling berhubungan dan bahkan membahas objek yang sama. Yakni merupakan satu kesatuan dari objek penelitian, maka banyak yang memberi definisi sama. 

Padahal keduanya berbeda, dan bisa dilihat dari definisi yang sudah dijelaskan sebelumnya. Jadi, populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian sedangkan sampel adalah sebagian kecil atau separuh dari objek penelitian tersebut. Secara jumlah, maka bisa dipastikan jumlah populasi jauh lebih banyak dibandingkan dengan sampel. 

Misalnya saja, peneliti perlu melakukan survei di desa A tentang tingkat kepuasan terhadap layanan perusahaan X. Berhubung jumlah masyarakat di desa tersebut mencapai 500 orang (jumlah populasi). Maka peneliti mencoba melakukan efisiensi waktu dan tenaga dengan mengambil sampel sebanyak 10 orang atau lebih dan bisa juga kurang. 

Angka 500 dari contoh ini adalah populasi, sedangkan angka 10 adalah sampel. Lalu, bagaimana peneliti bisa mengambil kesimpulan? Saat mengumpulkan data dari sampel maka hasilnya mewakili keseluruhan populasi tersebut. Supaya akurat, kebanyakan peneliti mengambil sampel acak dengan menggunakan rumus 10:100.000. 

Pentingnya Menggunakan Sampel 

Kegiatan penelitian pada dasarnya tidak selalu membutuhkan sampel, sebab peneliti bisa melakukan survei dan mendapatkan data dari keseluruhan objek penelitian (populasi). Hanya saja ada beberapa kondisi yang membuat penelitian perlu mengambil sampel dari keseluruhan populasi tadi. Kondisi tersebut antara lain: 

1. Ukuran Populasi Terlalu Besar 

Kondisi yang pertama adalah karena ukuran dari populasi yang terlalu besar. Misalnya dari jumlah masyarakat di sebuah desa yang dijadikan objek penelitian. Jika jumlahnya sampai ratusan bahkan ribuan, maka tidak mungkin peneliti melakukan penelitian ke ribuan penduduk tersebut. 

Sampel kemudian diambil dan nantinya akan mewakili keseluruhan populasi. Data yang didapatkan tetap akurat, karena memang penentuan objek penelitian sejak awal disesuaikan dengan kebutuhan peneliti. Sehingga data tidak harus didpatkan dari keseluruhan populasi, melainkan sebagian kecilnya saja. 

2. Efisiensi dari Segi Biaya 

Dalam kondisi aktual di lapangan, menggunakan populasi dan sampel tentu lebih efisien sampel dari segi biaya. Sampel membuat kegiatan penelitian hanya membutuhkan dana lebih sedikit. Sehingga peneliti bisa mengalokasikan dana yang tersedia kepada kebutuhan lain. 

Jika memaksakan diri meneliti keseluruhan populasi maka biaya yang dikeluarkan bisa sangat tinggi. Oleh sebab itu, pengambilan sampel dari populasi menjadi langkah terbaik agar biaya penelitian tersebut lebih mudah untuk dikontrol. Bisa juga bertujuan untuk membuat biaya sesuai dengan anggaran yang tersedia. 

3. Efisiensi dari Segi Waktu 

Menggunakan populasi dan sampel pada sebuah penelitian, akan jauh lebih hemat waktu jika menggunakan sampel saja. Sebab peneliti hanya perlu melakukan pemeriksaan dan pengumpulan data dari jumlah objek penelitian yang terbatas. Sehingga proses penyajian data menjadi lebih cepat dan juga dijamin tepat. 

4. Sumber Daya Menjadi Lebih Efisien 

Jika suatu penelitian memberdayakan SDM (Sumber Daya Manusia) dalam jumlah yang minim. Maka sudah sangat ideal jika penelitian meneliti sampel saja bukan populasi. Sehingga pengaturan SDM menjadi lebih mudah, karena meneliti sampel membutuhkan jumlah SDM lebih sedikit dibanding meneliti populasi. 

5. Penelitian Tidak Mungkin Menggunakan Populasi 

Tidak semua penelitian membutuhkan populasi, sehingga sampel menjadi pilihan yang diambil dalam kondisi tersebut. Populasi ini bisa dalam bentuk sesuatu atau objek penelitian yang tidak mungkin diambil keseluruhan untuk diteliti. Misalnya saja penelitian mengenai warna darah pada tubuh manusia. 

Sangat tidak mungkin peneliti mengambil semua darah dari objek penelitian (seseorang) untuk diteliti. Sebab jika darah diambil sama artinya menghilangkan nyawa dari objek penelitian tersebut. Maka peneliti mengambil sampel, yakni dengan mengambil beberapa tetes atau beberapa mili dari darah objek penelitian. 

Populasi dan Sampel dalam Penelitian Kuantitatif Maupun Kualitatif 

Penelitian kualitatif dan kuantitatif juga akan akrab dengan penggunaan populasi dan sampel. Kebanyakan peneliti yang berhadapan dengan kondisi-kondisi di atas memilih melakukan pengujian kepada sampel, bukan kepada populasi. Penelitian kuantitatif akan menghasilkan data berbentuk angka. 

Angka ini diambil dari populasi dan bisa juga diambil dari sampel. Jika objek penelitian adalah siswa X di SMA Y, maka sangat mungkin peneliti mengambil data dari populasi. Sebab jumlah siswa di satu kelas biasanya antara 30 sampai 40-an anak. Lain halnya jika objek penelitian adalah keseluruhan siswa di SMA Y tersebut. 

Bisa jadi, jumlah siswa mencapai ribuan dan sangat tidak efisien jika meneliti populasi. Maka dilakukan penelitian kuantitatif dari sampel siswa di SMA Y tersebut. Begitu juga sebaliknya, pada penelitian kualitatif yang datanya berupa data bukan angka. Maka peneliti perlu melakukan survei, wawancara, memberikan kuesioner, dan lain-lain untuk mendapat data. 

Melakukan wawancara ke populasi bisa memakan waktu lama dan menelan biaya tidak sedikit, belum lagi dengan tenaga dosen yang bisa jadi terkuras untuk keperluan tersebut. Maka diambil sampel, misalnya saja wawancara di perusahaan X yang jumlah karyawannya mencapai 5.000 orang. Maka peneliti bisa melakukan wawancara kepada 50 orang saja. 

Dalam pengambilan sampel pada penelitian kuantitatif maupun kualitatif, wajib memenuhi sejumlah syarat berikut ini: 

  • Mewakili populasi, syarat pertama adalah sampel tersebut mampu mewakili populasi yang diteliti. Yakni sama-sama memenuhi karakter penelitian yang sudah ditentukan oleh peneliti. Misalnya saja harus bersekolah di SMA Y karena akan meneliti SMA tersebut. 

Maka bisa diambil dari kelas manapun asalkan bersekolah di SMA Y. Kesesuaian ini penting agar data yang didapatkan dari sampel memang mewakili data dari keseluruhan populasi penelitian. 

Siswa yang bersekolah di sekolah yang sama meskipun beda kelas bisa mengetahui kondisi lingkungan, kebijakan sekolah, dan lain-lain. Sehingga data yang didapat dari sampel maupun dari keseluruhan siswa dijamin sama. Maka data dari sampel ini mampu mewakili keseluruhan populasi. 

  • Mudah dilaksanakan, syarat berikutnya adalah mudah untuk dilaksanakan dimana data bisa diambil sewaktu-waktu dan semua pihak yang terlibat bisa menyamakan waktu tersebut. Sehingga pengambilan data penelitian dijamin lancar dan sesuai dengan kebutuhan peneliti. 
  • Harus tepat dan presisi, dimana sampel harus dapat menentukan presisi, ketepatan, dan kesalahan baku yang ditentukan dan diperoleh dari populasi penelitian. Secara sederhana sampel ini harus memiliki lebih banyak kemiripan dan mewakili keseluruhan populasi, sehingga data yang didapatkan akurat. 
  • Memberi keterangan, sampel yang dipilih peneliti harus bisa memberi keterangan dalam artian memberi data penelitian. Selain itu sampel yang dipilih secara acak ini juga harus mampu menekan biaya seminimal mungkin. Sebab salah satu tujuan dilakukan pengambilan sampel adalah untuk efisiensi waktu, tenaga, dan juga biaya. 

Contoh Populasi dan Sampel 

Berikut adalah beberapa contoh populasi dan sampel baik terhadap penelitian kualitatif maupun kuantitatif: 

1. Contoh 1 

Penelitian dilakukan terhadap siswa SD kelas III di Kabupaten Pati. Jumlah Sekolah Dasar di Kabupaten Pati ada 10, Lokasi yang berjauhan antara satu SD dengan SD yang lain membuat peneliti hanya meneliti sampel yang diambil dari 3 SD di Kabupaten Pati tersebut. 

2. Contoh 2 

Penelitian tentang kualitas beras di desa Pringapus, Yogyakarta. Jumlah beras di satu desa ini tentu sangat banyak. Bisa dari jumlah dalam bentuk kilogram sampai dari segi jenis beras yang tersedia. 

Saking banyaknya jenis beras yang akan diteliti, maka peneliti mengambil sampel dari beberapa jenis beras yang paling mudah didapatkan. Hasil penelitian terhadap sampel beras ini kemudian dianggap mewakili hasil penelitian semua beras di desa Pringapus. 

3. Contoh 3 

Penelitian dilakukan di PGRI Semarang untuk mengetahui jumlah mahasiswa yang masuk ke jurusan PGSD. Diketahui jumlah mahasiswa di PGSD Ini sangat banyak sampai ribuan. Maka peneliti kemudian mengambil sampel, beberapa mahasiswa saja. Katakanlah hanya melakukan penelitian terhadap 25 atau 50 mahasiswa PGSD. 

4. Contoh 4 

Penelitian dilakukan untuk mengetahui jumlah kambing dan sapi qurban di kota Semarang. Jumlahnya tentu sangat banyak, apalagi di kota Semarang sendiri ada beberapa peternak kambing maupun sapi. Meneliti semuanya tentu akan sulit dan sekalipun bisa akan memakan waktu yang lama dan biaya tidak sedikit. 

Maka diambil sampel, misalnya hanya meneliti jumlah kambing di 5 kecamatan di kota Semarang. Dari lima kecamatan ini kemudian akan didapatkan total jumlah kambing dan kemudian dibuat rata-rata dan dikalikan dengan jumlah kecamatan di kota Semarang. 

5. Contoh 5 

Peneliti melakukan penelitian dengan objek siswa SMP di seluruh SMP swasta di kota Malang. Jumlah SMP swasta ini katakanlah ada 25 sekolah, dengan jumlah siswa mencapai puluhan ribu. Maka peneliti akan mengambil sampel hanya 5 sekolah dan bisa juga dari 5 sekolah tersebut hanya meneliti kelas VII saja. 

6. Contoh 6 

Penelitian dilakukan di perusahaan A untuk mengetahui suatu hal dari perusahaan tersebut. Jumlah karyawan di perusahaan A ada 300 orang dan akan membutuhkan waktu lama jika melakukan wawancara ke semua karyawan. Maka diambil sampel, hanya melakukan wawancara kepada 10 karyawan atau mungkin sampai 50 karyawan. 

Penjelasan detail mengenai populasi dan sampel di atas tentunya bisa memberi informasi mendetail tentang keduanya. Sehingga bisa menentukan populasi maupun sampel dengan tepat dan terasa jauh lebih mudah dari sebelumnya. 

Artikel Terkait:

Purposive Sampling

Responden Penelitian 

Contoh Variabel Terikat

Hipotesis Statistik

Teknik Pengambilan Sampel