Memahami perbedaan penulis pertama dan penulis kedua dalam karya ilmiah sangatlah penting, baik bagi mahasiswa maupun dosen. Sebab sejauh ini masih sering menjadi sumber perdebatan untuk menentukan siapa yang menjadi penulis pertama, kedua, dan seterusnya. 

Pernah mengalaminya? Hal ini lumrah, karena sesuai dengan surat edaran Dikti di tahun 2016 dijelaskan mahasiswa S1, S2, dan S3 diwajibkan mempublikasikan artikel ilmiah sebagai syarat kelulusan. Sehingga mahasiswa di tugas akhir mereka perlu menjadi penulis pertama. 

Sementara di sisi dosen, kewajiban menulis dan melakukan publikasi sebagai penulis pertama tidak kalah mendesak. Sebab menjadi syarat untuk kenaikan jabatan fungsional dan keperluan lainnya. 

Sehingga ada semacam permasalahan antara mahasiswa dan dosen untuk menentukan posisi mereka sebagai penulis ke berapa. Lalu, bagaimana sebenarnya menentukan posisi penulis pertama dan kedua tersebut? 

Apa Itu Penulis Pertama dan Kedua? 

Sebelum memahami apa saja perbedaan penulis pertama dan penulis kedua dalam karya ilmiah, maka pahami dulu apa itu penulis pertama dan penulis kedua. Penulis pertama atau author adalah penulis yang paling banyak memberi kontribusi pada karya ilmiah. 

Sedangkan penulis kedua dalam karya ilmiah adalah penulis yang memberi kontribusi lebih sedikit dalam penulisan karya ilmiah tersebut dibandingkan penulis pertama. Sehingga semakin banyak kontribusi diberikan, semakin memperkuat posisi menjadi penulis pertama. 

Ada alasan kuat kenapa seorang akademisi perlu masuk menjadi penulis pertama. Pertama, karena memang kebanyakan syarat program akademik terkait publikasi mewajibkan pengusul sebagai penulis pertama. 

Sebagai contoh, saat dosen mengajukan kenaikan jabatan fungsional lewat jalur loncat jabatan. Maka ada syarat khusus untuk menerbitkan 3 jurnal ilmiah internasional bereputasi sebagai penulis pertama dari jabfung Lektor ke Guru Besar. 

Sehingga banyak dosen yang kemudian berusaha menjadi penulis pertama untuk menambah angka kredit dan memuluskan tujuan tersebut. Kedua, nama penulis pertama yang akan masuk ke sitasi. 

Jadi, saat karya ilmiah ini dijadikan rujukan seseorang misalnya dalam menulis skripsi. Maka nama penulis pertama yang akan dicantumkan. Sehingga namanya lebih dikenal dan menjadi penulis pertama efektif meningkatkan branding akademik penulis tersebut. 

Baca Juga:

Cara Mencari Jurnal Ilmiah Indonesia dan Internasional

5 Tips Publikasi Jurnal Nasional Gratis

15 Situs Jurnal Internasional untuk Referensi Karya Ilmiah

Strategi Publikasi Jurnal Ilmiah Internasional Bereputasi

Hal-Hal yang Menentukan Posisi Penulis 

Dalam penulisan dan penerbitan karya ilmiah, maka wajib ditentukan siapa penulis pertama dan penulis keduanya. Hal ini penting untuk berbagai tujuan, seperti yang sudah dicontohkan sebelumnya. 

Sebagian besar penulis menentukan posisi penulis dalam karya ilmiah berdasarkan kesepakatan bersama. Namun, kesepakatan bersama kadang tidak bisa dilakukan karena terjadi silang pendapat. 

Solusi terbaiknya adalah dengan memperhatikan seberapa besar kontribusi masing-masing penulis. Penulis dengan kontribusi terbesar adalah yang berhak menjadi penulis pertama. 

Dalam perbedaan penulis pertama dan penulis kedua dalam karya ilmiah hal ini dijelaskan detail. Berikut hal-hal yang menjadi penentunya adalah: 

1. Inisiatif 

Poin pertama adalah inisiatif, berkaitan dengan inisiatif untuk mempublikasikan karya ilmiah. Siapa yang pertama kali berinisiatif untuk melakukan publikasi? Maka dialah yang berhak menjadi penulis pertama. Namun, perlu dilihat juga kontribusi lainnya. 

Jika hanya berkontribusi memberikan inisiatif untuk mempublikasikan karya ilmiah. Sementara sisanya adalah hasil buah pikiran dan inisiatif penulis lain, maka belum bisa masuk sebagai penulis pertama. 

2. Pengerjaan Manuskrip

Penentu kedua sekaligus yang menjadi perbedaan penulis pertama dan penulis kedua dalam karya ilmiah adalah siapa yang lebih dominan dalam mengerjakan manuskrip. 

Misalnya seorang mahasiswa yang menulis skripsi, dan kemudian strukturnya belum layak untuk diterbitkan menjadi paper. Maka dosen kemudian merubah total manuskripnya agar lebih layak, maka dosen berhak menjadi penulis pertama. 

Kecuali jika mahasiswa menerima arahan dari dosen untuk mengubah manuskrip menjadi seperti apa. Maka pengerjaan manuskrip lebih dominan ke mahasiswa. Jika diterbitkan menjadi paper, mahasiswa yang menjadi penulis pertama. 

3. Isu Utama 

Poin berikutnya yang menentukan dan sekaligus menjadi perbedaan penulis pertama dan penulis kedua dalam karya ilmiah adalah isu utama. Maksudnya adalah siapa yang memikirkan atau berinisiatif mengusung suatu isu sebagai topik penelitian? 

Jika ide ini datang dari si A maka si A ini yang berhak menjadi penulis pertama yang kemudian ditunjang dengan kontribusi lainnya. Sedangkan kontributor lain akan menjadi penulis kedua, ketiga, dan seterusnya. 

4. Tanggung Jawab Konten 

Poin berikutnya adalah yang bertanggung jawab penuh terhadap isi konten karya ilmiah. Pemilik tanggung jawab terbesar biasanya yang memiliki inisiatif dalam mengemukakan ide, melakukan penelitian langsung, menggarap manuskrip, dan lain-lain. 

Sehingga punya tanggung jawab besar untuk memastikan isinya kredibel, valid, dan tentunya bebas dari unsur plagiarisme. Jika suatu ketika isinya digugat terhadap kasus pencemaran nama baik, plagiarisme, dan lain-lain. 

Maka yang bertanggung jawab penuh terhadap kasus tersebut dan menjadi tersangka adalah penulis pertama. Hal ini tentu lumrah karena sebagai penulis pertama tentu mendapat keuntungan besar. Maka sebanding dengan tanggung jawabnya yang besar juga. 

5. Dukungan Biaya 

Berikutnya adalah yang memberi dukungan biaya terbesar, mulai dari biaya penulisan manuskrip sampai publikasinya. Jika salah satu penulis mengeluarkan biaya terbesar maka dicantumkan sebagai penulis pertama. Begitu juga sebaliknya. 

Dalam menentukan seberapa besar kontribusi penulis, biasanya sudah ditentukan sejak awal. Sehingga sejak awal sudah diketahui siapa yang menjadi penulis pertama dan penulis selanjutnya. 

Sehingga porsi kontribusi penulis pertama adalah yang terbesar mencakup semua poin yang sudah disebutkan. Hal ini memungkinkan semua pihak yang terlibat dalam penulisan karya ilmiah tersebut setuju jika si A menjadi penulis pertama. 

Semakin paham mengenai perbedaan penulis pertama dan penulis kedua dalam karya ilmiah akan memberi kemudahan dalam menentukan. Sehingga tidak ada perselisihan, karena karya tulis yang dipublikasikan sejatinya bertujuan agar dimanfaatkan masyarakat luas. Jangan sampai persoalan internal menghalangi pencapaian tujuan tersebut. 

Baca Juga:

Mengenal Unsul dalam Jurnal Index

Langkah Mudah Membuat Jurnal Bagi Dosen

Pedoman Penulisan Jurnal Ilmiah Nasional

Perbedaan Penulis Pertama dan Penulis Kedua dalam Karya Ilmiah 

Melalui penjelasan di atas, maka bisa ditarik sejumlah kesimpulan yang menunjukan perbedaan penulis pertama dan penulis kedua dalam karya ilmiah. Misalnya: 

1. Pengertian atau Definisi 

Perbedaan pertama antara penulis pertama dan penulis kedua di dalam karya ilmiah adalah dari definisi. Sesuai penjelasan sebelumnya, penulis pertama diartikan sebagai penulis dengan kontribusi terbanyak dalam penyusunan karya ilmiah. 

Sementara penulis kedua adalah penulis yang kontribusinya tidak lebih banyak atau lebih sedikit dibandingkan penulis pertama. Sehingga dari segi definisi bisa langsung dipahami perbedaan keduanya. 

2. Kontribusi pada Tulisan 

Perbedaan kedua masih berhubungan dengan poin pertama tadi. Yakni dari segi kontribusi, dimana penulis pertama kontribusinya lebih besar dibanding penulis kedua, ketiga, dan seterusnya. 

Kontribusi penulis biasanya di atas 50% atau bisa lebih dibandingkan dengan penulis lainnya. Sehingga untuk menentukan siapa yang menjadi penulis pertama akan disesuaikan dengan persentase kontribusinya seberapa besar. 

3. Poin Angka Kredit 

Perbedaan penulis pertama dan penulis kedua dalam karya ilmiah berikutnya adalah pada poin angka kredit yang didapat usai submit jurnal. Penulis pertama tentu saja mendapatkan porsi angka kredit lebih besar. 

Detailnya adalah penulis pertama mendapatkan angka kredit sebesar 60%, sedangkan untuk penulis pertama dan penulis korespondensi masing-masing 40%, dan sisa 20% diberikan kepada penulis pendamping. 

Khusus untuk karya ilmiah yang ditulis hanya penulis pertama dan penulis korespondensi maka masing-masing mendapatkan poin 50%. Sehingga dibagi separuh sama rata. 

Meskipun ada perbedaan antara penulis pertama dan kedua, memang penulis pertama lebih diuntungkan saat dilakukan sitasi. Sebab jika tulisan tersebut dijadikan rujukan maka nama penulis utama yang akan dicantumkan. Sehingga mendukung branding akademiknya. 

Namun, mengenai tanggung jawab semua penulis dalam sebuah karya ilmiah sama-sama punya tanggung jawab besar. Sama-sama bertanggung jawab memastikan isi karya tulis ilmiah bisa dipertanggung jawabkan. Artinya isinya memang benar dan valid. 

Jika dijumpai kasus, misalnya diketahui ada tindakan plagiarisme di dalam tulisan tersebut. Maka semua penulis baik penulis pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya akan menanggung akibatnya. Misalnya kena blacklist untuk penerbitan tulisan ilmiah. 

Dengan penjelasan ini, maka bisa dipahami dengan baik apa saja perbedaan penulis pertama dan kedua dalam karya ilmiah. Sebab disesuaikan dengan peran masing-masing di tulisan ilmiah tersebut. Paling ideal dalam menentukan posisi penulis tentu bukan karena kesepakatan, melainkan melihat bobot kontribusinya.

Artikel Terkait:

Skema Perhitungan Angka Kredit Dosen Terbaru

Mengenal 4 Sumber Angka Kredit Dosen

Syarat-Syarat yang Dipenuhi Dosen agar Naik Jabatan Akademik

Penilaian Poin Angka Kredit Dosen – Kuasai 3 Ketentuan

Prinsip Penilaian Angka Kredit Dosen