Teknik Menulis: Menggunakan Tanda Baca Yang Benar Bagian III

teknik menulis

Teknik menulis dengan menggunakan tanda baca yang tepat turut mengokohkan Bahasa Indonesia agar menjadi bahasa yang lebih konsisten dan berintegritas

Terpikirkah dalam benak Anda bahwa teknik menulis Bahasa Indonesia tidaklah konsisten? Contoh gampang saja, tentang peluruhan karakter K-T-S-P (KTSP). Peluruhan karakter KTSP termasuk yang paling tidak konsisten daripada yang lain. Bagaimana tidak? Coba bandingkan kata mengkaji dengan mengaji, pasti tentunya beda makna. Secara harifiah, mengaji diartikan sebagai kegiatan sebagian umat (baca: muslim) dalam mempelajari kitab sucinya. Sedangkan, mengkaji bermakna kurang lebih sama-sama mempelajari ilmu, tetapi terlepas dari embel-embel agama. Tentunya, hal ini dapat menyebabkan orang-orang terpaku pada kebingungan penggunaan kata.

Terkadang, menyisipkan nilai-nilai agama ke dalam makna kata dalam bahasa, dapat menggangu konsistensi bahasa itu sendiri. Tidak bermaksud menyalahkan nilai-nilai agama, tetapi terkadang kita harus konsisten menggunakan bahasa agar tidak merusak esensi bahasa yang kita gunakan. Pada hakikatnya, bahasa memudahkan kita untuk berkomunikasi, bukan malah membuat kita semakin bingung. Untuk itu kita harus konsisten dalam penggunaan bahasa beserta segala aspek didalamnya, termasuk penyusunan kalimat, pemilihan kata, logika bahasa, hingga – yang terkecil – pengunaan tanda baca.

Pada bagian terakhir ini kita akan membahas 8 (delapan) tanda baca beserta penggunaanya untuk teknik menulis. Tanda baca tersebut adalah tanda tanya (?) tanda seru (!), tanda kurung ((…)), tanda kurung siku ([…]), tanda petik(“…”), tanda petik tunggal (‘…’), tanda garis miring (/), dan tanda aprostof (‘). Mirip dengan kasus sebelumnya, tanda baca ini seringkali disalahgunakan. Contohnya seperti; menggunakan tanda tanya kepada kalimat biasa (walau mengandung kata tanya), sampai menggunakan tanda baca petik yang kurang tepat. Berikut penjelasan tentang delapan tanda baca tersebut beserta kegunaannya:

Tanda Tanya (?)

  1. Tanda tanya digunakan pada akhir kalimat tanya ataupun prasa yang bertujuan untuk menyanyakan sesuatu. Contohnya:

– Sejak kapan mereka pergi ke Semarang?
– Kamu tahu, engga?
– Ada apa?
– Pak Winarna bukan, sih?
Tanda tanya TIDAK digunakan dalam kalimat tanya yang berubah menjadi penjelas, seperti:
– Dian masih tidak tahu mengapa gurunya selalu memberikan nilai yang jelek kepadanya.
– Budi paham bagaimana cara mengoperasikan komputer dengan sistem operasi LINUX.

  1. Tanda tanya digunakan dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Contohnya:

– Bumi tetap berbentuk bulat walau tanpa atmosfer (?)
– Agung lahir di tahun 1995 (?)
– Total tabungan Andi ada 400 juta rupiah (?)

Tanda Seru (!)

  1. Tanda seru digunakan pada kalimat seruan atau perintah, baik perintah keras maupun tidak. Contohnya:

– Tolong tutup jendala itu!
– Kerjakan essay ini dalam waktu kurang dari 15 menit!

  1. Tanda seru digunakan pada kalimat yang memuat ekspresi kaget, kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat. Contohnya:

– Astaga! Tinggal seminggu lagi kah?
– Solidaritas tanpa batas, salam integritas!
– Aih, berhentilah merengek seperti itu!

Tanda Kurung ((…))

  1. Tanda kurung digunakan untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan, yang biasa digunakan untuk menjelaskan abreviasi. Contohnya:

– Kementrian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek dikti) telah menyelenggarakan Progam Hibah Bina Desa (PHBD) semenjak bulan lalu.
– Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengajukan kebijakan yang terlalu mementingan masalah pribadi.

  1. Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. Contohnya:

– Novel “The Great Gatsby” (salah satu novel terkenal era revolusi industri) terbit dan dicetak dalam berbagai versi.
– Bukti tersebut (lihat halaman 109) mendukung pernyataan KHA Dahlan terhadap bid’ah dalam ibadah yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat muslim saat itu.

  1. Tanda kurung digunakan untuk mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan. Contohnya:

– Kata aggression diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi agresi (an).
– Pendaki amatiran tidak diperkenankan untuk mendaki sampai (puncak) Mahameru.

  1. Tanda kurung digunakan untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan. Contohnya:

– Kecerdasan sejati ditentukan oleh penguasaan (a) IQ, (b) EQ, dan (c) SQ.

Tanda Kurung Siku ([ … ])

  1. Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit huruf, kata, atau kelompook kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli. Contohnya:

– Mahasiswa juga wajib berperan dalam pemberdaya[a]n masyarakat secara berintegritas.
– Dalam jurnal yang ditulis oleh Tim Kuscz[s]cak, terdapat kesalahan dalam logika penulisan.

  1. Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung. Contohnya:

– Persamaan dari metode pembelajaran itu (perbedaannya [lihat halaman 20-23] begitu signifikan) memberikan output yang kurang lebih tetap sama dengan tujuan awal.

Tanda Petik (“…”)

  1. Tanda petik digunakan untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Contohnya:

– “Saya belum siap,” Kata Ahmad, “Lima menit lagi!”
– Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia.”

  1. Tanda petik digunaka untuk mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Contohnya:

– Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
– Karangan Putra Setiawan yang berjudul “Peran BEM Terhadap Kehidupan Mahasiswa” telah diterbitkan di surat kabar Kedaulatan Rakyat sebagai tema besar halaman swarakampus.

  1. Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Contohnya:

– Model itu melenggang dengan celana kuno yang dikenal sebagai “cubrai”.
– Dalam istilah asing, keadaan semacam inilah yang disebut sebagai “jeopardy”.

  1. Tanda petik juga digunakan sebagai tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda pentik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat. Contohnya:

– Michael Gerard “Mike” Tyson adalah satu dari sekian ikon terkenal dunia yang menjadi mualaf.
– Karena mata sipit dan kulit kuning langsatnya, Fatima kerap dipanggil “Cacik” oleh para pedagang pasar.
– Rhendy sering menjadi “pengacau” dalam setiap kegiatan keorganisasian.

Tanda Petik Tunggal (‘ … ‘)

  1. Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. Teknik menulis, contohnya:

– Tanya Melia, “Kau denggar bunyi ‘ngiung-ngiung’ tadi kah?”
– “Waktu membuka pintu depan, kudengar teriak anakku ‘Bapak sudah pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Bapak Santoso

  1. Tanda petik tunggal dalam teknik menulis digunakan untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata ungkapan asing. Contohnya:

– rate of inflation ‘laju inflasi’
– feedback ‘umpan balik’
– shut down ‘nonaktif’

Tanda Garis Miring (/)

  1. Tanda garis miring dalam teknik menulis dipakai dalam nomor surat dan nomor pada kalimat dan penandaan masa tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. Contohnya:

– No. 036/Kep/DIKTI/2002
– Ngadiwinatan NG I/1095
– Tahun Ajaran 2015/2016

  1. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, atau Contohnya:

– pria/wanita
– harga permen itu Rp500,00/butir
– hal tersebut sangat dilarang/wajib dihindari dalam pembuatan skripsi.

Tanda Apostrof (‘)

  1. Tanda penyingkat atau apostrof digunakan untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau kata atau bagian angka tahun. Contohnya:

– Jono ‘lah orang yang menyelamatmu (‘lah = adalah)
– 29 Februari ’16 (’16 = 2016)

  1. Tanda apostrofi dalam teknik menulis juga terkadang digunakan dalam penulisan nama ataupun kata khusus serta serapan bahasa asing. Contohnya:

– Rifan Syafi’i (bukan ‘Syafi i’ atau ‘Syafii’)
– Surat Al-An’am (bukan Al-An am atau Al-Anam)

Jadillah penulis yang ‘peka’! Menjadi penulis yang ‘peka’ tidak akan pernah ada ruginya. Seorang penulis yang peka terhadap hal terkecil sekalipun adalah penulis yang memiliki tingkat kepedulian sangat tinggi. Tidak begitu terlihat memang, tetapi jika kita dapat memerhatikan hal terkecil sekalipun. Juga, dalam kasus ini, penulis yang ‘peka’ adalah ia yang turut serta untuk menjaga konsistensi segala aspek bahasa. Maka dari itu, jangan pernah berhenti belajar untuk menjadi lebih peka.

Penulis disini hanya mencoba berbagi apa yang penulis pahami. Jadi, bila ada kesalahan dan sebagainya, jangan sungkan untuk memberi saya koreksi. Selamat menulis buku dan semoga bermanfaat!

Referensi:

  1. Dwiloka, Bambang dan Rati Riana. 2002. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Edisi Revisi 2012. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
  2. https://tunas63.wordpress.com/2008/10/26/pemakaian-tanda-tanya-dan-tanda-seru/ diakses pada 16 Juni 2016 pada pukul 11.00 WIB
  3. http://evamirawati.blogspot.co.id/2014/03/perbedaan-antara-tanda-kurung-dan-tanda.html diakses pada 16 Juni 2016 pada pukul 11.02 WIB
  4. http://pelitaku.sabda.org/tanda_petik_dan_tanda_petik_tunggal diakses pada hari Kamis 16 Juni 2016 pada pukul 11.10 WIB
  5. http://bahasaindonesiaonii.blogspot.co.id/2012/12/pemakaian-tanda-garis-miring.html diakses Kamis 16 Juni 2016 pada pukul 11.11 WIB

[Mas Aji Gustiawan]

 

 

 

Anda punya RENCANA MENULIS BUKU

atau NASKAH SIAP CETAK?

Silakan daftarkan diri Anda sebagai penulis di penerbit buku kami.

Anda juga bisa KONSULTASI dengan Customer Care yang siap membantu Anda sampai buku Anda diterbitkan.

Anda TAK PERLU RAGU untuk segera MENDAFTAR.

Silakan ISI FORM di laman ini. 🙂



This post has been seen 865 times.
(Visited 147 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *