Promo Terbatas! ⚠️

Cetak buku diskon 35%, bonus tambahan eksemplar dan gratis ongkir se-Indonesia, MAU? Ambil diskon di sini!

Kata Gabungan: Pengertian, Jenis, dan Contoh Lengkap

kata gabungan

Ada berbagai ragam kata di dalam tata bahasa Indonesia yang sudah dikenal. Salah satu ragam kata tersebut adalah kata gabungan. Kata gabungan sering ditemukan saat membentuk atau menyusun kalimat. Meski sering digunakan dan dibaca, kata gabungan ini masih kerap salah dalam penggunaannya. 

Dalam menulis kata gabungan, Anda harus memenuhi ketentuan penulisannya dan sesuai dengan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) yang berlaku. Untuk itu, kata gabungan memang harus ditulis dengan tepat dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Kata gabungan ini juga biasa dikenal sebagai pemajemukan kata.

Pengertian Kata Gabungan

Kata gabungan atau gabungan kata merupakan kata majemuk yang terdiri dari sejumlah kata yang digabungkan dan membentuk makna baru. Berdasarkan pengertian secara umum, kata gabungan adalah penyusunan dari kata berbeda yang umumnya terdiri dari dua kata sesuai dengan kaidah yang diatur di dalam PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).

Berdasarkan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia), kata gabung bisa ditulis terpisah atau bersambung. Bahkan kata gabung juga bisa berbentuk penulisan kata gabungan yang harus diberi tanda hubung agar tidak menimbulkan salah persepsi. Dari gabungan kata itulah, kata gabung nantinya akan membentuk suatu makna baru.

Sementara itu, menurut Rahma Barokah dalam bukunya ‘Berpikir Cerdas dengan Bahasa Indonesia’ (2021), kata gabungan adalah gabungan dari morfem dasar yang mana seluruhnya memiliki status sebagai kata dengan pola fonologis, gramatikal, dan serta semantis yang khusus dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Kata gabungan juga bisa dimaknai ketika suatu kata terdiri atas kata awalan dan diberi akhiran. Oleh sebab itu, hampir seluruh bentuk kata gabungan memiliki awalan dan akhiran, dan beberapa penulisannya juga diberi tanda hubung (-).

Kata gabungan selain dapat membentuk makna baru juga dapat membentuk kata, kata majemuk, dan frasa. Kata gabungan merupakan gabungan kata yang membentuk kata yang meliputi gabungan kata dengan bentuk terikat dan kata dasar. Misalnya; pra + sejarah yang menjadi prasejarah, swa + layan yang menjadi swalayan, dan lain sebagainya.

Ada pula kata gabungan lain yang membentuk kata majemuk dari gabungan kata antara kata dasar dengan kata dasar yang kemudian memberi makna baru. Contohnya adalah; rumah sakit, meja makan, buku tulis, tepuk tangan, anak emas, dan lain sebagainya. Sementara itu, ada pula kata gabungan yang berupa frasa.

Kata gabungan atau gabungan kata yang berbentuk frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang tidak bersifat predikatif, misalnya; gunung tinggi, rambut panjang, bubur ayam, nasi goreng, rumah mewah, kue susu, dan lain sebagainya.

Baca Juga:

Pengertian Akronim, Jenis-Jenis dan Contoh Lengkap

Perbedaan Singkatan dan Akronim

Kesalahan Penggunaan Ejaan 

Kesalahan Penggunaan Tanda Baca

Kesalahan Penggunaan Kalimat Efektif

Kesalahan Penggunaan Huruf Miring

Kesalahan Penggunaan Huruf Kapital

Unsur Kata Gabungan

Setelah memahami mengenai pengertian kata gabungan, kini Anda juga perlu memahami apa saja unsur-unsur yang terdapat di dalam kata gabungan atau gabungan kata. Berikut akan dijelaskan mengenai unsur-unsur yang membangun kata gabungan berdasarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Ada tiga unsur penting dari kata gabungan menurut Kemendikbud.

1. Gabungan kata dapat membentuk kata

Seperti yang sudah dijelaskan di pengertian di atas, unsur kata gabungan yang pertama adalah gabungan kata dapat membentuk kata. Artinya kata gabungan tersebut terdiri atas gabungan antara kata bentuk terikat dengan kata dasar.

Contohnya:

– ekstra + kurikuler: ekstrakurikuler

– pra + sejarah: prasejarah

– pasca + sarjana: pascasarjana

2. Gabungan kata yang membentuk kata majemuk

Unsur kata gabungan yang kedua adalah gabungan kata yang membentuk kata majemuk. Artinya gabungan antara kata dasar dengan kata dasar yang membentuk makna baru.

Contohnya:

– rumah sakit

– meja makan

– buku tulis

– anak emas

– tepung tangan

3. Gabungan kata yang membentuk frasa

Unsur kata gabungan yang terakhir adalah gabungan dua atau lebih kata yang memiliki sifat tidak predikatif.

Contohnya:

– rambut panjang

– gunung tinggi

– rumah luas

– taman kotor

Jenis Kata Gabungan

Selain memiliki unsur, kata gabungan juga memiliki beberapa jenis. Secara keseluruhan, jenis kata gabungan dibagi menjadi dua, yaitu kata gabungan berdasarkan distribusi dan kata gabungan berdasarkan kategori.

1. Kata Gabungan Distribusi

Kata gabungan distribusi dibagi lagi menjadi dua jenis:

a. Gabungan kata eksosentris

Gabungan kata eksosentris adalah bentuk kata gabungan yang tidak memiliki inti frasa yang biasanya dicirikan dengan pemakaian kata depan atau preposisi.

Contohnya:

– ke alun-alunan

– tahun kabisat

b. Gabungan kata endosentris

Gabungan kata endosentris memiliki inti kata gabungan yang disebut frasa endosentris dan dibedakan menjadi empat, yaitu:

– Gabungan kata koordinatif. Yaitu terdiri dari unsur-unsur setara yang di antara unsur-unsur tersebut dapat disisipi kata ‘dan’ serta ‘atau’.

Contoh:

Gula semut: gula dan semut

Keluar masuk: keluar atau masuk

– Gabungan kata atributif. Yaitu terdiri dari unsur-unsur tidak setara yang dalam hal ini bisa disisipi kata ‘yang’, ‘tentang’, atau ‘untuk’.

Contoh:

Anak manis: anak yang manis

Buku petunjuk: buku untuk petunjuk

– Gabungan kata aposisi. Yaitu yang terdiri dari unsur atributif yang berupa keterangan tambahan.

Contoh:

– Kevin, pebulutangkis nasional

– Joko, ayah Rani

2. Kata Gabungan Kategori

Kata gabungan berdasarkan kategori dibedakan menjadi lima:

a. Kata gabungan nominal. Adalah kata berinduk satu yang induknya berupa kata benda atau nomina dan modifikatornya berupa nomina, verba, atau adjektiva yang disebut frasa nominal.

Contohnya: lantai rumah, kamar tidur, tembok tinggi.

b. Kata gabungan adjektiva. Adalah kata berinduk satu yang induknya berupa kata kerja atau verba dan modifikatornya berupa partikel modal atau yang disebut sebagai frasa verbal.

Contohnya: sangat kuat, terlalu keras.

c. Kata gabungan adverbial. Adalah kata berinduk satu yang induknya berupa keterangan adverbia dan modifikatornya berupa adverbial lain atau partikel yang disebut frasa adverbial.

Contoh: dengan senang, kurang lebih.

d. Kata gabungan preposisional. Adalah kata berinduk satu yang induknya berupa kata depan atau preposisi dan modifikatornya berupa nomina yang disebut frasa preposisional.

Contohnya: ke kantor, ke gunung, di sini, di lemari.

e. Kata gabungan verbal. Adalah kata berinduk satu yang induknya berupa kata kerja atau verba dan modifikatornya berupa partikel modal yang disebut frasa verbal.

Contoh: sudah datang, telah pergi.

Baca Juga:

Rapi atau Rapih?

Jenis-Jenis Majas dan Contohnya

Jenis-Jenis Paragraf dan Contohnya

Jenis-Jenis Font dan Contohnya

Jenis-Jenis Kertas dan Contohnya

Tata Cara Penulisan Kata Gabungan

Untuk dapat menulis kata gabungan, tentu ada tata cara agar penulisannya sesuai dengan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Bagaimana tata cara penulisannya? Berikut akan dijelaskan 5 tata cara penulisan kata gabungan yang sesuai dengan kaidah?

1. Gabungan kata yang terdiri dari kata majemuk atau istilah khusus harus dipisah

Tata cara yakni gabungan kata yang terdiri dari kata majemuk atau istilah khusus harus dipisah ini hanya digunakan untuk penulisan kata gabungan yang berupa kata majemuk atau istilah khusus saja. Jika kontens kata yang digabungkan terdiri dari dua bentuk kata tersebut, maka wajib ditulis secara terpisah.

Contoh penulisan gabungan kata yang terdiri dari kata majemuk atau istilah khusus harus dipisah adalah: orang tua, meja tulis, anak ayam, kambing hitam, buah tangan, mata acara, simpang empat, duta besar, dan lain sebagainya.

2. Gabungan kata yang berpotensi menimbulkan salah persepsi wajib ditulis dengan tanda penghubung

Berbeda dengan gabungan kata yang terdiri dari kata majemuk atau istilah khusus harus dipisah, gabungan kata yang berpotensi menimbulkan salah persepsi wajib ditulis dengan tanda hubung ini biasanya memang rata-rata menimbulkan salah persepsi ketika dibaca orang. Oleh sebab itu, penulisan gabungan kata ini wajib ditulis menggunakan tanda penghubung (-).

Contoh penulisan gabungan kata yang berpotensi menimbulkan salah persepsi wajib ditulis dengan tanda penghubung adalah:

Anak-istri petinggi negara itu hadir di acara tepat waktu

(Anak-istri yang dimaksud adalah anak dan istri)

Anak istri-pejabat itu menggunakan barang branded yang menyita perhatian masyarakat

(Anak istri-pejabat yang dimaksud adalah anak dari seorang istri pejabat)

Ibu-bapak anak itu sedang berada di luar kota selama beberapa hari

(Ibu-bapak yang dimaksud adalah ibu dan bapak dari anak itu)

– Tante adalah adik ibu-saya

(Adik ibu-saya yang dimaksud adalah adik dari ibu saya)

3. Gabungan kata ditulis terpisah meskipun diberi sebuah imbuhan pada awal atau akhir kata

Untuk gabungan kata yang memiliki imbuhan, biasanya penulisannya yang benar adalah dengan memisahkan kedua kata tersebut. Dalam konteks ini, imbuhan yang dimaksud adalah imbuhan awal atau prefiks atau imbuhan akhiran atau sufiks.

Contoh penulisan gabungan kata ditulis terpisah meskipun diberi sebuah imbuhan pada awal atau akhir kata adalah: 

– Para wali murid bertepuk tangan setelah menyaksikan penampilan anak-anaknya di atas panggung.

(Gabungan kata berimbuhan yakni: bertepuk tangan dengan imbuhan ber- dan gabungan katanya: tepuk tangan)

– Kepala sekolah berterima kasih atas kontribusi para alumni untuk melancarkan acara pentas seni di SMA N 65 Jakarta.

(Gabungan kata berimbuhan yakni: berterima kasih dengan imbuhan ber– dan gabungan katanya: terima kasih)

4. Gabungan kata ditulis secara serangkai jika imbuhan yang dibubuhkan adalah awalan sekaligus akhiran atau konfiks

Cara penulisan kata gabungan yang ditulis secara serangkai jika imbuhan yang dibubuhkan adalah awalan sekaligus akhiran atau konfiks ini dapat dibilang sebagai kebalikan dari cara penulisan sebelumnya. Yang mana, kata gabungan ini harus ditulis serangkai karena memiliki imbuhan di depan dan di belakang kata atau di awal dan di akhir kata.

Contoh kata gabungan yang ditulis secara serangkai jika imbuhan yang dibubuhkan adalah awalan sekaligus akhiran atau konfiks adalah:

– Ketua RT setempat telah menandatangani surat kesepakatan warga yang meminta diberi fasilitas sampah umum.

(Gabungan kata berimbuhan yakni: menandatangani dengan imbuhan men- dan -i dan kata gabungannya: tanda tangan)

– Pria itu telah dimintai pertanggungjawaban atas kasus tabrak lari yang dilakukannya beberapa minggu silam.

(Gabungan kata berimbuhan yakni: pertanggungjawaban dengan imbuhan per- dan –an dan kata gabungannya: tanggung jawab)

5. Gabungan kata yang sudah padu mesti ditulis secara serangkai

Berbeda dengan gabungan kata yang ditulis secara serangkai jika imbuhan yang dibubuhkan adalah awalan sekaligus akhiran atau konfiks, gabungan kata yang sudah padu ini merupakan tata cara penulisan gabungan kata yang terakhir dilakukan jika gabungan kata terbentuk oleh kata dasar dan kata bentuk terikat, misalnya; adi-, multi-, anti- dan lain sebagainya.

Contoh gabungan kata yang sudah padu misalnya:

– adikuasa: terdiri dari kata dengan bentuk terikat adi + dan kata dasar kuasa.

– antikritik: terdiri dari kata dengan bentuk terikat anti + dan kata dasar kritik.

– olahraga: terdiri dari kata dengan bentuk terikat olah + dan kata dasar raga.

Contoh Kata Gabungan dalam Kalimat

1. Gabungan kata yang terdiri dari kata majemuk atau istilah khusus harus dipisah

Meja belajar itu sengaja ditaruh di sudut ruangan dengan tujuan agar ruangan tersebut terlihat semakin luas.

(Gabungan kata yang berupa kata majemuk: meja belajar)

– Setelah dihalangi restu oleh keluarga, pasangan itu akhirnya melangsungkan nikah siri.

(Gabungan kata yang berupa istilah khusus: nikah siri)

2. Gabungan kata yang berpotensi menimbulkan salah persepsi wajib ditulis dengan tanda penghubung

Keluarga bapak-saya sudah tiba di rumah nenek sejak dua hari yang lalu.

(Gabungan kata yang dipisahkan yakni keluarga bapak-saya artinya keluarga dari bapak saya)

Anak-istri laki-laki itu sengaja menunggu kedatangannya sejak beberapa waktu lalu.

(Gabungan kata yang dipisahkan yakni anak-istri laki-laki itu artinya anak dan istri dari laki-laki itu)

3. Gabungan kata ditulis terpisah meskipun diberi sebuah imbuhan pada awal atau akhir kata

– Kepala desa sudah datang tadi pagi dan diminta segera tanda tangani laporan akhir tahunan yang sudah menumpuk.

(Gabungan kata yang salah satunya berimbuhan akhiran: tanda tangani, dengan imbuhan di akhir yaitu -i dan kata gabung tanda tangan)

– Kami sekeluarga berterima kasih atas kehadiran seluruh tamu undangan di acara pernikahan anak kami.

(Gabungan kata yang salah satunya berimbuhan awalan: berterima kasih, dengan imbuhan di awal ber- dan kata gabung terima kasih)

4. Gabungan kata ditulis secara serangkai jika imbuhan yang dibubuhkan adalah awalan sekaligus akhiran atau konfiks

– Semua yang sudah dilakukan harus dipertanggungjawabkan di meja hijau

(Gabungan kata yang berimbuhan awalan dan akhiran yakni: dipertanggungjawabkan, dengan imbuhan di- dan -kan, dengan kata gabung tanggung jawab)

– Poin yang telah diungkapkan hari ini harus digarisbawahi dan tidak boleh dilanggar lagi.

(Kata gabungan yang berimbuhan awalan dan akhiran yakni: digarisbawahi, dengan imbuhan di- dan -i, dengan kata gabung garis bawah)

5. Gabungan kata yang sudah padu mesti ditulis secara serangkai

– Negara adikuasa tersebut sudah kembali meminta masyarakatnya untuk membayar denda karena telah melanggar ketentuan

(Kata gabungan yang padu adalah adikuasa)

Baca Juga: 

300+ Kata Baku dan Tidak Baku 

Penggunaan Kata Di yang Benar 

Kesalahan Penulisan Kata Baku 

Jenis-Jenis Pronomina dan Contohnya 

Jenis-Jenis Nomina dan Contohnya

FAQ Seputar Kata Gabungan

Bagaimana Penulisan Kata Gabungan?

Ada lima tata cara penulisan kata gabungan:
– Gabungan kata yang terdiri dari kata majemuk atau istilah khusus harus dipisah
– Gabungan kata yang berpotensi menimbulkan salah persepsi wajib ditulis dengan tanda penghubung
– Gabungan kata ditulis terpisah meskipun diberi sebuah imbuhan pada awal atau akhir kata
– Gabungan kata ditulis secara serangkai jika imbuhan yang dibubuhkan adalah awalan sekaligus akhiran atau konfiks
– Gabungan kata yang sudah padu mesti ditulis secara serangkai

Apa Contoh Kata Majemuk?

Beberapa contoh kata majemuk, misalnya: akad nikah, anak tiri, aneka warna, banting tulang, bantal guling, gerak gerik, hak milik, hak waris, luluh lantak, lintah darah, roda kehidupan, raja minyak, suami istri, tahan banting, mana mungkin, masa bodoh, uang jalan, yatim piatu, dan lain sebagainya.

Bagaimana Ketentuan Penulisan Kata Ulang dan Kata Gabungan?

1. Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung di antara unsur-unsurnya: anak-anak, biri-biri, buku-buku, hati-hati, kupu-kupu, lauk-pauk, ramah-tamah, sayur-mayur, terus-menerus, dan lain sebagainya.
2. Bentuk ulang kata gabungan yang awalan dan akhiran ditulis serangkai dengan bentuk ulang, misalnya: kekanak-kanakan, dibesar-besarkan, berlari-larian, memata-matai, dan lainnya.

Bagaimana Cara Menuliskan Imbuhan?

Imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasar. Misalnya: bergetar, dikelola, dimiliki, diletakkan, dan lain-lain.

Artikel Terkait:

Kata Imbuhan: Jenis-Jenis dan Contohnya

Kata Majemuk: Jenis-Jenis dan Contohnya

Kata Ulang: Jenis-Jenis dan Contohnya

Kata Hubung: Jenis-Jenis dan Contohnya

Kata Kerja: Jenis-Jenis dan Contohnya

Kata Turunan: Jenis-Jenis dan Contohnya

Kata Serapan: Jenis-Jenis dan Contohnya

Kata Baku: Jenis-Jenis dan Contohnya

Mau menulis tapi waktu Anda terbatas?

Gunakan saja Layanan Parafrase Konversi!

Cukup siapkan naskah penelitian (skripsi, tesis, disertasi, artikel ilmiah atau naskah lainnya), kami akan mengonversikan jadi buku yang berpeluang memperoleh nomor ISBN!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dapatkan informasi terbaru dari kami seputar promo spesial dan event yang akan datang

logo deepublish

Penerbit Deepublish adalah penerbit buku yang memfokuskan penerbitannya dalam bidang pendidikan, pernah meraih penghargaan sebagai Penerbit Terbaik pada Tahun 2017 oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI).

Kritik/Saran Pelayanan  : 0811-  2846 – 130

Alamat Kantor

Jl.Rajawali G. Elang 6 No 3 RT/RW 005/033, Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, D.I Yogyakarta 55581

Telp/Fax kantor : (0274) 283-6082

E1 Marketing : [email protected]
E2 Marketing : [email protected]

© 2024 All rights reserved | Penerbit Buku Deepublish - CV. Budi Utama