Dalam menggunakan bahasa Indonesia, baik itu mempelajari bahasa Indonesia, mengimplementasikan bahasa Indonesia, dan menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, tentu Anda mengenal berbagai hal baru baik berupa jenis kata, jenis kalimat, dan lain sebagainya.

Tapi, banyak di antara kita yang bingung tentang istilah baru atau bahkan berbagai kata kiasan yang sering digunakan di dalam berbahasa Indonesia dan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam segi percakapan, belajar, membuat karya sastra, dan lain sebagainya.

Salah satu yang masih sering jadi pertanyaan dan membuat bingung adalah tentang majas. Dalam bahasa Indonesia sendiri, ada beberapa macam majas, salah satunya majas sindiran yang kerap digunakan dan juga kerap kita dengar dan kita baca dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana pengertian majas sindiran itu?

Pengertian Majas Sindiran Menurut Ahli

Majas sindiran merupakan salah satu jenis atau bentuk dari majas. Majas yang kita kenal biasanya digunakan sebagai unsur keindahan dan biasanya bahasa kiasan atau majas tersebut digunakan sebagai bahasa tidak langsung atau bahasa tak langsung. Gaya bahasa yang digunakan tersebut disebut sebagai majas.

Selain itu, majas juga biasanya digunakan untuk memperindah atau memberikan efek-efek tertentu pada bahasa yang digunakan, sehingga dalam menggunakan berbagai jenis majas, termasuk majas sindiran, membuat bahasa yang digunakan lebih hidup.

Setelah memahami tentang pengertian majas secara umum, kini akan dijelaskan mengenai apa itu majas sindiran. Majas sindiran merupakan gaya bahasa yang ditujukan atau digunakan untuk menyindir lawan bicara atau orang lain. Majas sindiran ini tidak selalu kasar atau vulgar, tetapi juga bisa disampaikan secara halus.

Majas sindiran juga digunakan atau dimanfaatkan sebagai frasa yang digunakan untuk menyindir atau umumnya memiliki tujuan memperkuat arti dalam bahasa yang digunakan tersebut. Misalnya seperti contoh di bawah ini.

“Makananmu enak, sampai-sampai membuat lidahku tidak bisa merasakan makanan lain.”

Contoh majas di atas pasti sering Anda dengar dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi meski mendapat kalimat pujian di awal yakni dengan “makananmu enak”, kalimat selanjutnya justru merupakan sindiran atau ejekan, yaitu “lidahku tidak bisa merasakan makanan lain”.

Maksud dari majas tersebut menjelaskan bahwa karena rasanya terlalu asin atau pedas atau kurang bumbu, sampai-sampai yang menikmati makanan tersebut merasa lidahnya tidak berasa karena rasa makanannya tidak enak. Dan masih banyak lagi contoh majas sindiran baik halus maupun vulgar yang digunakan sehari-hari.

Ciri-ciri Majas Sindiran

Karena banyaknya jenis atau beberapa jenis majas yang ada di dalam bahasa Indonesia, untuk membedakan majas tersebut merupakan majas sindiran atau majas lain, maka Anda harus memahami apa saja karakteristik atau ciri-ciri dari majas sindiran.

Di bawah ini akan dijelaskan beberapa karakteristik atau ciri-ciri dari majas sindiran sehingga Anda sebagai pembaca atau pendengar mampu membedakan yang mana majas sindiran dan yang mana majas lainnya.

1. Menyindir Seseorang

Majas sindiran biasanya bersifat menyindir seseorang. Artinya, majas ini memang diciptakan menyampaikan kritik atau ungkapan yang kurang positif pada seseorang, namun menggunakan kata atau bahasa kiasan, sehingga tidak terkesan seperti mengejek atau memojokkan.

2. Diungkapkan Secara Halus

Majas sindiran juga diungkapkan secara halus. Seperti contoh di atas, penulis atau penutur menyampaikan pujiannya terlebih dahulu meski hal tersebut merupakan kata kiasan. Mengapa demikian? Majas sindiran memang dibuat dengan tujuan tidak menyinggung orang lain.

Oleh sebab itu, majas ini dibuat dengan bahasa yang halus agar dapat diterima oleh pendengar dan tidak menyakiti hati pendengar yang terlibat komunikasi di dalamnya.

3. Mengandung Makna yang Tidak Sebenarnya

Majas sindiran mengandung makna yang tidak sebenarnya. Artinya, apa yang disampaikan pada majas tersebut belum tentu benar-benar seperti yang disampaikan karena sifatnya hanya menyindir secara halus sebagai pengingat atau bahkan hanya sebagai bahan candaan semata.

4. Memperkuat Arti di Dalam Kalimat

Terakhir, ciri-ciri atau karakteristik majas ini memiliki tujuan untuk memperkuat arti di dalam kalimat tersebut. Yang mana jika menggunakan majas sindiran, maka apa yang disampaikan akan lebih dalam dan lebih kuat daripada tidak menggunakan majas sindiran.

Macam-Macam Majas Sindiran

Sudah dipahami bahwa majas sindiran merupakan gaya bahasa yang ditujukan atau digunakan untuk menyindir lawan bicara atau orang lain, sudah diketahui pula bagaimana karakteristik atau ciri-ciri yang membedakan majas sindiran dengan majas lainnya, kini perlu juga dipahami apa saja jenis atau macam-macam majas sindiran.

Secara umum, majas tersebut dibagi menjadi lima macam, yaitu: (1) majas sindiran atau majas ironi, (2) majas sinisme, (3) majas sarkasme, (4) majas satire, dan (5) majas innuendo. Berikut penjelasannya secara rinci.

1. Majas Sindiran atau Majas Ironi

Majas sindiran atau majas ironi termasuk di dalam salah satu jenis majas sindiran. Majas ironi ini sering dikatakan sebagai salah satu bentuk dari Allusion Majas yang mana cara pengungkapan majasnya bisa disebut paling halus dibandingkan dengan Allusion Majas yang lainnya.

Gaya bahasa yang digunakan di dalam majas ironi ini mengandung unsur awalan yang awalnya meninggikan pembaca atau pendengar. Namun di akhir majas, mengandung akhiran yang menjatuhkan pembaca atau pendengar. Tentu saja ini menjadi majas yang paling halus di dalam majas sindiran.

Pemanfaatan majas ironi ini biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran halus yaitu dengan menggunakan frasa yang bertentangan dengan makna sebenarnya sehingga tidak terkesan kasar atau tidak terkesan menggurui pembaca atau pendengar kalimat majas tersebut.

2. Majas Sinisme

Majas sinisme merupakan salah satu jenis majas sindiran yang menggunakan bahasa lebih kasar dibandingkan dengan majas ironi. Di dalam majas sinisme, biasanya diartikan sebagai salah satu dari gaya bahasa sindiran yang memiliki tujuan untuk menyatakan suatu sindiran dengan menggunakan kata-kata yang kasar.

Biasanya, jenis majas sinisme ini digunakan penutur untuk mengkritik atau menghina, bahkan mencemooh berbagai hal yang ia lihat atau ia ketahui, baik itu merupakan ide, rencana, maksud, dan masih banyak lagi. Sehingga majas sinisme ini termasuk majas yang kasar dalam jenis majas sindiran.

3. Majas Sarkasme

Jenis majas sindiran yang kedua adalah majas sarkasme. Majas sarkasme sering diartikan sebagai salah satu gaya bahasa sindiran atau salah satu majas sindiran yang dalam penyampaiannya bersifat lebih kasar daripada majas ironi. Tak hanya itu, majas sarkasme biasanya juga bersifat menohok dan menyakiti.

Tentu majas ini sangat berbeda dengan majas sindiran yang lainnya, apalagi dengan majas ironi. Hal ini karena dalam penyampaian majas ironi, disampaikan lebih halus tetapi memiliki makna yang sangat dalam daripada majas sarkasme. 

Tak hanya itu, gaya bahasa yang digunakan di dalam majas sarkasme ini umumnya langsung atau to the point pada sasaran, sehingga tak ada awalan memuji agar tak menyakiti hati pembaca atau pendengarnya. Oleh sebab itu, tak heran jika majas sarkasme ini dinilai sebagai majas sindiran yang kejam atau kasar.

4. Majas Satire

Majas satire juga merupakan salah satu jenis majas sindiran. Arti dari majas satire ini merupakan gaya bahasa yang menghubungkan penggunaan majas ironi dan juga majas sarkasme di dalam majas sindiran. Biasanya, majas satire ini digunakan di dalam sebuah parodi.

Parodi yang bisa menggunakan majas satire ini misalnya dalam sebuah puisi, sebuah cerita pendek yang memiliki tujuan untuk melakukan kritikan, atau menolak suatu gagasan, atau bagaimana perilaku sosial seseorang yang bisa dikomentari. Sehingga biasanya gaya bahasa yang digunakan lebih blak-blakan.

Selain itu, majas satire ini juga biasanya disampaikan secara terang-terangan atau bisa juga disampaikan secara implisit agar sampai pada pendengar atau pembacanya.

5. Majas Innuendo

Majas innuendo merupakan jenis terakhir dari majas sindiran. Majas innuendo ini menggunakan gaya bahasa yang memiliki maksud atau tujuan mengecilkan sesuatu yang berasal dari fakta yang sebenarnya. Majas innuendo ini merupakan salah satu jenis majas sindiran tetapi yang jarang digunakan atau jarang dibahas.

Karena pada umumnya, kebanyakan orang memasukkan majas innuendo ini sebagai majas ironi. Sehingga, banyak orang mengira bahwa majas innuendo ini sama atau merupakan majas ironi di dalam majas sindiran.

33 Contoh Majas Sindiran

Beritut beberapa contoh majas sindiran yang perlu diketahui:

1. Majas Ironi

– Wah, wajahmu cantik sekali. Cantik seperti bulan yang banyak lubangnya.

– Kok wajahmu bisa glowing sekali? Saking glowing-nya sampai bisa dipakai menggoreng telur.

– Badanmu bagus sekali sekarang. Pasti makannya sehari 5 kali ya?

– Karena saking wanginya kamu hari ini, sampai-sampai hidungku seperti ditusuk-tusuk pakai jarum.

– Kamu pasti bekerja terlalu semangat ya? Pantas saja karena sampai bajumu kotor seperti sedang menjadi kuli bangunan.

– Setiap ada acara pasti kamu selalu tepat waktu. Pasti kamu naik kura-kura kan?

2. Majas Sinisme

– Percuma cantik, kalau di rumah sering bentak-bentak orang tua.

– Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi ke luar negeri kalau sama orang tua saja membantah terus.

– Kalau dari dulu aku tahu kamu pembohong, mungkin sekarang kita sudah tidak bertemu lagi.

– Sepertinya perempuan itu tidak punya otak. Sampai hati sekali memaki bawahan di depan banyak orang.

– Bagi orang dengan pendidikan tinggi sepertimu, sangat tidak pantas jika kamu melontarkan kata-kata kasar seperti tadi.

– Berhentilah berbohong! Sudah tahu kamu itu salah, masih terus berbohong. Hati-hati karma akan datang kepadamu cepat atau lambat.

Baca Juga:

3. Majas Sarkasme

– Dasar tua-tua keladi! Tidak sadar umur, masih saja sering berbohong pada pasangannya.

– Dasar tidak tahu malu! Sudah tertangkap basah berbuat salah, masih terus berkilah di hadapan pimpinan.

– Kamu itu berkepala batu ya? Sudah aku bilang jangan lagi meninggalkan dan mengabaikan tugas, tapi masih saja kamu lakukan terus-menerus.

– Hatimu sudah mati ya? Tega betul kamu memakan uang rakyat padahal kamu sudah hidup bergelimang harta.

– Dasar sampah masyarakat! Sudah tak tahu malu, masih saja terus bikin masalah.

– Aku harus muntah setiap melihat dia lewat di hadapanku.

4. Majas Satire

– Gara-gara harga minyak goreng naik, tukang gorengan ini sampai harus menggoreng dengan minyak sehitam itu.

– Wah, gaya makanmu nggak kalah dengan kucing. Rakus sekali.

– Apa aku harus menyiram kepalamu pakai air dingin agar pikiranmu tidak selalu emosi?

– Sepertinya dia kesurupan arwah jahat, sampai-sampai dia tidak sadar yang dilakukannya sungguh jahat.

– Kamu sekarang bekerja sebagai dalang ya? Sangat pandai membuat-buat cerita. Apa malah jadi sutradara?

– Badan saja yang besar, menghadapi masalah seperti ini saja kamu memilih lari dan tidak bertanggung jawab.

5. Majas Innuendo

– Jangan berlebihan deh. Bajumu cuma kena setetes makanan saja, bukan kena kotoran hewan!

– Berhentilah menangis! Air matamu itu air mata buaya.

– Kamu ini orang tua atau anak kecil? Cuma pasang lampu saja tidak mampu.

– Baru menghadapi masalah seperti ini saja kamu menyerah, bagaimana jika kamu jadi pimpinan?

– Ayolah jangan sampai diungkit-ungkit masalah yang sudah lalu. Lagipula masalah itu sudah selesai.

– Tidak perlu khawatir, sakitnya disuntik itu cuma seperti digigit semut rombongan saja kok!

Artikel Terkait: